Woko Utoro Awalnya judul tulisan ini adalah, "Menulislah Selagi Jomblo" tapi ketika saya pikir ulang menjadi tidak tepat. Karena kejombloan bicara status sedangkan lapang adalah waktu. Waktu seperti kita tahu sesuatu yang melekat kepada siapapun tanpa perlu tahu status sosialnya. Bicara soal waktu tentu kita ingat Surah Al Asr, demi masa atau dalam bentuk lagu yang dilantunkan Raihan (2001). Demi masa menjadi pengingat kita tentang salah satunya lapang sebelum sempit. Dalam konteks menulis saya tentu merasakan hal itu. Saya merasa hari-hari ini dengan status sebagai suami rasanya hidup seperti diburu waktu. Saking sibuk atau padat atau apa saya tidak paham rasanya untuk menulis begitu sulit. Padahal waktu 24 jam terbilang sangat banyak. Saya tidak membayangkan jika nanti sudah memiliki momongan. Pasti akan lebih repot lagi bukan sekadar waktu tapi kesempatan untuk tetap konsisten. Semoga saja aktivitas menulis masih terus dijalankan walaupun mungkin sedikit tertat...
Woko Utoro Alhamdulillah saya dan Ang Irfan bisa hurmat ta'jiyah ke rumahnya Mbah Marfiatun di Kebonagung Udanawu Wonodadi Blitar. Walaupun informasinya telat tapi kami sampai di sana tepat di peringatan ke tujuh harinya. Tepat di malam Jum'at setelah magrib kami langsung meluncur ke sana. Walaupun sebenarnya tidak tahu kapan acara tahlilan dilangsungkan. Kami berangkat dengan bergegas dan percaya diri. Singkat kisah ternyata kami bisa mengikuti acara dari awal hingga akhir termasuk tahlil dan khatmil qur'an. Tentang siapa sosok Mbah Marfiatun tentu menarik untuk dicatat di sini. Sebab sosok beliau memang luar biasa. Sosok yang langka tentunya ketika melihat jaman sekarang yang penuh tipu daya. Mbah Marfiatun adalah garwanipun Mbah Kyai Imam Ahmad atau ibu dari KH Hafidz Baehaqi, Pak Huda dan putra-putri lainnya yang belum saya kenal. Beliau dipanggil oleh orang-orang sekitar dengan panggilan Yu Tun atau Mbah Tun. Foto : Siswa-siswi MI Syafi'iya...