Woko Utoro Sejak kapan membaca buku tak lagi menarik hati. Padahal dalam tradisi membaca ada banyak hal yang kita dapatkan terutama soal kondisi batin dan pikiran. Dulu buku adalah primadona terutama ketika menunggu waktu berbuka, menanti bus tiba hingga sedang dalam antrian. Bazar-bazar buku jadi perburuan terutama ketika ongkos tengah menipis. Tapi kini dunia secepat kilat berubah buku masih tetap banyak tapi pembaca sepi peminat. Saya jadi ingat mengapa buku tidak dilirik apalagi dirayakan sebagai tradisi yang menggugah kesadaran. Sejak logika kapitalisme merebak buku bukan lagi pilihan utama orang memacu otak. Sebab membaca buku hanya membuat orang bosan, malas, pusing hingga putus asa karena tak kunjung paham. Sederhananya logika kapitalis yaitu, "Untuk apa baca buku buang-buang waktu dan tak menghasilkan uang". Buku kalah dengan media sosial yang menjanjikan banyak hal. Paling kentara adalah ruang hiburan dan angan-angan keuntungan. Di sinilah logika pasar ...
Woko Utoro Spongebob Squarepants pernah bilang ke Squidward, jika ingin jadi seniman gunakanlah imajinasi. Sambil membentuk setengah lingkaran imajinasi itu berbentuk pelangi. Dari adegan itu saya sering bilang ke teman-teman bahwa imajinasi mahal harganya. Pikiran dan imajinasi adalah senjata kata Einstein. Orang bisa menjadi apa saja dengan the power of mind. Di suatu pagi seorang anak menghadang saya. Ia hanya ingin saya mendengarkan ceritanya. Kebetulan cerita itu sudah ia tulis dalam beberapa lembar buku. Katanya cerita itu ia dapat saat berkunjung ke pasar tempo hari. Ia bercerita tentang kucing yang terlantar. Katanya kucing itu berjumlah lebih dari dua. Mereka dibuang dan kondisinya sangat memprihatikan. Ia memberi kucing itu dialog yang intinya kasihan bahwa di terlantarkan itu tidak enak. Kucing merasa kesakitan ketika ditendang, kedinginan saat disiram dan lapar ketika belum makan. Lalu beberapa saat kucing itu diambil orang, kata si anak kucing itu diadopsi...