Langsung ke konten utama

Menulis Mengubah Hidup

Woko Utoro 

Warga UIN SATU atau bahkan di dunia literasi, siapa yang tak kenal dengan Prof Ngainun Naim. Nama yang sangat familiar dan lekat dengan dunia tulis menulis. Jika dengan nama beliau kita langsung terpukau terutama dalam hal kepenulisan, "ini orang luar biasa energi menulisnya tak pernah habis". Tapi di balik itu semua kata Prof Naim tidak selalu mudah.

Prof Naim selalu berbagi kisah bahwa rekam jejak kepenulisannya tidak selalu mulus. Jangan dikira saat ini beliau langsung sukses. Beliau telah melewati pahit getirnya ditolak oleh penerbit, dicemooh teman-temannya hingga frustasi. Tapi karena sudah menjadi niat akhirnya beliau percaya bahwa menulis dapat mengubah hidup. Dulu bahkan kini dari tulisan bisa mendapat cuan. Tinggal bagaimana kita mengolah kata sesuai kebutuhan pasar. Selama tidak melanggar hukum tulisan sejatinya dapat dijual. Terpenting bukan reward yang didapat melainkan proses panjang nan melelahkan.

Kata Prof Naim, menulis itu ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Bagi yang senang menulis tentu kebahagiaan itu ketika tulisannya diapresiasi dan menular. Bahwa kebaikan tulisan tidak tunggal dan memang harus disemai. Bagi yang tidak suka menulis mungkin kebahagiaan itu tak akan didapat. Menulis itu pekerjaan kaum terdidik. Sekalipun sudah tidak di bangku pendidikan formal menulis tetap relevan untuk siapapun.

Hari ini dan esok Prof Naim sudah membuktikan bahwa kecintaannya pada dunia literasi telah membawanya ke pintu kesuksesan. Kata beliau ayo geliatkan dunia menulis. Karena melalui tulisan kita bisa berkomunikasi dengan siapapun. Ibarat kata tulisan adalah isi hati pikiran penulisannya. Sehingga ketika membacanya maka sejatinya tengah berdialog dengan siapapun. Dengan menulis itu pula kita akan kaya pengetahuan. Jangan lupa menulis harus diimbangi dengan membaca. Bahwa keberadaan menulis selalu berelasi dengan tradisi membaca yang tekun. Mari menulis dan kita tengah merawat pengetahuan.[]

the woks institute l rumah peradaban 01/02/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...