Langsung ke konten utama

Postingan

Kembali Ke Diri

Woko Utoro  Anda mungkin pernah atau terlampau sering jika selepas kerja badan terasa penat. Setelah itu scrol medsos di smartphone untuk sekadar cari hiburan. Lambat laun bukannya badan terasa ringan justru sebaliknya. Tengkuk di leher terasa berat dan badan terasa malas untuk bergerak. Apalagi jika sudah dihadapkan dengan ibadah rasanya seperti ada setan yang menunggangi. Padahal semua hanya soal mindset kita saja. Dari problem itu sebenarnya kita sadar. Tapi sayang kesadaran itu terbelenggu. Seperti banyak petuah mengingatkan bahwa semakin banyak aktivitas di depan gawai justru kita makin tersesat. Kita mudah terbawa arus informasi yang begitu deras. Kita mudah tenggelam dalam lautan yang tak bisa dibendung di dunia digital. Akhirnya kita berpikir mengapa hiburan dan segala informasi di gawai tidak membuat kita puas. Justru medsos dan gawai hanya membuat kita kehilangan arah. Hidup seperti tersesat dan entah mengapa terjebak di lubang yang sama. Salah satu hal yang p...
Postingan terbaru

Resep Panjang Umur

Woko Utoro  Seminggu lalu saya dan istri mudik ke kampung halaman, Indramayu Jabar. Singkat kisah ada banyak hal yang kami dapat dalam perjalanan pulang tersebut. Selain dapat bernostalgia kampung halaman kami juga mendapat petuah luar biasa terutama dari ibu, saya memanggil beliau mama. Ketika melihat bapak dan mama saya langsung teringat pesan jika ingin hidup bahagia maka lakukanlah kiat berikut: Pertama, dalam rumah tangga pasti ada perselisihan atau salah paham. Maka dari itu selalu mengalah adalah kunci. Mengalah bukan berarti kalah tapi justru sebuah pilihan untuk bijaksana. Kedua, dalam bersosial jangan mudah sakit hati apalagi menyimpan dendam. Dendam tidak akan memadamkan api dan justru sebaliknya membakar diri sendiri. Ketiga, hidup itu sederhana, jangan dibuat pusing dan kita menghindari stres. Selama ada jalur positif tempuhlah karena itu obat agar hati dan pikiran fresh. Keempat, dalam berbagai situasi tetaplah sabar, jangan mudah gegabah, jangan ceroboh d...

Lebaran dan Pulang

Woko Utoro  Kata bapak saya, "Untung kita punya tradisi lebaran. Coba bayangkan di negeri Eropa mungkin tidak mengerti bagaimana cara mereka pulang". Dari apa yang dikatakan bapak itu tentu terasa sangat eksistensial. Betapa pun gagahnya dunia modern toh masih menyisakan lubang menganga pada batin. Percis apa yang disampaikan bapak tempo hari tentang tradisi pulang kampung. Seperti kita tahu lebaran hanya terjadi setahun sekali. Momen itu sangat langka sekaligus sakral. Orang bisa saja memaknai dengan pikiran apapun. Tapi satu hal yang tak boleh dilupakan adalah perjalanan pulang. Dalam makna fisik tentu kepulangan adalah proses perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Tapi secara lebih maknawi, pulang adalah kembali ke kampung ruhani. Tempat di mana kita mengerti akan muasal. Tempat di mana kita menimba ulang pertanyaan dari mana, mau apa dan hendak kemana? Itulah barangkali yang tak pernah ditanyakan oleh sebagian orang dan bapak merujuk pada Eropa. ...

Masjid dan Perpustakaan

  Woko Utoro  Kemarin malam Senin saya dan istri kembali ke Tulungagung dalam perjalanan dari Probolinggo. Kami naik motor dari Probolinggo ke Tulungagung dan singgah di Malang sekitar pukul 24:00 WIB. Di Malang ini kami istirahat sejenak selepas perjalanan jauh Probolinggo - Tulungagung untuk menjenguk Simbah yang sakit. Singkat kisah kami rehat di Masjid Besar Al Ihsan Pakisaji Malang. Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji terdapat di Jalan Raya Pakisaji No. 118 RT 01 RW 03 Kabupaten Malang Jawa Timur. Kebetulan masjid ini merupakan salah satu titik rest area tempat ramah pemudik. Tempat di mana lebih nyaman dari posko milik polisi yang formalitas itu. Tanpa sengaja saya dan istri singgah di masjid ini untuk shalat dan menikmati camilan. Di masjid Al Ihsan ini kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Ornamen masjid dan kaligrafinya membuat orang segera angkat kamera untuk selfie. Terdapat coffee break, teh dan jajanan gratis. Belum lagi karpet nan empuk ...

Teras Gua Hira

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya nobar film Budi Pekerti (2023) karya Wregas Bhanuteja. Di waktu itu pula saya membaca kembali kisah diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Dua momen tersebut ternyata tidak sengaja saling berelasi dan saya belajar memaknai itu semua. Titik temu pada dua momen itu adalah tentang kebisingan media sosial. Pertama, film Budi Pekerti berkisah tentang seorang guru bernama Bu Prani yang hidupnya dibuat gusar oleh fenomena konten di media sosial. Bu Prani dikisahkan terkena framing akibat dianggap misuh (mengumpat) ketika mengantri kue putu di Pasar Beringharjo. Singkat kisah framing medsos dan segala klarifikasi justru semakin memperkeruh suasana. Pada akhirnya dari segala benturan di dunia digital saya menemukan jawaban dari kasus Bu Prani yaitu : problem perundungan, salah paham, dan ocehan netizen tak akan pernah selesai jika kita terus berkubang di dalamnya. Solusinya hanya satu yaitu temukan kedamaian, tutup telinga dan ...

Puasa Untuk Mencetak Pribadi Yang Bertakwa

Woko Utoro  Jika ada yang tanya apa makna puasa dan apa yang ingin dicapai dalam ritual ibadah ini. Jawabannya jelas sejak dulu hingga kini puasa adalah menggapai ketakwaan manusia. Puasa tidak hanya bermakna menahan tapi lebih dari itu. Puasa adalah kondisi di mana seseorang mengetahui batas dirinya. Sedangkan yang ingin digapai puasa adalah menjadikan manusia bertakwa. Karena puasa adalah medan ruhani yang menempa kita menjadi pribadi berbudi luhur. Puasa adalah madrasah ruhani yang mendidik jiwa dan bukan sekadar fisik. Lantas bagaimana kerja puasa untuk menggapai ketakwaan. Sebelum itu kita harus tahu makna takwa itu sendiri. Kata Sayyidina Ali takwa itu takut kepada Allah SWT. Sesuai asal katanya, takwa berasal dari ittaqo, yattaqi, al woqoyah atau hati-hati. Artinya hidup ini harus hati-hati dan jangan sampai ceroboh. Ketakutan kepada Allah SWT harus lebih tinggi daripada takut menghadapi mahluk. Kehati-hatian juga bagian dari ajaran utama agar orang tidak merasa ...

BPJS dan Kisah Sulaiman

Woko Utoro  Jagat maya tengah ramai membahas pemberhentian PBI BPJS kesehatan. Pemberian Bantuan Iuran BPJS tersebut dinonaktifkan oleh pemerintah tidak tanggung-tanggung ada sekitar 11 juta pemilik. Alasannya sederhana karena ada indikasi perbaikan data di Kemensos. Jika bicara BPJS saya jadi ingat dulu tentang apakah perlu bersandar pada kebaikan pemerintah. Sehingga seolah-olah kita berharap untuk mendapatkan bantuan. Atau dengan BPJS kita berharap ditanggung misalnya ketika terkena musibah. Di wilayah ini rasanya tipis sekali antara kemampuan bersandar pada mahluk dan Tuhan.  Bagi orang yang punya BPJS seolah-olah hidup tenang. Jika terjadi sesuatu misalnya sakit atau kecelakaan kerja maka BPJS dan asuransi sejenis dapat membantu. Di sinilah kadang kita berpikir Allah dulu baru BPJS. Atau dalam bahasa sederhana jangan mempertahankan BPJS dengan kehendak Tuhan. Karena bagaimanapun juga BPJS hanya sekadar wasilah dan bukan tujuan. Saya jadi ingat ketika kekuasaan...