Langsung ke konten utama

Bukan Sekadar Ngobrol Warung Kopi

Woko Utoro 

Spongebob Squarepants pernah bilang ke Squidward, jika ingin jadi seniman gunakanlah imajinasi. Sambil membentuk setengah lingkaran imajinasi itu berbentuk pelangi. Dari adegan itu saya sering bilang ke teman-teman bahwa imajinasi mahal harganya. Pikiran dan imajinasi adalah senjata kata Einstein. Orang bisa menjadi apa saja dengan the power of mind.

Di suatu pagi seorang anak menghadang saya. Ia hanya ingin saya mendengarkan ceritanya. Kebetulan cerita itu sudah ia tulis dalam beberapa lembar buku. Katanya cerita itu ia dapat saat berkunjung ke pasar tempo hari. Ia bercerita tentang kucing yang terlantar. Katanya kucing itu berjumlah lebih dari dua. Mereka dibuang dan kondisinya sangat memprihatikan. Ia memberi kucing itu dialog yang intinya kasihan bahwa di terlantarkan itu tidak enak. Kucing merasa kesakitan ketika ditendang, kedinginan saat disiram dan lapar ketika belum makan. Lalu beberapa saat kucing itu diambil orang, kata si anak kucing itu diadopsi.

Singkat kisah kini kucing itu hidup enak dan nyaman. Tapi di balik itu kata si bocah, kucing bersedih karena harus berpisah dari saudara-saudaranya. Lalu kisah itu pun selesai. Point penting ajarilah anak berimajinasi sejak dini. Sebab kita tahu anak-anak milenial - generasi alpha terlihat tumpul imajinasinya. Mereka lebih sering mengandalkan google dan AI dari pikiran sendiri. Apalagi jika kaitannya dengan menjawab soal pengetahuan pasti tak ubah dijawab "tidak tahu". Jawaban itu terasa ringan di bibir dan padahal bagi kita begitu ironi.

Harusnya tidak saja anak kecil yang diajarkan berimajinasi tapi juga orang dewasa. Terutama para remaja yang doyan ngopi. Mereka harusnya diarahkan agar lebih produktif. Misalnya daripada ngobrol ngalor ngidul harusnya mulai ditata agar pembicaraan terarah. Karena syarat pengetahuan itu awet hanya 2 yaitu dibicarakan dan ditulis. Kedua hal itulah kunci mengapa halaqah kecil-kecil bicara ilmu lebih berdampak daripada pengajian glamor yang hanya berisi hiburan semata. Jangan sampai pembicaraan kita menguap begitu saja dan mulai saat ini sesekali bicara agak serius. Karena dunia separuhnya dikuasai para komedian yang tugasnya melucu.[]

the woks institute l rumah peradaban 5/2/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...