Langsung ke konten utama

Menghadapi Permasalahan Hidup

Woko Utoro 

Rumusnya sudah jelas dan sejak dulu bahwa hidup ini menyajikan masalah. Sejak jaman Nabi Adam hingga kiamat kelak masalah itu selalu ada. Hanya saja bagaimana kita memperlakukannya. Kadang masalah yang dianggap musuh oleh kita ternyata bisa jadi sahabat. Bahkan seseorang membutuhkan masalah agar hidup jadi dewasa.

Ibarat masakan tidak mungkin hidup kita manis terus. Bayangkan saja jika hidup manis saja mungkin kita mudah terkena diabetes. Hidup itu yang terkadang manis, pahit, asim, gurih, asam, pedas dll. Semua terkumpul jadi satu dalam wadah bumbu rujak. Rasanya pasti nikmat dalam ulekan sambal kacang, yang dipadukan dengan beragam sayuran. Lalu dimakan siang hari bersama orang tersayang. Demikianlah hidup sebenarnya hanya soal berbagi rasa. Hanya soal pergantian rasa antar satu sama lain.

Masalah apapun itu tak ada istilah besar kecil. Semua hanya kembali pada sudut pandang kita sendiri. Masalah itu ibarat mata uang pasti ada dua sisi. Bahkan dalam Al Qur'an jelas bahwa bersama kesulitan pasti ada jalan. Kadang bukan selepas kesulitan tapi bersama dan itulah indahnya hidup. Jika sudah indah ruwetnya dunia seperti apapun pasti ada seni yang membuat kita tertawa, terharu, tersenyum hingga tangis. Yang semua itu kita katakan, " Oh iya ya semua sudah saya lewati. Ternyata saya bisa, ternyata saya kuat. Saya tidak sendiri dan saya mampu".

Masalah itu ibarat ember pecah. Bagaimana sikap kita ketika melihat ember itu. Apakah langsung dipecah sekalian. Atau ditambalkan. Atau dibuang. Mestinya kita tambalkan dulu. Walaupun ember itu tak bisa menampung air tapi setidaknya masih dapat digunakan untuk mewadahi benda lain. Begitulah hidup di mana kita hanya bisa berdamai dengan masalah itu. Cari celah, cari solusi dan buat semua terasa biasa saja.

Sebagai mahluk yang berpikir tentu kita harus tenang. Jika ada masalah bermusyawarah. Jika rasanya tak mampu memecahkan mungkin kita butuh orang lain. Atau kita hanya butuh sendiri untuk mendengarkan suara dari dalam. Suara yang kadang kita sendiri lupa. Bahwa semua itu dikirimkan Tuhan sebagai teman yang dia tak akan pergi. Dia selalu setia bersama kita selamanya.[]

the woks institute l rumah peradaban 26/8/25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...