Woko Utoro Dalam permainan suwit untuk mengalahkan gajah (ibu jari) bukan dengan orang (jari telunjuk) atau sesama gajah. Ternyata gajah bisa tumbang cukup dengan semut (jari kelingking). Dari permainan itu kita bisa belajar tentang hal-hal yang ada dalam lingkaran sosial. Bahwa kadang untuk menumbangkan sesuatu ternyata hanya butuh hal yang sederhana. Misalnya dalam sejarah pasukan bergajah Abrahah dapat tumbang hanya melawan kawanan burung Ababil. Dalam sosial kita pun demikian ternyata untuk menumbangkan seseorang mudah saja cukup dengan berbisik. Jangan dikira seseorang tumbang harus dengan senjata canggih padahal dimulai dari bisikan. Kita tahu dari bisikan selalu mengandung racun syaitan. Maka dalam etika sosial Islam berbisik di depan forum pembicaraan itu dilarang. Apalagi berbisik di antara tiga orang yang sedang berkumpul. Karena bisikan menimbulkan prasangka. Oleh karena itu hati-hati dengan pembisik. Dalam berbagai kasus kriminal di Indonesia misalnya seringnya ...
Woko Utoro Saya membaca banyak tentang Mbah Nun. Sebelum mengerti langsung orangnya saya berkenalan dengan ratusan tulisannya. Satu hal yang sering disampaikan Mbah Nun baik dalam tulisan maupun di forum Maiyah adalah berdaulat diri. Ya, daulat adalah kata yang sering diurai Mbah Nun dalam aktivitas sinau bareng. Berdaulat diri artinya mengerti tentang diri sendiri. Kata itu Mbah Nun peras dari tradisi sufi, "man arofa nafsah faqod arofa robbah" sopo wonge seng pingin ngerti Gusti Allah ngertio awakmu dewe. Jika kita ingin mengerti siapa Allah maka harusnya mengerti tentang diri sendiri. Lebih dalam lagi mengerti tentang ciptaan Nya. Bagaimana mungkin kita mengerti khaliq sedangkan kita sendiri belum dikenal. Dalam bahasa Irfan Arifi sebenarnya saya ini Islam apa Jawa. Atau saya ini Jawa yang Islam, atau orang Islam yang tinggal di Jawa, atau apa. Nah dari term itu akhirnya kita jadi berpikir dan terus mencari. Daulat diri bermakna mengerti batas. Sering kali kita...