Langsung ke konten utama

Dunia Tanpa Buku

Woko Utoro 

Istri saya kurang tertarik soal dunia literasi terutama buku. Tapi bukan berarti tak peduli. Justru ia paling peduli. Ketika saya punya ide menjual beberapa buku untuk kebutuhan harian ia bilang, "Jangan, itu sejarah hidup. Sekarang aku hadir di antara halamannya". Ketika buku-buku diserang semut merah ia yang paling risau. Katanya, "Segera evakuasi, karena buku bukan sekadar tumpukan kertas tapi kumpulan pengetahuan".

Dari kepedulian istri saya belajar bahwa buku bukan sekadar kertas berisi tulisan. Tapi buku adalah rekam jejak kehidupan. Di sana ribuan pemikiran lahir dan tinggal. Apalagi katanya buku itu sudah saya kumpulkan sejak awal kuliah. Maka dari itu apa susahnya untuk merawat dan membacanya kembali. Dari sanalah saya pun insyaf bahwa ide menjual buku adalah hal gila. Kata istri jangan sekali lagi buku jadi biang kerok atas kekurangan. Justru buku itu harus jadi pondasi karena esok kita akan mendidik generasi baru.

Dari sini pula saya tertampar. Justru orang yang bergelut dengan satu buku malah berhasil menyadarkan yang ribuan bacaan. Harusnya saya ingat betapa Rahmi begitu heroik ketika mengawal Bung Hatta dan buku-bukunya. Bisa dibayangkan hidup susah, memiliki anak 3, sering pindah-pindah kontrakan bahkan familiar dengan diasingkan harus pula merawat 6 peti berisi buku. Kini kisah Bung Hatta dan Rahmi menjadi tidak hanya sekadar legenda melainkan panduan hidup bangsa Indonesia.

Rahmi sadar bahwa mungkin saja dirinya tidak lebih berharga di mata Bung Hatta ketimbang seluruh buku-bukunya. Itu sebabnya ia ingin menjadi bagian hidup Bung Hatta dengan juha turut merawat buku sebagai jalan hidupnya. Di sinilah saya harus memantapkan diri bahwa ada dua cahaya dalam rumah yaitu istri dan buku. Istri memberi kedamaian ketika dunia beku dan tak dikenali. Sedangkan buku menjadi penerang ketika orang sibuk dengan kebenaran digital. Kita harus kembali untuk terus membaca di tengah arus budaya baru: banyak omong tapi kosong makna.[]

the woks institute l rumah peradaban 1/02/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...