Langsung ke konten utama

Kerja Batin Adalah Membaca

Woko Utoro 

Sejak kapan membaca buku tak lagi menarik hati. Padahal dalam tradisi membaca ada banyak hal yang kita dapatkan terutama soal kondisi batin dan pikiran. Dulu buku adalah primadona terutama ketika menunggu waktu berbuka, menanti bus tiba hingga sedang dalam antrian. Bazar-bazar buku jadi perburuan terutama ketika ongkos tengah menipis. Tapi kini dunia secepat kilat berubah buku masih tetap banyak tapi pembaca sepi peminat.

Saya jadi ingat mengapa buku tidak dilirik apalagi dirayakan sebagai tradisi yang menggugah kesadaran. Sejak logika kapitalisme merebak buku bukan lagi pilihan utama orang memacu otak. Sebab membaca buku hanya membuat orang bosan, malas, pusing hingga putus asa karena tak kunjung paham. Sederhananya logika kapitalis yaitu, "Untuk apa baca buku buang-buang waktu dan tak menghasilkan uang".

Buku kalah dengan media sosial yang menjanjikan banyak hal. Paling kentara adalah ruang hiburan dan angan-angan keuntungan. Di sinilah logika pasar digital dan ruang buku terus tarik menarik. Di sanalah ada semacam kontradiksi di mana dunia digital, internet dan medsos menyediakan kecepatan dan rakus informasi. Sedangkan buku membutuhkan waktu perlahan, konsisten serta capaian jangka panjang. Akibatnya digitalisasi dan perangkatnya memenangkan percaturan global sedangkan buku lambat laun makin tergerus.

Paling menyedihkan adalah orang makin meninggalkan membaca. Bukan karena akses menyempit melainkan literasi masih dianggap jalan kuno. Literasi dalam hal ini hanya dimaknai aktivitas baca tulis. Padahal jauh dari itu di mana dalam literasi ada ruang seseorang untuk berkesadaran, kritis dan jujur. Ya, seperti halnya membaca kita hanya butuh menikmati, perlahan, tenang dan jujur. Karena membaca itu bukan banyaknya halaman atau berapa buku hari ini tapi kejujuran betapa pentingnya ilmu pengetahuan.

Membaca buku berarti berproses mengeja, menganalisis dan memahami. Berbeda dengan main medsos kita hanya didorong untuk mengetahui banyak hal tapi kosong isi. Dunia medsos hanya menyediakan kecepatan (highlight, reels, shorts dll) tanpa ketepatan. Semua serba cepat dan kita abai tentang kondisi pikiran. Berbeda dengan membaca buku kita diajari teliti, telaten, sabar, menikmati proses dan tidak tergesa-gesa. Buku bahkan jika tak sempat terbaca pun tidak menuntut balas. Justru buku hanya perlu pembaca konsisten walaupun sehalaman itu lebih baik dan jujur. Jadi, jangan sampai kita meninggalkan membaca buku. Jangan sampai rak buku lebih laris dari buku itu sendiri atau sebatas aksesoris rumah.[]

the woks institute l rumah peradaban 26/2/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...