Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Sinau Srawung

Woko Utoro  Ada istilah "srawung hamengku ono" atau bahasa sederhananya bersosial maka kamu ada. Tentu srawung di sini bisa bermakna bertemu, silaturahmi, kebersamaan, diskusi dll. Siapa saja boleh mengartikan srawung demikian tapi yang jelas maknanya bisa terbagi menjadi dua. Pertama, secara jasadi srawung berarti pertemuan dua orang atau lebih dalam sebuah majelis. Kedua, terkoneksinya seseorang dengan makna srawung itu sendiri. Bagi orang introvert atau yang menyukai kenyamanan, keheningan dan kesendirian tentu makna srawung pertama tidak cocok. Sebab srawung dalam arti fisik akan sangat kesulitan bagi mereka yang tak terbiasa. Tapi bagi orang yang terbiasa atau membiasakan diri pertemuan adalah ladang pengetahuan. Jika memakai srawung dalam arti kedua niscaya siapa saja bisa menggunakannya. Srawung kedua lebih bermakna batiniah. Artinya selain meminta pertemuan fisik juga sekaligus menanam koneksi lebih dalam. Dalam bahasa sederhana apa guna pertemuan di satu ...

Mbah Ridho dan Kisah-kisah Kehidupan

Woko Utoro  Saya selalu punya kesan mendalam ketika sowan ke ndalem Pak Ridho Al Qadri. Sudah lama sekali mungkin sekitar setahun lebih saya tidak berkunjung ke sana. Sampai saat ini anak-anak beliau sudah besar dan rumahnya juga berpindah. Waktu berjalan begitu cepat dan Alhamdulillah saya bersama istri bisa kembali ke sana. Malam itu lepas shalat isya kita langsung bertolak ke Pucung Kidul arah Sanggrahan atau beberapa meter dekat Goa Selomanggleng. Kami berbincang hangat dan tak lupa secangkir kopi telah tersaji nikmati. Kami mendapatkan wejangan yang luar biasa terutama tentang kehidupan. Pertama, istri saya diminta agar saya tetap berpikir positif, jangan rendah diri dan optimisme. Pesan tersebut memang sangat cocok sekali buat saya yang sering nampak berkeluh kesah. Kedua, kalian itu tidak memiliki tanah air di Tulungagung. Jadi bagaimana sekarang berpikir untuk bekerja lebih keras. Setelah itu berusaha untuk investasi tanah. Karena bagaimanapun hidup itu dinamis ...

Amal Shaleh

Woko Utoro  Saya senang ketika Mbah Nun bilang bahwa amal shaleh itu kerja keras. Dari Mbah Nun lah saya belajar bahwa amal shaleh tidak selalu berkaitan dengan ritual keagamaan. Bahkan bekerja itu juga bagian dari agama. Hanya saja di dunia materi yang serba kompetitif kita sering terjebak oleh kalangan motivator. Bukan saya benci motivator tapi seringkali saya skip ketika ada kata-kata mutiara dari mulut mereka. Terutama banyak konten berkaitan kesuksesan usaha maka saya jarang menonton. Alasannya sederhana terkadang para motivator tersebut tidak relate dengan fakta di lapangan. Mereka dengan mudah memperlihatkan hasil tanpa tahu di balik layar. Bahwa keberhasilan selalu tidak gratis. Bahwa kesuksesan selalu dibayar oleh perjuangan nan gigih. Inilah sebabnya saya setuju dengan Mbah Nun bahwa kerja keraslah dan itu adalah jendela kesuksesan. Mbah Nun sering dawuh bahwa tidak peduli apa pekerjaan kita. Selama itu baik, halal dan bermanfaat maka perjuangkanlah. Bagi Mbah...