Woko Utoro Di manapun dan di setiap tempat yang saya singgahi. Kebetulan mic dan panggung saya jajaki. Di sana saya tidak bosan berpesan kepada teman-teman untuk belajarlah mendengar. Karena pembelajaran mendengar adalah hal pertama sebelum belajar bicara. Seorang bayi mungkin belum bisa bicara kecuali tangis tapi mereka sudah mendengar atas suara sekelilingnya. Maka teorinya jelas bicaralah hal-hal baik karena bayi merekam dengan cara mendengar. Perihal mendengar ini penting. Sebab tidak setiap orang mampu bahkan orang dewasa sekalipun. Lebih lagi konteks lebih luas yaitu penguasa hari ini. Anda bayangkan mungkinkah orang tidak dengar ketika orang sekitarnya menjerit. Mungkinkah ksatria sakti tidak tahu dengan kondisi rakyatnya. Rasanya aneh jika telinga dan kesaksian tak mampu merespon derita. Sederhana saja barangkali yang sedang di atas tengah tuli atau tak berfungsi alat pendengaranya. Terkadang bukan soal fungsi pendengaran tapi justru empati yang tak tergugah. Orang ...
Woko Utoro Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan teman-teman santri apa sih surga itu. Mengapa banyak orang menginginkan surga. Jika tidak masuk surga apa salah? Pertanyaan itu sederhana tapi memantik kami untuk berdiskusi. Tentu saya melepaskan makna surga ke mereka sesuai kemampuan berpikirnya. Intinya semua sepakat bahwa surga sebagaimana gambaran al Qur'an yaitu sebuah tempat yang penuh dengan kenikmatan. Ilustrasinya yaitu sungai dengan ragam jenis minuman, buah-buahan yang kaya, kilau emas, zamrud, bantal dan dipan yang tertata rapi serta bidadari bermata bening dll. Makna pengertian surga tersebut benar adanya. Siapa pula yang mau menolak al Qur'an. Tapi tentu ada makna lain yang menarik perihal surga. Pertama, surga itu جنّ yang bermakna tersembunyi, rimbun, istimewa dll. Jadi ibarat kebun dengan daun yang lebat dan buah yang banyak itu juga surga. Sehingga siapa saja dibuat takjub dengan keindahannya. Kedua, surga itu sesuatu yang melekat pada diri. Misa...