Woko Utoro Beberapa hari lalu saya menghadiri undangan maulid nabi di tetangga sebelah. Seperti biasa setelah mahalul qiyam catatan di hp langsung bekerja untuk menulis intisari dari penceramah. Kebetulan penceramahnya Ustadz Hasan Basri. Walaupun memakai bahasa Madura sedikit-sedikit saya paham. Beliau membuka dengan candaan bahwa maulid itu ada 2 yaitu pribadi dan demokrasi. Jika pribadi tentu dilaksanakan dengan modal pribadi. Sedangkan demokrasi biasanya iuran dan sering dilaksanakan di masjid. Berkatnya dibawa dari rumah dan di makan bersama. Selanjutnya kata beliau Imam Sirri Syaqoti, berkata bahwa siapa orang yang hadir dalam maulid maka pada hakikatnya orang itu hadir dalam kebun surga. Jadi kata beliau kebun surga itu bisa disematkan pada majelis dzikir dan majelis maulid nabi. Kebun surga di dunia yang pastinya berharap bertemu lagi di surga. Kebun surga itu bukan berkatnya mewah atau jamuanya melimpah. Tapi kebun surga itu adalah terdapat rasa mahabbah, hadir dan...
Woko Utoro Beberapa waktu kita sempat iri dengan Muhammadiyah (MU) terutama soal geliat literasi. Apalagi terakhir ketika saya baca di event guru menulis Jawa Pos rerata pesertanya dari MU. Entah di mana guru NU berjejak dalam aktivitas literasi. Apakah guru NU tidak bisa menulis atau memang tidak minat. Tentu saya bisa menjawab akan hal ini. Sehingga sejak dulu jika saya khidmah di NU saya akan membela organisasi ulama ini lewat pena. Ada orang bilang bahwa jejak literasi NU sangat berserakan terutama di jagat turats. Di bidang literasi pun NU mendominasi hanya saja banyak dari mereka memilih bersembunyi. Dari pendapat itu dalam pengalaman saya terjun ke lapangan literasi di NU masih minim terutama di kalangan guru yang berafiliasi dengan LP Ma'arif. Baik itu tradisi menulis kitab putih maupun kitab kuning guru-guru NU masih belum menyentuh ke sana. Walaupun mungkin jika buka data para guru di NU mulai bergeliat. Saya pun sadar bahwa membangkitkan tradisi berliterasi d...