Langsung ke konten utama

Postingan

Sowan Bu Hj Roudhoh dan Pamitan

Woko Utoro Saya memanggil beliau Bu Roudhoh tanpa title hajjah dan memang itu yang beliau mau. Ini merupakan tujuan sowan terakhir saya selama di Tulungagung. Bu Roudhoh merupakan salah satu guru perempuan saya di Tulungagung. Selama itu pula kami seperti anak dan ibu, guru dan santri bahkan sahabat. Singkat kisah setelah janjian sekitar seminggu lalu saya bisa sowan ke ndalem beliau. Pada saat itu tepat hari Sabtu sehari sebelum saya geser dari Tulungagung. Hari itu juga saya lupa jika ada anak-anak TPQ yang mengaji. Hingga benar saja perbincangan kita sebentar saja. Tapi walaupun demikian semoga hubungan ruhaniyah kita tak pernah putus. Saya dapat wejangan banyak dari beliau. Katanya jangan lupa tetap istiqamah untuk terus berjuang di jalan Allah di manapun tempatnya. Apalagi jika urusan agamanya Allah kita harus terus gigih syiar dan tidak boleh loyo. Dari jalan apapun perjuangan harus terus diupayakan dan semuanya semampu kita.  Selanjutnya sebagai seorang laki-lak...
Postingan terbaru

Sowan Pak Munir dan Pamitan

Woko Utoro Malam itu saya bertemu Pak Munir di warkop utara POM Rejoagung. Awalnya saya ingin bertemu di rumah tapi ternyata bertepatan dengan jadwal ngaji istri beliau. Akhirnya warkop menjadi pilihan utama. Sembari menunggu Bu Ikfi ngaji saya pun berbincang dengan Pak Munir. Kami berbincang sekitar satu setengah jam. Waktu yang terbatas tentunya. Karena malam itu saya sudah ditunggu teman di pondok. Akhirnya seperti biasa Pak Munir cerita tentang organisasi dan masa depan. Dalam perbincangan itu beliau sudah tahu maksud tujuan saya. Dan memang saya berniat pamit ke beliau untuk boyong dari Tulungagung. Dalam perbincangan itu Pak Munir berpesan untuk terus mengasah diri. Karena skill jika tidak diasah akan tumpul. Tekuni terus kemampuan yang kita miliki sampai mahir. Jika sudah beridentitas tentu orang akan mencari sendiri. Selanjutnya jangan lupa terus berkoneksi. Karena koneksi itu tidak tahu kapan akan bertemu. Hadapilah segala sesuatu dengan sabar dan tawakal. Karena ...

Sowan Pak Ridho dan Pamitan

Woko Utoro  Malam itu selepas janjian saya berencana sowan ke rumah Pak Ridho Al Qodri dan Bu Viona. Tepat di malam minggu saya tiba di rumah beliau dengan membawa dua kotak terang bulan isi pisang. Beberapa menit setiba di sana saya belum bisa menemui Pak Ridho. Ternyata beliau sedang di kebun untuk memadamkan api. Hingga beberapa menit kemudian barulah Pak Ridho datang. Singkat kisah seperti biasa kita ngopi lalu terjadilah ngobrol. Tanpa berlama-lama saya matur ke beliau jika ingin pamit dari Tulungagung. Bukan karena alasan problem, yang jelas ini memang kebutuhan di mana saya harus pulang ke rumah istri. Dari itu akhirnya Pak Ridho memberi pesan panjang lebar kepada saya. Kata beliau nikmati saja prosesnya. Kehidupan awal menikah memang jamak seperti itu dan setiap orang mengalaminya. Tinggal bagaimana kita terus belajar dan adaptif terhadap tradisi budaya yang berlaku. Setelah itu barulah kita menyelami kehidupan di sana bersama istri. Karena esok kita membangun ...

Sowan Mbah Yai Ali dan Pamit

Woko Utoro Banyak wali yang sudah saya ziarahi selama mukim di Tulungagung. Beliau-beliau tersebut lah yang menjadi kiblat spiritualitas selama saya menimba ilmu di sini. Hingga akhirnya saya melakukan pisowanan terakhir yaitu ke maqbarah Mbah Yai Ali Shodiq Uman PPHM Ngunut. Ada kisah sebelum saya sowan Mbah Yai Ali. Kisah tersebut berawal dari mimpi. Setelah beberapa hari saya ziarah ke makam Mbah Fattah Mangunsari lalu Mbah Hasan Mimbar Majan. Malamnya saya bermimpi bertemu Gus Rouf (KH. Fathurrouf Sya'fii). Malam itu Gus Rouf bilang, "Lho Mas sampean ditimbali Mbah Yai Ali. Dawuh Yai, "Kok sampean ra rene le?". Dari dawuh itulah besoknya saya langsung gas ke Pondok Ngunut. Setiba di makam Yai Ali saya membaca Yasin dan Tahlil. Selepas itu saya berdoa dan berwasilah semoga perjalanan selanjutnya dapat dilewati dengan baik. Saya juga berdo'a semoga wasilah Yai Ali dapat terus istikomah di jalur keilmuan. Seperti kita tahu Mbah Uman adalah sosok pec...

Bisikan Syaitan

Woko Utoro Dalam permainan suwit untuk mengalahkan gajah (ibu jari) bukan dengan orang (jari telunjuk) atau sesama gajah. Ternyata gajah bisa tumbang cukup dengan semut (jari kelingking). Dari permainan itu kita bisa belajar tentang hal-hal yang ada dalam lingkaran sosial. Bahwa kadang untuk menumbangkan sesuatu ternyata hanya butuh hal yang sederhana. Misalnya dalam sejarah pasukan bergajah Abrahah dapat tumbang hanya melawan kawanan burung Ababil. Dalam sosial kita pun demikian ternyata untuk menumbangkan seseorang mudah saja cukup dengan berbisik. Jangan dikira seseorang tumbang harus dengan senjata canggih padahal dimulai dari bisikan. Kita tahu dari bisikan selalu mengandung racun syaitan. Maka dalam etika sosial Islam berbisik di depan forum pembicaraan itu dilarang. Apalagi berbisik di antara tiga orang yang sedang berkumpul. Karena bisikan menimbulkan prasangka. Oleh karena itu hati-hati dengan pembisik. Dalam berbagai kasus kriminal di Indonesia misalnya seringnya ...

Berdaulat Diri

Woko Utoro Saya membaca banyak tentang Mbah Nun. Sebelum mengerti langsung orangnya saya berkenalan dengan ratusan tulisannya. Satu hal yang sering disampaikan Mbah Nun baik dalam tulisan maupun di forum Maiyah adalah berdaulat diri. Ya, daulat adalah kata yang sering diurai Mbah Nun dalam aktivitas sinau bareng. Berdaulat diri artinya mengerti tentang diri sendiri. Kata itu Mbah Nun peras dari tradisi sufi, "man arofa nafsah faqod arofa robbah" sopo wonge seng pingin ngerti Gusti Allah ngertio awakmu dewe. Jika kita ingin mengerti siapa Allah maka harusnya mengerti tentang diri sendiri. Lebih dalam lagi mengerti tentang ciptaan Nya. Bagaimana mungkin kita mengerti khaliq sedangkan kita sendiri belum dikenal. Dalam bahasa Irfan Arifi sebenarnya saya ini Islam apa Jawa. Atau saya ini Jawa yang Islam, atau orang Islam yang tinggal di Jawa, atau apa. Nah dari term itu akhirnya kita jadi berpikir dan terus mencari. Daulat diri bermakna mengerti batas. Sering kali kita...

Nikmat Keseharian

Woko Utoro Gus Baha pernah menjelaskan dalam akhir Kitab Al Basith bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernh cemburu. Mengapa Nabi Sulaiman diberi mukjizat bicara dengan binatang, mengendalikan angin atau Nabi Musa membelah laut dengan tongkat dll. Lantas tanpa berlama-lama Allah SWT langsung menjawab kecemburuan Kanjeng Nabi tersebut. Kata Allah, "Hai Muhammad tidakkah engkau ingat bahwa dulu kamu yatim. Kamu dibesarkan kakek dan pamanmu. Tidakkah ingat jika dulu engkau miskin sedangkan sekarang telah memiliki sesuatu. Bukankah dulu engkau tidak mengerti apa-apa dan sekarang jadi memahami akan al Qur'an". Dari itulah Kanjeng Nabi menjadi paham ternyata nikmat kesehatan sungguh luar biasa. Bahwa terkadang keyakinan kepada Allah SWT hanya membutuhkan nikmat keseharian yang nampak sederhana. Gus Baha lalu mengajak kita refleksi. Memang jika kita bisa terbang, atau bisa membelah laut atau membuat burung dari tanah liat hendak apa. Apa dengan mukjizat itu umat akan te...