Woko Utoro
Beberapa minggu kami menikmati menjadi pedagang kecil. Tentu kecil di sini yaitu ambil keuntungan sedikit. Selain juga menjajakan jualan dengan dititipkan ke kantin sekolah. Tapi walaupun demikian kami merasa senang. Awalnya mungkin lelah tapi lambat laun kita tersadar bahwa kerja keras itu perlu. Mungkin keuntungan tidak seberapa tapi yang kami cari adalah bagaimana proses itu bekerja.
Sebelum bicara keuntungan dan modal hal yang kami dapat adalah saat jualan tidak laku. Ini bukan rugi tapi justru keuntungan dalam bentuk lain. Saya selalu bilang ke istri bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mungkin yang kita lakukan terasa melelahkan tapi faktanya terselip pelajaran. Seperti rumus bahwa di balik kerja keras selalu ada kebahagiaan dan putus asa. Di sanalah kita bekerja untuk bersiap atas segala sesuatunya.
Kata orang tua bersyukurlah masih mampu berpikir hingga ke sana. Karena dengan begitu kita ditempa menjadi dewasa. Kita dididik langsung oleh keadaan bagaimana menikmati hidup bukan tentang diri sendiri tapi orang lain. Kita jadi sadar dulu ketika masih sendiri hidup kita tak terarah. Mungkin masih berpikir ego alias sudah ini saja cukup. Tapi setelah berkeluarga kami jadi paham bahwa bertahan saja tidak cukup. Kita harus bergerak, obah dan kerja keras. Inilah yang dalam bahasa Mbah Nun, kerja keras = amal shaleh.
Intinya dengan menjadi pedagang kecil kita diajak untuk merawat kesadaran. Bahwa hidup harus rendah hati. Bahwa hidup itu dinamis dan kita berpikir bagaimana sejatinya berproses. Hingga dari sini kita yakin bahwa kerja bagaimanapun nampak tak berharga faktanya tetap bernilai. Ingat kata Pram, semua pekerjaan selain maling dan merampok adalah terhormat. Itulah barangkali cara kami merasakan bagaimana kebahagiaan itu tidak gratis. Kebahagiaan itu selalu diperjuangkan dan kita masih baru memulai.[]
the woks institute l rumah peradaban 01/02/26
Komentar
Posting Komentar