Woko Utoro Di kontrakan tempat kami tinggal segala jenis semut hadir silih berganti. Dari mulai semut gula, semut hitam dan semut api. Mereka berjalan-jalan di antara beras, kertas lembab, hingga kardus dan buku. Ketika saya mencoba membersihkan ternyata mereka tak kunjung pergi. Justru para semut itu malah semakin banyak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Padahal segala tips n trik mengusir semut sudah kami upayakan. Misalnya mulai dari menaruh garam, kapur ajaib, hingga minyak gosok. Hingga akhirnya kami pun menyerah dan kini hanya berdamai dengan mereka. Poin pentingnya kita hanya perlu menjaga kebersihan. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang gula atau membiarkan makanan terbuka. Pada akhirnya saya pun belajar dari semut-semut itu. Pertama, seperti terdapat dalam Al Qur'an pada kisah Nabi Sulaiman. Semut akan berjalan dalam jalurnya. Mereka jarang berjalan tidak beraturan kecuali ada bahan makanan baru. Sejauh ini semut selalu disiplin dab mereka akan ...
Woko Utoro Beberapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan bimtek yang diadakan Nyalanesia. Kegiatan tersebut semacam pembekalan untuk peserta SPL Nasional. Kegiatan tersebut menghadirkan Uda Ivan Lanin. Acara serupa juga dihelat sebelumnnya yaitu menghadirkan Gus Nadhir dan Gus Muh alias Muhidin M Dahlan. Sayangnya yang sebelumnya tersebut saya tidak bisa mengikuti karena terbentur jadwal. Singkat kisah, siapa yang tidak kenal Ivan Lanin. Ia adalah tokoh kebahasaan modern yang lahir di Bukittinggi. Makanya orang-orang memanggilnya Uda Ivan Lanin. Hampir 15 tahun terakhir kata Uda Ivan ia bergelut dengan bahasa. Padahal sejak S-1 ia mengambil jurusan teknik kimia ITB. Barulah di program magister ia mengambil pemprograman alias komputasi. Mungkin di S-2 itulah kesenangannya dalam hal bahasa muncul. Kini Uda Ivan mendirikan lembaga Narabahasa dan juga Wikipedia Indonesia. Sebuah lembaga yang concern di bidang menghayatan bahasa Indonesia baku sekalipun merapal bahasa d...