Woko Utoro
Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.
Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu :
Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.
Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Sehingga antar paragraf begitu sulit dipahami ketika dibaca. Bahkan ada juga antar paragraf terkesan melompat.
Secara teknis dan lainnya dirasa aman. Tinggal perlu dipoles saja dengan terus berlatih. Hal lain yang pastinya penting yaitu berkaitan dengan isi terutama perihal tema, gagasan dan argumentasi. Rerata peserta lebih banyak fokus dengan tema kesehatan mental, biaya kuliah dan pendidikan secara umum. Tapi hal itu masih oke hanya saja ada beberapa esai yang terkesan tidak realistis. Misalnya orang dengan ganguan kecemasan hingga depresi bisa diselesaikan oleh fitur aplikasi di smartphone.
Selanjutnya rerata peserta masih terjebak dalam narasi umum. Untuk gagasan sebenarnya sudah banyak yang bagus. Tapi sayangnya tidak diimbangi dengan argumentasi yang cukup. Belum ada argumentasi yang spesifik atau hal baru. Sehingga esai terkesan hanya sekumpulan pengulangan. Tulisan masih sebatas cuplikan, kurang fokus dan kurang menjual daya kritis.
Ada juga yang unik yaitu tulisan dengan gaya bercerita. Tapi sayangnya dalam esai ilmiah hal itu masih belum masuk kategori yang diinginkan. Mungkin jika masuk kategori esai populer akan sangat enak dibaca. Bahwa esai bukanya hanya sekumpulan opini tapi lebih dari itu. Yaitu sebuah karangan ide, gagasan yang ditulis dengan gaya sastrawi dan tidak meninggalkan sumber rujukan.
Salah satu hal unik dan saya garisbawahi yaitu banyak dari peserta justru menarasikan cerita kerapuhan anak penerima beasiswa. Hingga saya berpikir ohh iya hampir lupa bahwa peserta mayoritas lomba esai ini adalah anak KIP. Jadi wajar jika soal biaya untuk kuliah begitu penuh penghayatan.
Mengapa peserta lomba esai tidak ada yang bertanya. Apakah benar semua mahasiswa itu mengeluh soal UKT. Faktanya tidak demikian karena sekalipun UKT melambung toh jumlah mahasiswa di beberapa prodi bonafide tidak berkurang, justru begitu diminati misalnya Ekonomi Syari'ah atau Tadris Matematika dan Bahasa Inggris. Bagaimana dengan prodi Filsafat dan Tasawuf, mengapa UKT nya kecil tapi jumlah mahasiswanya sedikit.
Sebenarnya poin pentingnya bukan pada nominal tapi pada minat itu sendiri. Terakhir yang menurut saya unik adalah terjadi salah paham dalam tulisan soal fatherless. Fatherless itu bukan tentang cerai, kematian atau abai terhadap tanggungjawab mencari nafkah. Fatherless itu sebuah hambatan di mana seorang anak merasa tidak tersentuh peran ayah. Jadi seandainya orang tuanya lengkap dalam hal ini ayah tapi ia disibukkan oleh pekerjaan. Sehingga anaknya kehilangan figur atau sosok ayah maka hal tersebut disebut fatherless. Jadi intinya fatherless dengan dedies issue atau ketimpangan gender itu sudah berbeda.
Lebih lagi yang sekadar menarasikan betapa sulitnya mencari biaya untuk kuliah. Intinya jika soal biaya kuliah jangan dibuat dramatisir sebab dulu hingga kini banyak anak KIP yang ternyata mampu secara ekonomi. Bahkan dulu di jaman saya ada yang uang KIP untuk keperluan pertanian hingga membeli kendaraan bermotor. Ada juga yang ternyata rumahnya terdapat kendaraan roda empat dan aset lain yang kita tidak ketahui. Padahal harusnya dana KIP itu untuk biaya pendidikan.
Tapi secara umum apapun itu semua para peserta keren dan luar biasa. Semoga ke depannya kita bisa melahirkan esais muda berbakat. Karena kemajuan dan peradaban dimulai dari pemuda yang menulis. Mungkin sekedar saran di event selanjutnya lebih cocok lomba esai dan opini. Karena masih banyak peserta yang ternyata gaya tulisannya cenderung mengalir dan tidak kaku. []
The Woks Institute | Rumah Peradaban 26/8/25
Komentar
Posting Komentar