Woko Utoro
Saya selalu punya kesan mendalam ketika sowan ke ndalem Pak Ridho Al Qadri. Sudah lama sekali mungkin sekitar setahun lebih saya tidak berkunjung ke sana. Sampai saat ini anak-anak beliau sudah besar dan rumahnya juga berpindah. Waktu berjalan begitu cepat dan Alhamdulillah saya bersama istri bisa kembali ke sana.
Malam itu lepas shalat isya kita langsung bertolak ke Pucung Kidul arah Sanggrahan atau beberapa meter dekat Goa Selomanggleng. Kami berbincang hangat dan tak lupa secangkir kopi telah tersaji nikmati. Kami mendapatkan wejangan yang luar biasa terutama tentang kehidupan. Pertama, istri saya diminta agar saya tetap berpikir positif, jangan rendah diri dan optimisme. Pesan tersebut memang sangat cocok sekali buat saya yang sering nampak berkeluh kesah.
Kedua, kalian itu tidak memiliki tanah air di Tulungagung. Jadi bagaimana sekarang berpikir untuk bekerja lebih keras. Setelah itu berusaha untuk investasi tanah. Karena bagaimanapun hidup itu dinamis sehingga kita juga berpikir tentang hari esok. Mengapa tanah? karena ibarat benda, tanah itu jimat alias harta pusaka. Dan jangan sampai bermain-main dengan tanah.
Misalnya banyak contoh orang yang kuwalat akibat bermain-main dengan tanah warisan. Maka jika demikian lepaskan saja dan jangan jadi beban. Bagaimanapun juga tanah bisa menghidupkan sekaligus menenggelamkan.
Ketiga, kebenaran atau kebaikan itu harus diakui. Dalam bahasa sederhananya harus diapresiasi. Karena bagaimanapun juga hal itu tidak mudah. Kita sejak awal sudah berjuang untuk bertahan, menjadi lebih baik dan tidak menyusahkan orang lain.
Keempat, kalian perlu mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan. Hidup di manapun harus diap dengan segala kondisi. Baik di negeri orang atau misalnya di rumah sendiri. Karena hidup itu selalu menyuguhkan permasalahan yang perlu dipecahkan. Apa dikira satu masalah usai akan selesai? tidak. Pastinya akan ada masalah lainnya yang siap datang menunggu di selesaikan.
Kelima, mulai saat ini harus berpikir dewasa. Saya harus bangga memiliki istri dan istri saya harus mendukung atas apa yang kita rencanakan. Kita harus kompak dan tidak boleh memutuskan sesuatu berdasarkan emosi sesaat. Ingat kita memiliki logika dan nurani untuk dimintai petunjuk. Kita punya guru dan lebih lagi punya Allah SWT.
Keenam, hidup di manapun prinsipnya srawung. Prinsipnya yang ada pekerjaan. Jangan sampai kita bondo nekat. Karena segala sesuatu ada takaran dan ukurannya. Tidak juga mempertahankan sesuatu yang sebenarnya layak untuk dilepaskan. Artinya semua harus enjoy saja dan jangan takut. Semua pasti ada jalannya. Jangan lupa banyak bersyukur atas pencapaian hari ini.[]
the woks institute l rumah peradaban 25/01/26
Komentar
Posting Komentar