Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Seni Berkabar

Woko Utoro Dalam sesi diskusi bersama Kompas com Mbah Jiwo Tejo berkisah ada seorang anak gadis mungkin usianya masih remaja SMP. Si anak perempuan itu memasuki sebuah club malam. Entah apa yang dia lakukan di sana. Yang jelas ia pulang larut malam. Ketika hendak pulang ia menelepon ibunya untuk minta dijemput. Singkat kisah sang ibu pun menjemput anak gadisnya. Dalam hati kecil anak gadis itu berharap jika ia akan ditanyai oleh ibunya. Hingga kendaraan melaju bahkan sampai rumah ia tidak mendapati pertanyaan apapun dari sang ibu. Aneh juga bahkan hal itu berlangsung sejak perjalanan di dalam mobil. Hingga esok harinya ternyata sang ibu masih tidak mempertanyakan apapun padanya. Bahkan sang ibu malah membuatkannya sarapan. Kata Mbah Tejo, si anak gadis itu paham setelah ia dewasa dan menjadi ibu. Bahwa selama yang dihubungi ibu maka itu adalah kehormatan. Si anak gadis yang kini menjadi ibu itu paham bahwa ibu nya dulu tengah memberinya pelajaran berharga. Bahwa sejauh atau...

Belajar Mendengar

Woko Utoro Di manapun dan di setiap tempat yang saya singgahi. Kebetulan mic dan panggung saya jajaki. Di sana saya tidak bosan berpesan kepada teman-teman untuk belajarlah mendengar. Karena pembelajaran mendengar adalah hal pertama sebelum belajar bicara. Seorang bayi mungkin belum bisa bicara kecuali tangis tapi mereka sudah mendengar atas suara sekelilingnya. Maka teorinya jelas bicaralah hal-hal baik karena bayi merekam dengan cara mendengar. Perihal mendengar ini penting. Sebab tidak setiap orang mampu bahkan orang dewasa sekalipun. Lebih lagi konteks lebih luas yaitu penguasa hari ini. Anda bayangkan mungkinkah orang tidak dengar ketika orang sekitarnya menjerit. Mungkinkah ksatria sakti tidak tahu dengan kondisi rakyatnya. Rasanya aneh jika telinga dan kesaksian tak mampu merespon derita. Sederhana saja barangkali yang sedang di atas tengah tuli atau tak berfungsi alat pendengaranya. Terkadang bukan soal fungsi pendengaran tapi justru empati yang tak tergugah. Orang ...

Tentang Surga

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan teman-teman santri apa sih surga itu. Mengapa banyak orang menginginkan surga. Jika tidak masuk surga apa salah? Pertanyaan itu sederhana tapi memantik kami untuk berdiskusi. Tentu saya melepaskan makna surga ke mereka sesuai kemampuan berpikirnya. Intinya semua sepakat bahwa surga sebagaimana gambaran al Qur'an yaitu sebuah tempat yang penuh dengan kenikmatan. Ilustrasinya yaitu sungai dengan ragam jenis minuman, buah-buahan yang kaya, kilau emas, zamrud, bantal dan dipan yang tertata rapi serta bidadari bermata bening dll. Makna pengertian surga tersebut benar adanya. Siapa pula yang mau menolak al Qur'an. Tapi tentu ada makna lain yang menarik perihal surga. Pertama, surga itu جنّ yang bermakna tersembunyi, rimbun, istimewa dll. Jadi ibarat kebun dengan daun yang lebat dan buah yang banyak itu juga surga. Sehingga siapa saja dibuat takjub dengan keindahannya. Kedua, surga itu sesuatu yang melekat pada diri. Misa...

Mengisi Shaf Kosong

Woko Utoro Sudah lelah ya menjadi WNI. Apa sudah saatnya kabur dulu. Atau bunyikan alarm sebagai tanda bahaya. Beberapa kalimat itulah yang akhir-akhir ini mencuat kembali. Bukan tanpa alasan karena memang kondisi kepemimpinan Nasional dalam keadaan paling rendah. Sejak beberapa dekade terakhir kepemimpinan Nasional kita terpuruk bahkan dikaitkan kembali dengan peristiwa 98. Fakta membuktikan demikian kita selalu cemas dan putus asa. Mbah Nun sejak lama sudah bicara jika berkaitan dengan penguasa kita selalu pesimis tapi jika soal kedaulatan rakyat dan budaya kita optimis. Tiyo Ardianto juga afirmasi bahwa bagi kita yang tahu banyak soal problem bangsa ini pasti pesimistis. Karena bisa dibayangkan urusan kemaslahatan serta hajat hidup orang banyak dipikul oleh pejabat nir-kompentensi. Akibatnya seperti yang kita saksikan saat ini program prioritas justru paling mengecewakan. Problem akut bangsa ini adalah bagaimana menjalankan sistem. Sedangkan soal membuat program kita aku...

Menyusuri Jalan Menjadi Manusia Berintegritas

Woko Utoro Dalam seri diskusi ketiga Ngaji Ngopi Lajnah Gemmatan Tulungagung membahas tema tentang manusia yang berintegritas. Pada diskusi tersebut Pak Fauzan selaku narasumber menjelaskan dengan gamblang bagaimana menjadi manusia berintegritas. Di awal pembuka beliau menyebutkan bahwa sosok utama manusia paling berintegritas adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sosok paripurna, teladan dan panutan umat. Kata Pak Fauzan orang berintegritas itu dapat dilihat melalui beberapa ciri. Pertama, memiliki daya juang yang tinggi. Dalam bahasa agama terdapat himmah (semangat, daya juang) dan azimah (keteguhan jiwa). Kedua, terdapat keseimbangan antara sisi duniawi dan ukhrawi. Pak Fauzan mencontohkan kedekatan Nabi Muhammad SAW dengan Allah di mana beliau tetap kerja keras di siang hari dan malamnya untuk munajat. Nabi Muhammad SAW juga merupakan sosok yang selaras antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Keselarasan dari tiga aspek itu adalah bagian dari karakter luhur, jiwa nan berin...

Mengelola Diri Sendiri

Woko Utoro Kata Nabi Muhammad SAW ada peperangan yang lebih dahsyat dari perang Badar yaitu perang melawan hawa nafsu. Perang melawan hawa nafsu dianggap perlawanan sepanjang usia. Perlawanan ini tidak hanya menuntut fisik tapi pikiran dan hati. Terpenting lagi ilmu, manajerial dan bagaimana cara mengelolanya. Nafsu dalam bahasa psikologi sering disebut emosi dan emosi tersebut tidak untuk dimusnahkan tapi dikelola. Seorang teman bilang di fase usia 25 tahun katanya sering mengalami keterasingan. Apakah kondisi itu umum atau memang bagian dari hawa nafsu. Kata saya setiap fase dalam kehidupan selalu terselip hawa nafsu. Hanya saja tinggal bagaimana kita menyikapinya. Contoh, seorang remaja di masa transisi merasa bingung kemana ia melangkah, bagaimana menentukan pilihan. Seorang pemuda juga demikian dari mana ia berasal, apa yang hendak dicari dan kemana setelah ini. Semua hal itu bagian dari proses bagaimana kita menentukan pilihan. Memang problem terkait mental, pikiran d...

73 Tahun Mbah Nun

Woko Utoro Sebagaimana manusia yang melewati banyak sejarah Simbah tentu mengerti bagaimana memahami kondisi bangsa. Sejak jaman tidak enak hingga saat ini beliau tidak pernah absen bagaimana merasakan kondisi rakyat. Dengan metode berdiskusi Mbah Nun selalu hidup dan menginspirasi. Walaupun kini beliau sudah jarang tampil tapi simpul-simpulnya masih erat. Bahkan mungkin akan terus meluas. Sudah 73 tahun Simbah hadir untuk bangsa. Tidak hanya mengurai masalah tapi beliau selalu jadi pohon. Pohon yang di saat orang lain memilih membesar beliau justru berbeda. Beliau lebih memilih jadi pohon yang tumbuh bersama dan melahirkan cabang-cabang baru. Pohon yang sejuk dan mengeratkan jiwa dari dasar akarnya. Simbah mungkin tahu problem negeri ini begitu sistemik dan tak terkendali. Sehingga kita merasa putus asa ketika melihat kondisi tersebut. Tapi sejenak saat ingat Simbah kita harus tegar. Sebagaimana beliau mengajarkan bahwa selama kita masih punya Allah selamanya tak usah diri...

Idul Adha di Kotaanyar

Woko Utoro Alhamdulillah tahun ini saya berkesempatan lebaran Idul Adha di tempat istri. Kebetulan istri saya berasal dari daerah Kotaanyar Probolinggo. Sebuah daerah yang tidak jauh dengan PLTU Paiton. Daerah ini masuk wilayah yang mayoritas warganya berbahasa Madura. Dan saya masih sangat minim pengetahuan terkait bahasa Madura ini. Singkat kisah seperti orang katakan di daerah yang menggunakan bahasa Madura, suasana Idul Adha hampir serupa dengan perayaan Idul Fitri. Idul Adha pun terdapat salam-salaman, amplop dan silaturahmi. Suasana di makam pun juga ramai. Hanya saja antusiasnya dengan Idul Fitri tetap terasa berbeda. Yang saya tahu selama di sini perayaan Idul Adha terbilang biasa. Yaitu orang-orang bertakbir di malam hari lalu paginya shalat di masjid terdekat. Setelah itu bersalaman dan saling berkunjung ke tetangga. Tak lupa pula ada sebagian yang menyediakan hidangan berupa gulai kambing atau sate daging sapi. Kata Pak Lik, di sini jarang orang berkurban. Yang s...

Pesta Babi dan Hal Yang Memilukan

Woko Utoro Film dokumenter Pesta Babi tengah ramai diperbincangkan. Sebagaimana film sebelumnya Dandhy Laksono menyuguhkan beragam data, potret dan fakta kegetiran. Film Pesta Babi hampir serupa dengan Sexy Killer, Dirty Vote, The Mahuzes, Alkinemokiye dll yang semuanya menyuguhkan key word : oligarki, tambang, militer, bencana ekologis, dan kolonialisme gaya baru. Tentu jika buka-bukaan data atau borok penguasa adalah aib yang melahirkan pro dan kontra. Betapa pilu ketika kita menonton film ini, bayangkan ribuan hektar tanah adat harus digusur oleh keberadaan perusahaan demi proyek strategis nasional. 1800 tiang salib merah melawan 2000 eskavator dan ribuan tentara yang berjaga. Alih-alih perusahaan mundur justru sebaliknya masyarakat dipaksa terusir dari tanah moyangnya. Orang-orang yang menggantungkan hidup dari hutan kini menjadi nestapa. Sebab hutan akan beralih fungsi menjadi sawah untuk padi, perkebunan tebu, singkong dan peternakan. Para suku asli pedalaman tidak ak...

Obituari : Prof Maftukhin dan Sarjana Desa

Woko Utoro Berita duka lagi untuk UIN SATU. Dua hari lalu dosen FASIH Pak Shomad berpulang. Kini Prof Maftukhin kembali ke pangkuan Nya. Tapi saya sedikit tidak kaget. Karena sudah lama beliau memang sering keluar masuk rumah sakit. Kondisi kesehatan beliau makin memburuk seiring bertambah usia. Tapi apapun itu beliau orang baik dan semoga Allah SWT memperkenankannya di tempat yang mulia. Kenangan dengan Pak Tukhin begitu kami memanggil beliau tentu banyak. Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya. Pertama, saya ingat tahun 2015 ketika beberapa anak dari Indramayu singgah di rumah dinas. Setelah menetap beberapa bulan saya baru sadar jika tempat itu rumah dinasnya Pak Tukhin, Pak Rizqon dan Cak Akhol. Selama di sana saya sangat minim berinteraksi dengan beliau. Selain karena sungkan beliau rektor IAIN pada saat itu. Tentu saya masih terkendala bahasa Jawa yang belepotan. Walaupun begitu setidaknya saya pernah membuatkan kopi untuk Pak Tukhin ketika para senior seda...

Pak Shomad yang Mu'tamad

Woko Utoro Tak ada hujan tak ada angin, story WhatsApp menghijau. Saya buka HP, "ah paling ada acara NU" pikir saya dalam hati. Ternyata ketika saya buka story WA beberapa teman menunjukkan informasi yang sama yaitu lelayu. Seperti biasa jika ada info kematian apalagi menimpa orang yang saya kenal, tiba-tiba badan lemas. Innalilahi, sugeng tindak Pak Shomad sedo. Pak Shomad meninggal. Lalu saya pun turut berdo'a semoga beliau husnul khatimah dalam story WA. Tentu saya merasa kehilangan. Karena bagaimanapun beliau adalah aset UIN SATU bahkan Tulungagung. Sosok yang pastinya masih dibutuhkan baik di dunia kampus lebih lagi keluarga dan masyarakat. Namanya Mohammad Ali Shomad Veri Eko Atmojo. Nama yang Jowo sekaligus nyentrik. Nama itu sudah saya kenal sejak jaman Maba, tahun 2015. Melalui buku akademik pada awal pengenalan kampus nama beliau bertengger di antara dosen FASIH. Singkat kisah beberapa waktu saya pernah bertemu dengan beliau walaupun mungkin tidak in...

Setiap Kita Adalah Guru

Woko Utoro Hajaj bin Yusuf pernah terlibat pembunuhan di era Yazid bin Muawiyah. Ia membunuh Abdullah bin Zubair yang sedang i'tikaf di Masjidil Haram. Seperti kita tahu aib besar dan pantangan jika sampai ada pertumpahan darah di tanah haram. Akhirnya dari peristiwa nahas itu menjadikan Hajaj ikon manusia paling dibenci seantero negeri. Singkat kisah sekitar 7 abad dari peristiwa itu Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya menyebutkan bahwa ternyata Hajaj itu putra seorang guru. Tapi bukan guru sejati tapi guru sekadar profesi. Gus Baha menjelaskan guru itu ada dua. Guru dalam makna profesi dan guru hakiki. Guru profesi untuk banyak kita jumpai. Cirinya sederhana yaitu mengajar hanya karena formalitas, ada jadwal, jam, mendapat gaji. Sedangkan guru hakiki dalam kondisi apapun akan terus mengajar. Guru hakiki lebih menekankan pada keikhlasan, kepedulian dan panggilan hati. Guru model kedua ini makin jarang kita temui kecuali bisa kita saksikan pada sosok kiai kampung yang men...

Shaleh Ritual dan Sosial

Woko Utoro Pada malam peringatan Haul Mbah Slamet (Muasis PPHS) guru kami, Abah Sholeh dawuh banyak hal. Tapi intisarinya sederhana yaitu bagaimana menjadi pribadi baik dan bermanfaat. Kata beliau Kang Sholeh dan wong kang sholeh itu beda. Kang Sholeh itu nama yang disematkan pada seseorang. Sedangkan wong kang sholeh adalah karakter mulia yang dimiliki seseorang. Jadi jelas menjadi sholeh modal nama lebih mudah daripada sholeh sebagai sikap atau karakter. Dalam Syair Tanpo Wathan karya KH Nizam Ash Shofa disebutkan jika ciri orang shaleh adalah bagus hatinya. Indikator orang bagus hatinya adalah ilmunya telah menyatu dengan jiwanya. Maka dari itu kita selalu nyaman dengan orang yang banyak ilmunya. Orang yang ilmunya mendalam pasti mudah memahami liyan. Sedangkan orang yang bodoh cirinya sederhana yaitu mudah emosi, menuduh, hingga anarkis. Dari sini jelas jika kita tidak mampu mengubah (bicara) setidaknya diam lebih baik. Dalam Syair Tombo Ati Sayyidina Ali ada tips jika ...

Sepuh Belajar Menulis

Woko Utoro Belajar tidak mengenal usia. Siapa pun boleh belajar. Karena Islam sendiri mengatakan bahwa belajar adalah sepanjang hayat. Belajar tersebut mencakup apa saja salah satunya menulis. Orang sudah tambah usia baru belajar menulis tidak mengapa. Karena menulis selalu memihak mereka yang bersungguh-sungguh. Tua, muda atau siapapun jika bersungguh-sungguh pasti akan sampai. Guru kami Prof Ngainun Naim mengistilahkan dengan, "Man talatina fanaina" dan "Sopo seng tekun bakal tekan najan gawe teken". Begitulah keunikan menulis yang semuanya punya kesempatan jika mau terus belajar. Kata orang untuk apa menulis di usia senja? rasanya seperti buang-buang waktu. Kata saya semua hal dalam hidup tidak ada yang sia-sia. Justru menulis di usia senja banyak manfaatnya. Salah satu hal yaitu menguatkan daya ingat, terhindar dari penyakit alzheimer dan pastinya tidak menjadi tua yang menyebalkan.  Menulis itu murni sebuah teknik yang harus terus dilatih. Tidak men...

Gus Iqdam dan Klinik Kesehatan Rohani

Woko Utoro  Barangkali ungkapan bahwa agama adalah pelarian dari rasa sakit tidak sepenuhnya salah. Eskapisme sebenarnya sudah terjadi sejak lama terutama ketika agama-agama adalah satu-satunya lembaga yang menghantarkan pemeluknya menuju akhirat. Kehadiran agama adalah jalan terutama dalam Islam yang meyakini konsep kehidupan setelah mati. Marx, Freud hingga James memiliki pandangan tersendiri mengapa agama menjadi alat pelarian. Marx bilang jika agama serupa madat di mana seseorang yang sudah candu akan kembali. Sekalipun misalnya agama tidak memberikan apapun orang tetap membutuhkannya. Berbeda dengan Marx, Freud justru berpendapat bahwa agama berlaku hanya bagi mereka yang sakit. Freud mengistilahkan agama itu neurotic alias sesuatu yang tidak masuk akal atau metafisik. Wiliam James justru kontra dengan keduanya dan memiliki argumen yang cukup mapan. Bagi James, agama adalah status sosial yang harus dipegangi setiap orang. Hanya dengan agama kebahagiaan hakiki dapat...

Gus Iqdam dan Fenomena Pergeseran Jama'ah

Woko Utoro  Siapa yang tak kenal Gus Iqdam. Seorang pendakwah muda yang namanya beken beberapa tahun terakhir. Namanya muncul ketika pendakwah didominasi ceramah umum dan kaku. Gus Iqdam melalui media sosial hadir langsung ke titik paling krusial yaitu kesendirian, keterasingan. Gus Iqdam seolah obat di saat dunia spiritual modern tengah sekarat. Ia menjelma pendakwah yang mewakili perasaan masyarakat. Ketika dunia dilanda pandemi ngaji dibalut hiburan menjadi pilihan. Akhirnya dalam bahasa Candra Malik, karomah medsos membantu Gus Iqdam viral. Orang di mana-mana tahu jika di Srengat Blitar ada Gus muda yang berceramah mewakili perasaan kaum rural. Dengan sajian kopi panas beralasan tikar serta gaya yang humble Gus Iqdam mampu menarik perhatian jama'ah. Kini sudah hampir 7 tahun sejak didirikan sekitar 2018 Majelis Sabilu Taubah Gus Iqdam tak pernah sepi dari jama'ah. Tak kurang dari 6 ribu jama'ah dan rata-rata 15 ribu turut dalam live streaming. Gus Iqdam menj...

Mengeja Ujian dengan Kesabaran

Woko Utoro  Resiko orang hidup adalah mendapatkan ujian. Dalam hal apapun ujian pasti ada. Tidak ada orang yang terhindar dari ujian. Sehingga ketika ujian tiba kita hanya perlu menghadapi dengan baik. Disadari atau tidak ujian itu ada bahkan tiap hari. Bahkan yang kita anggap kemewahan dunia (harta, materi) itu juga bagian dari ujian.  Soal ujian sudah ada rumusnya yaitu disesuaikan dengan kemampuan hambanya. Jadi tidak mungkin hamba diuji di luar batas kemampuannya. Begitu janji Allah kepada kita agar berpegang teguh kepadaNya. Kecuali fenomena modern sudah diprediksi oleh Imam Ghazali, esok banyak laki-laki tumbang karena diuji oleh mertua yang menekan habis mantunya untuk mencari penghidupan secara berlebihan. Sehingga laki-laki itu jika tidak berhasil akan dihinakan karena kefakiran. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi disebutkan jika tak ada yang lebih berat ujiannya kecuali untuk para nabi. Setelah itu ujian orang shaleh dan yang sejenisnya. Bisa ...

Organisasi dan Kemampuan Berkhidmat

  Woko Utoro  Di setiap organisasi pasti ada peluang dan tantangan. Tidak hanya organisasi yang sudah berjalan, bagi yang merintis pun pasti terdapat dinamika. Hal itu bukan rahasia umum dan pastinya sudah disadari bersama. Pertanyaannya bukan sekadar disadari tapi bagaimana cara organisasi keluar dan menemukan solusinya. Salah satu cara agar organisasi tetap hidup adalah dengan bergerak. Nadi organisasi adalah komitmen bersama untuk berproses. Selanjutnya selalu ada pengorbanan di setiap prosesnya. Jika organisasi tidak dijalani bersama anggotanya maka bersiaplah vakum. Intinya ruh organisasi terdapat pada komitmen bersama anggota untuk berjalan. Ibarat roda pada kendaraan, mesin tak akan jalan jika tanpa bensin. Pun sebaliknya bensin sebanyak apapun jika tidak ada tangki hendak diisi ke mana? Kita mendengar kalimat populer, "Hidupilah organisasi dan jangan cari hidup di organisasi". Hal itu adalah tanda bahwa organisasi bukan bertujuan mencari keuntungan sesaat....

Bacaan dan Pengalaman

Woko Utoro  Mas Eros Chandra, gitaris Sheila on Seven bilang, "Iya, mengapa anak sekarang mudah rapuh. Kena pressure dikit aja udah nyerah". Apa yang dikatakan Mas Eros bukan tanpa alasan. Setidaknya keheranan itu ia jawab sendiri. Katanya mengapa anak jaman now mudah mleot ketika angin tiba berhembus menempa diri. Pertama, mereka tidak hidup di jaman ketika bangun tidur langsung kerja. Mereka lahir di mana dunia telah memberi segalanya. Bahkan sejak bangun hingga tidur lagi. Kedua, kurangnya bacaan. Anak sekarang bukan miskin bacaan. Justru sebaliknya akibat terlalu banyak menyerap informasi akhirnya timbul kecemasan hingga depresi. Kata Mas Eros itulah barangkali faktor mengapa anak jaman now hidup terkurung oleh rasa takut yang faktanya dikonstruksi sendiri. Mereka hidup di antara postingan dan komentar yang tiap hari menjejali pikiran. Ditambah lagi kemampuan selektif terhadap informasi itu tumpul. Akibatnya seperti sekarang ini, fenomena sumbu pendek, mudah m...

Belajar Kerusakan dari Semut

Woko Utoro  Di kontrakan tempat kami tinggal segala jenis semut hadir silih berganti. Dari mulai semut gula, semut hitam dan semut api. Mereka berjalan-jalan di antara beras, kertas lembab, hingga kardus dan buku. Ketika saya mencoba membersihkan ternyata mereka tak kunjung pergi. Justru para semut itu malah semakin banyak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Padahal segala tips n trik mengusir semut sudah kami upayakan. Misalnya mulai dari menaruh garam, kapur ajaib, hingga minyak gosok. Hingga akhirnya kami pun menyerah dan kini hanya berdamai dengan mereka. Poin pentingnya kita hanya perlu menjaga kebersihan. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang gula atau membiarkan makanan terbuka. Pada akhirnya saya pun belajar dari semut-semut itu. Pertama, seperti terdapat dalam Al Qur'an pada kisah Nabi Sulaiman. Semut akan berjalan dalam jalurnya. Mereka jarang berjalan tidak beraturan kecuali ada bahan makanan baru. Sejauh ini semut selalu disiplin dab mereka akan ...

Pentingnya Bahasa Dalam Public Speaking

Woko Utoro Beberapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan bimtek yang diadakan Nyalanesia. Kegiatan tersebut semacam pembekalan untuk peserta SPL Nasional. Kegiatan tersebut menghadirkan Uda Ivan Lanin. Acara serupa juga dihelat sebelumnnya yaitu menghadirkan Gus Nadhir dan Gus Muh alias Muhidin M Dahlan. Sayangnya yang sebelumnya tersebut saya tidak bisa mengikuti karena terbentur jadwal.  Singkat kisah, siapa yang tidak kenal Ivan Lanin. Ia adalah tokoh kebahasaan modern yang lahir di Bukittinggi. Makanya orang-orang memanggilnya Uda Ivan Lanin. Hampir 15 tahun terakhir kata Uda Ivan ia bergelut dengan bahasa. Padahal sejak S-1 ia mengambil jurusan teknik kimia ITB. Barulah di program magister ia mengambil pemprograman alias komputasi. Mungkin di S-2 itulah kesenangannya dalam hal bahasa muncul.  Kini Uda Ivan mendirikan lembaga Narabahasa dan juga Wikipedia Indonesia. Sebuah lembaga yang concern di bidang menghayatan bahasa Indonesia baku sekalipun merapal bahasa d...

Sirkuit Empati

Woko Utoro  Tahukah anda mengapa kasus kekerasan seksual yang viral di UI bisa terjadi. Salah satu faktor menurut psikolog yaitu ada istilah sirkuit empati. Sirkuit empati adalah istilah seseorang merasa aman melakukan sesuatu hanya karena objeknya tidak hadir. Dalam kasus tersebut jelas jika pelaku merasa benar ketika mereka menikmati tubuh lewat ruang chat hanya karena objeknya tidak hadir. Di sinilah kesalahan pertama lahir hanya karena istilah tidak bakal ketahuan. Padahal hal tersebut salah besar. Bahwa tidak hadir bukan berarti tidak tahu. Justru terkadang perasaan selalu hadir walaupun tanpa disadari. Dalam kasus ini jelas para pelaku telah mati sirkuit empatinya. Mereka bodoh hanya karena korban dianggap tidak ada. Padahal sebaliknya kasus tersebut ibarat bangkai yang lambat laun tercium juga. Lantas bagaimana cara praktis sirkuit emosi bekerja? Sederhana saja misalnya begini, ada mahasiswa yang berfoya-foya, malas kuliah dan hanya main-main belaka. Nah dalam ka...

Do'a Yang Meluncur Diam-diam

Woko Utoro  Orang sekarang itu lucu jika punya keluh kesah langsung datangi medsos. Tanpa lama ragam keluh kesah hingga do'a membanjiri jendela medsos. Sehingga langsung saja memicu banjir komentar sana-sini. Mereka anggap setelah dikomentari, like dan diteruskan masalah akan usai. Tapi katanya seringkali hidup terasa lebih plong jika sudah dipantau orang, tapi apakah hal demikian sudah aman dan selamat? Itulah barangkali fenomena pergeseran di mana orang ingin selalu muncul. Dalam do'a pun demikian yaitu mudah naik, upload dan biarkan media bekerja. Orang menganggap ketika do'a sudah naik posting maka akan ada banyak yang mengaminkan. Mereka lupa bahwa bukan banyaknya amin atau like yang membuat do'a diijabah. Tapi justru karena ketenangan batin dan etika yang membuat do'a diperkenankan. Bahkan kadang do'a yang hadir diam-diam lebih mudah diterima dari yang berisik di media sosial. Jalaluddin Rumi sering bilang mengapa kita berdo'a dengan keras ...

Mengikuti Jejak Para Nabi Melalui Kesabaran

Woko Utoro  Ulama adalah pewaris para nabi? Mengapa demikian, karena nabi wafat mewariskan teladan dan ilmu. Dari warisan itulah para ulama meneruskan hingga kini dan tidak lelah mendidik kepada umat. Sedangkan kita umat adalah pengikut ulama. Sebuah cara agar terus bersambung dengan jejak para anbiya. Salah satu hal menarik yang bisa kita ikuti jejaknya adalah soal sikap sabar. Tidak tanggung-tanggung Allah memuji beberapa nabi dengan sifat sabar. Misalnya dalam Surah Al Anbiya ayat 85-85 Nabi Zulkifli, Nabi Ismail dan Nabi Idris disebut sebagai hamba penyabar. Dalam Surah Shad ayat 48 Nabi Zulkifli, Nabi Ilyasa dan Nabi Ismail juga disebut sebagai hamba yang baik (akhyar). Yang juga kita tahu Nabi Ayyub bersabar atas penyakit kulitnya. Jelas bahwa sabar disematkan pada para nabi akan kisah hidupnya. Maka sabar adalah sifat para nabi sehingga jika ada yang bilang, "alah sabar lagi, sabar lagi sampai kapan" itu salah besar. Padahal sudah jelas para nabi pun berpre...

Kembali Ke Diri

Woko Utoro  Anda mungkin pernah atau terlampau sering jika selepas kerja badan terasa penat. Setelah itu scrol medsos di smartphone untuk sekadar cari hiburan. Lambat laun bukannya badan terasa ringan justru sebaliknya. Tengkuk di leher terasa berat dan badan terasa malas untuk bergerak. Apalagi jika sudah dihadapkan dengan ibadah rasanya seperti ada setan yang menunggangi. Padahal semua hanya soal mindset kita saja. Dari problem itu sebenarnya kita sadar. Tapi sayang kesadaran itu terbelenggu. Seperti banyak petuah mengingatkan bahwa semakin banyak aktivitas di depan gawai justru kita makin tersesat. Kita mudah terbawa arus informasi yang begitu deras. Kita mudah tenggelam dalam lautan yang tak bisa dibendung di dunia digital. Akhirnya kita berpikir mengapa hiburan dan segala informasi di gawai tidak membuat kita puas. Justru medsos dan gawai hanya membuat kita kehilangan arah. Hidup seperti tersesat dan entah mengapa terjebak di lubang yang sama. Salah satu hal yang p...

Resep Panjang Umur

Woko Utoro  Seminggu lalu saya dan istri mudik ke kampung halaman, Indramayu Jabar. Singkat kisah ada banyak hal yang kami dapat dalam perjalanan pulang tersebut. Selain dapat bernostalgia kampung halaman kami juga mendapat petuah luar biasa terutama dari ibu, saya memanggil beliau mama. Ketika melihat bapak dan mama saya langsung teringat pesan jika ingin hidup bahagia maka lakukanlah kiat berikut: Pertama, dalam rumah tangga pasti ada perselisihan atau salah paham. Maka dari itu selalu mengalah adalah kunci. Mengalah bukan berarti kalah tapi justru sebuah pilihan untuk bijaksana. Kedua, dalam bersosial jangan mudah sakit hati apalagi menyimpan dendam. Dendam tidak akan memadamkan api dan justru sebaliknya membakar diri sendiri. Ketiga, hidup itu sederhana, jangan dibuat pusing dan kita menghindari stres. Selama ada jalur positif tempuhlah karena itu obat agar hati dan pikiran fresh. Keempat, dalam berbagai situasi tetaplah sabar, jangan mudah gegabah, jangan ceroboh d...

Lebaran dan Pulang

Woko Utoro  Kata bapak saya, "Untung kita punya tradisi lebaran. Coba bayangkan di negeri Eropa mungkin tidak mengerti bagaimana cara mereka pulang". Dari apa yang dikatakan bapak itu tentu terasa sangat eksistensial. Betapa pun gagahnya dunia modern toh masih menyisakan lubang menganga pada batin. Percis apa yang disampaikan bapak tempo hari tentang tradisi pulang kampung. Seperti kita tahu lebaran hanya terjadi setahun sekali. Momen itu sangat langka sekaligus sakral. Orang bisa saja memaknai dengan pikiran apapun. Tapi satu hal yang tak boleh dilupakan adalah perjalanan pulang. Dalam makna fisik tentu kepulangan adalah proses perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Tapi secara lebih maknawi, pulang adalah kembali ke kampung ruhani. Tempat di mana kita mengerti akan muasal. Tempat di mana kita menimba ulang pertanyaan dari mana, mau apa dan hendak kemana? Itulah barangkali yang tak pernah ditanyakan oleh sebagian orang dan bapak merujuk pada Eropa. ...

Masjid dan Perpustakaan

  Woko Utoro  Kemarin malam Senin saya dan istri kembali ke Tulungagung dalam perjalanan dari Probolinggo. Kami naik motor dari Probolinggo ke Tulungagung dan singgah di Malang sekitar pukul 24:00 WIB. Di Malang ini kami istirahat sejenak selepas perjalanan jauh Probolinggo - Tulungagung untuk menjenguk Simbah yang sakit. Singkat kisah kami rehat di Masjid Besar Al Ihsan Pakisaji Malang. Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji terdapat di Jalan Raya Pakisaji No. 118 RT 01 RW 03 Kabupaten Malang Jawa Timur. Kebetulan masjid ini merupakan salah satu titik rest area tempat ramah pemudik. Tempat di mana lebih nyaman dari posko milik polisi yang formalitas itu. Tanpa sengaja saya dan istri singgah di masjid ini untuk shalat dan menikmati camilan. Di masjid Al Ihsan ini kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Ornamen masjid dan kaligrafinya membuat orang segera angkat kamera untuk selfie. Terdapat coffee break, teh dan jajanan gratis. Belum lagi karpet nan empuk ...

Teras Gua Hira

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya nobar film Budi Pekerti (2023) karya Wregas Bhanuteja. Di waktu itu pula saya membaca kembali kisah diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Dua momen tersebut ternyata tidak sengaja saling berelasi dan saya belajar memaknai itu semua. Titik temu pada dua momen itu adalah tentang kebisingan media sosial. Pertama, film Budi Pekerti berkisah tentang seorang guru bernama Bu Prani yang hidupnya dibuat gusar oleh fenomena konten di media sosial. Bu Prani dikisahkan terkena framing akibat dianggap misuh (mengumpat) ketika mengantri kue putu di Pasar Beringharjo. Singkat kisah framing medsos dan segala klarifikasi justru semakin memperkeruh suasana. Pada akhirnya dari segala benturan di dunia digital saya menemukan jawaban dari kasus Bu Prani yaitu : problem perundungan, salah paham, dan ocehan netizen tak akan pernah selesai jika kita terus berkubang di dalamnya. Solusinya hanya satu yaitu temukan kedamaian, tutup telinga dan ...