Langsung ke konten utama

Postingan

Bukan Sekadar Ngobrol Warung Kopi

Woko Utoro  Spongebob Squarepants pernah bilang ke Squidward, jika ingin jadi seniman gunakanlah imajinasi. Sambil membentuk setengah lingkaran imajinasi itu berbentuk pelangi. Dari adegan itu saya sering bilang ke teman-teman bahwa imajinasi mahal harganya. Pikiran dan imajinasi adalah senjata kata Einstein. Orang bisa menjadi apa saja dengan the power of mind. Di suatu pagi seorang anak menghadang saya. Ia hanya ingin saya mendengarkan ceritanya. Kebetulan cerita itu sudah ia tulis dalam beberapa lembar buku. Katanya cerita itu ia dapat saat berkunjung ke pasar tempo hari. Ia bercerita tentang kucing yang terlantar. Katanya kucing itu berjumlah lebih dari dua. Mereka dibuang dan kondisinya sangat memprihatikan. Ia memberi kucing itu dialog yang intinya kasihan bahwa di terlantarkan itu tidak enak. Kucing merasa kesakitan ketika ditendang, kedinginan saat disiram dan lapar ketika belum makan. Lalu beberapa saat kucing itu diambil orang, kata si anak kucing itu diadopsi...
Postingan terbaru

Ayat Terpanjang Itu Tentang Hutang Piutang

Woko Utoro  Saya tergelitik ketika Gus Baha menjelaskan bahwa ayat terpanjang dalam Al Qur'an tidak bicara tentang shalat, puasa, zakat atau haji. Justru ayat terpanjang dalam Al Qur'an malah bicara tentang hutang piutang dan muamalah. Ayat terpanjang tersebut yaitu terdapat dalam Surah Al Baqarah ayat 282. Dalam ayat tersebut gamblang dijelaskan bagaimana hutang piutang bisa menyelamatkan sekaligus ancaman. Sederhananya ayat terpanjang yang terdiri 128 kalimat dan 540 huruf tersebut jelas menyinggung hubungan orang yang berhutang dan yang dihutangi (piutang). Ayat tersebut langsung bilang bahwa sangat besar kemungkinan jika persaudaraan bisa bubrah hanya karena hutang piutang. Itu sebabnya ayat tersebut berpesan jika hutang piutang harus ada sanksi, pencatatan serta ragam perjanjian pelunasan.  Tidak peduli besar atau kecil nominalnya hutang tetaplah hutang dan akan ada sesi pertanggungjawaban. Dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa banyak orang yang menyepelek...

Menyelami Dunia Pedagang Kecil

Woko Utoro  Beberapa minggu kami menikmati menjadi pedagang kecil. Tentu kecil di sini yaitu ambil keuntungan sedikit. Selain juga menjajakan jualan dengan dititipkan ke kantin sekolah. Tapi walaupun demikian kami merasa senang. Awalnya mungkin lelah tapi lambat laun kita tersadar bahwa kerja keras itu perlu. Mungkin keuntungan tidak seberapa tapi yang kami cari adalah bagaimana proses itu bekerja. Sebelum bicara keuntungan dan modal hal yang kami dapat adalah saat jualan tidak laku. Ini bukan rugi tapi justru keuntungan dalam bentuk lain. Saya selalu bilang ke istri bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mungkin yang kita lakukan terasa melelahkan tapi faktanya terselip pelajaran. Seperti rumus bahwa di balik kerja keras selalu ada kebahagiaan dan putus asa. Di sanalah kita bekerja untuk bersiap atas segala sesuatunya. Kata orang tua bersyukurlah masih mampu berpikir hingga ke sana. Karena dengan begitu kita ditempa menjadi dewasa. Kita dididik langsung oleh keadaan...

Menulis Mengubah Hidup

Woko Utoro  Warga UIN SATU atau bahkan di dunia literasi, siapa yang tak kenal dengan Prof Ngainun Naim. Nama yang sangat familiar dan lekat dengan dunia tulis menulis. Jika dengan nama beliau kita langsung terpukau terutama dalam hal kepenulisan, "ini orang luar biasa energi menulisnya tak pernah habis". Tapi di balik itu semua kata Prof Naim tidak selalu mudah. Prof Naim selalu berbagi kisah bahwa rekam jejak kepenulisannya tidak selalu mulus. Jangan dikira saat ini beliau langsung sukses. Beliau telah melewati pahit getirnya ditolak oleh penerbit, dicemooh teman-temannya hingga frustasi. Tapi karena sudah menjadi niat akhirnya beliau percaya bahwa menulis dapat mengubah hidup. Dulu bahkan kini dari tulisan bisa mendapat cuan. Tinggal bagaimana kita mengolah kata sesuai kebutuhan pasar. Selama tidak melanggar hukum tulisan sejatinya dapat dijual. Terpenting bukan reward yang didapat melainkan proses panjang nan melelahkan. Kata Prof Naim, menulis itu ada kepuasa...

Dunia Tanpa Buku

Woko Utoro  Istri saya kurang tertarik soal dunia literasi terutama buku. Tapi bukan berarti tak peduli. Justru ia paling peduli. Ketika saya punya ide menjual beberapa buku untuk kebutuhan harian ia bilang, "Jangan, itu sejarah hidup. Sekarang aku hadir di antara halamannya". Ketika buku-buku diserang semut merah ia yang paling risau. Katanya, "Segera evakuasi, karena buku bukan sekadar tumpukan kertas tapi kumpulan pengetahuan". Dari kepedulian istri saya belajar bahwa buku bukan sekadar kertas berisi tulisan. Tapi buku adalah rekam jejak kehidupan. Di sana ribuan pemikiran lahir dan tinggal. Apalagi katanya buku itu sudah saya kumpulkan sejak awal kuliah. Maka dari itu apa susahnya untuk merawat dan membacanya kembali. Dari sanalah saya pun insyaf bahwa ide menjual buku adalah hal gila. Kata istri jangan sekali lagi buku jadi biang kerok atas kekurangan. Justru buku itu harus jadi pondasi karena esok kita akan mendidik generasi baru. Dari sini pula sa...

Sinau Srawung

Woko Utoro  Ada istilah "srawung hamengku ono" atau bahasa sederhananya bersosial maka kamu ada. Tentu srawung di sini bisa bermakna bertemu, silaturahmi, kebersamaan, diskusi dll. Siapa saja boleh mengartikan srawung demikian tapi yang jelas maknanya bisa terbagi menjadi dua. Pertama, secara jasadi srawung berarti pertemuan dua orang atau lebih dalam sebuah majelis. Kedua, terkoneksinya seseorang dengan makna srawung itu sendiri. Bagi orang introvert atau yang menyukai kenyamanan, keheningan dan kesendirian tentu makna srawung pertama tidak cocok. Sebab srawung dalam arti fisik akan sangat kesulitan bagi mereka yang tak terbiasa. Tapi bagi orang yang terbiasa atau membiasakan diri pertemuan adalah ladang pengetahuan. Jika memakai srawung dalam arti kedua niscaya siapa saja bisa menggunakannya. Srawung kedua lebih bermakna batiniah. Artinya selain meminta pertemuan fisik juga sekaligus menanam koneksi lebih dalam. Dalam bahasa sederhana apa guna pertemuan di satu ...

Mbah Ridho dan Kisah-kisah Kehidupan

Woko Utoro  Saya selalu punya kesan mendalam ketika sowan ke ndalem Pak Ridho Al Qadri. Sudah lama sekali mungkin sekitar setahun lebih saya tidak berkunjung ke sana. Sampai saat ini anak-anak beliau sudah besar dan rumahnya juga berpindah. Waktu berjalan begitu cepat dan Alhamdulillah saya bersama istri bisa kembali ke sana. Malam itu lepas shalat isya kita langsung bertolak ke Pucung Kidul arah Sanggrahan atau beberapa meter dekat Goa Selomanggleng. Kami berbincang hangat dan tak lupa secangkir kopi telah tersaji nikmati. Kami mendapatkan wejangan yang luar biasa terutama tentang kehidupan. Pertama, istri saya diminta agar saya tetap berpikir positif, jangan rendah diri dan optimisme. Pesan tersebut memang sangat cocok sekali buat saya yang sering nampak berkeluh kesah. Kedua, kalian itu tidak memiliki tanah air di Tulungagung. Jadi bagaimana sekarang berpikir untuk bekerja lebih keras. Setelah itu berusaha untuk investasi tanah. Karena bagaimanapun hidup itu dinamis ...