Langsung ke konten utama

Postingan

Mengelola Diri Sendiri

Woko Utoro Kata Nabi Muhammad SAW ada peperangan yang lebih dahsyat dari perang Badar yaitu perang melawan hawa nafsu. Perang melawan hawa nafsu dianggap perlawanan sepanjang usia. Perlawanan ini tidak hanya menuntut fisik tapi pikiran dan hati. Terpenting lagi ilmu, manajerial dan bagaimana cara mengelolanya. Nafsu dalam bahasa psikologi sering disebut emosi dan emosi tersebut tidak untuk dimusnahkan tapi dikelola. Seorang teman bilang di fase usia 25 tahun katanya sering mengalami keterasingan. Apakah kondisi itu umum atau memang bagian dari hawa nafsu. Kata saya setiap fase dalam kehidupan selalu terselip hawa nafsu. Hanya saja tinggal bagaimana kita menyikapinya. Contoh, seorang remaja di masa transisi merasa bingung kemana ia melangkah, bagaimana menentukan pilihan. Seorang pemuda juga demikian dari mana ia berasal, apa yang hendak dicari dan kemana setelah ini. Semua hal itu bagian dari proses bagaimana kita menentukan pilihan. Memang problem terkait mental, pikiran d...
Postingan terbaru

73 Tahun Mbah Nun

Woko Utoro Sebagaimana manusia yang melewati banyak sejarah Simbah tentu mengerti bagaimana memahami kondisi bangsa. Sejak jaman tidak enak hingga saat ini beliau tidak pernah absen bagaimana merasakan kondisi rakyat. Dengan metode berdiskusi Mbah Nun selalu hidup dan menginspirasi. Walaupun kini beliau sudah jarang tampil tapi simpul-simpulnya masih erat. Bahkan mungkin akan terus meluas. Sudah 73 tahun Simbah hadir untuk bangsa. Tidak hanya mengurai masalah tapi beliau selalu jadi pohon. Pohon yang di saat orang lain memilih membesar beliau justru berbeda. Beliau lebih memilih jadi pohon yang tumbuh bersama dan melahirkan cabang-cabang baru. Pohon yang sejuk dan mengeratkan jiwa dari dasar akarnya. Simbah mungkin tahu problem negeri ini begitu sistemik dan tak terkendali. Sehingga kita merasa putus asa ketika melihat kondisi tersebut. Tapi sejenak saat ingat Simbah kita harus tegar. Sebagaimana beliau mengajarkan bahwa selama kita masih punya Allah selamanya tak usah diri...

Idul Adha di Kotaanyar

Woko Utoro Alhamdulillah tahun ini saya berkesempatan lebaran Idul Adha di tempat istri. Kebetulan istri saya berasal dari daerah Kotaanyar Probolinggo. Sebuah daerah yang tidak jauh dengan PLTU Paiton. Daerah ini masuk wilayah yang mayoritas warganya berbahasa Madura. Dan saya masih sangat minim pengetahuan terkait bahasa Madura ini. Singkat kisah seperti orang katakan di daerah yang menggunakan bahasa Madura, suasana Idul Adha hampir serupa dengan perayaan Idul Fitri. Idul Adha pun terdapat salam-salaman, amplop dan silaturahmi. Suasana di makam pun juga ramai. Hanya saja antusiasnya dengan Idul Fitri tetap terasa berbeda. Yang saya tahu selama di sini perayaan Idul Adha terbilang biasa. Yaitu orang-orang bertakbir di malam hari lalu paginya shalat di masjid terdekat. Setelah itu bersalaman dan saling berkunjung ke tetangga. Tak lupa pula ada sebagian yang menyediakan hidangan berupa gulai kambing atau sate daging sapi. Kata Pak Lik, di sini jarang orang berkurban. Yang s...

Pesta Babi dan Hal Yang Memilukan

Woko Utoro Film dokumenter Pesta Babi tengah ramai diperbincangkan. Sebagaimana film sebelumnya Dandhy Laksono menyuguhkan beragam data, potret dan fakta kegetiran. Film Pesta Babi hampir serupa dengan Sexy Killer, Dirty Vote, The Mahuzes, Alkinemokiye dll yang semuanya menyuguhkan key word : oligarki, tambang, militer, bencana ekologis, dan kolonialisme gaya baru. Tentu jika buka-bukaan data atau borok penguasa adalah aib yang melahirkan pro dan kontra. Betapa pilu ketika kita menonton film ini, bayangkan ribuan hektar tanah adat harus digusur oleh keberadaan perusahaan demi proyek strategis nasional. 1800 tiang salib merah melawan 2000 eskavator dan ribuan tentara yang berjaga. Alih-alih perusahaan mundur justru sebaliknya masyarakat dipaksa terusir dari tanah moyangnya. Orang-orang yang menggantungkan hidup dari hutan kini menjadi nestapa. Sebab hutan akan beralih fungsi menjadi sawah untuk padi, perkebunan tebu, singkong dan peternakan. Para suku asli pedalaman tidak ak...

Obituari : Prof Maftukhin dan Sarjana Desa

Woko Utoro Berita duka lagi untuk UIN SATU. Dua hari lalu dosen FASIH Pak Shomad berpulang. Kini Prof Maftukhin kembali ke pangkuan Nya. Tapi saya sedikit tidak kaget. Karena sudah lama beliau memang sering keluar masuk rumah sakit. Kondisi kesehatan beliau makin memburuk seiring bertambah usia. Tapi apapun itu beliau orang baik dan semoga Allah SWT memperkenankannya di tempat yang mulia. Kenangan dengan Pak Tukhin begitu kami memanggil beliau tentu banyak. Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya. Pertama, saya ingat tahun 2015 ketika beberapa anak dari Indramayu singgah di rumah dinas. Setelah menetap beberapa bulan saya baru sadar jika tempat itu rumah dinasnya Pak Tukhin, Pak Rizqon dan Cak Akhol. Selama di sana saya sangat minim berinteraksi dengan beliau. Selain karena sungkan beliau rektor IAIN pada saat itu. Tentu saya masih terkendala bahasa Jawa yang belepotan. Walaupun begitu setidaknya saya pernah membuatkan kopi untuk Pak Tukhin ketika para senior seda...

Pak Shomad yang Mu'tamad

Woko Utoro Tak ada hujan tak ada angin, story WhatsApp menghijau. Saya buka HP, "ah paling ada acara NU" pikir saya dalam hati. Ternyata ketika saya buka story WA beberapa teman menunjukkan informasi yang sama yaitu lelayu. Seperti biasa jika ada info kematian apalagi menimpa orang yang saya kenal, tiba-tiba badan lemas. Innalilahi, sugeng tindak Pak Shomad sedo. Pak Shomad meninggal. Lalu saya pun turut berdo'a semoga beliau husnul khatimah dalam story WA. Tentu saya merasa kehilangan. Karena bagaimanapun beliau adalah aset UIN SATU bahkan Tulungagung. Sosok yang pastinya masih dibutuhkan baik di dunia kampus lebih lagi keluarga dan masyarakat. Namanya Mohammad Ali Shomad Veri Eko Atmojo. Nama yang Jowo sekaligus nyentrik. Nama itu sudah saya kenal sejak jaman Maba, tahun 2015. Melalui buku akademik pada awal pengenalan kampus nama beliau bertengger di antara dosen FASIH. Singkat kisah beberapa waktu saya pernah bertemu dengan beliau walaupun mungkin tidak in...

Setiap Kita Adalah Guru

Woko Utoro Hajaj bin Yusuf pernah terlibat pembunuhan di era Yazid bin Muawiyah. Ia membunuh Abdullah bin Zubair yang sedang i'tikaf di Masjidil Haram. Seperti kita tahu aib besar dan pantangan jika sampai ada pertumpahan darah di tanah haram. Akhirnya dari peristiwa nahas itu menjadikan Hajaj ikon manusia paling dibenci seantero negeri. Singkat kisah sekitar 7 abad dari peristiwa itu Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya menyebutkan bahwa ternyata Hajaj itu putra seorang guru. Tapi bukan guru sejati tapi guru sekadar profesi. Gus Baha menjelaskan guru itu ada dua. Guru dalam makna profesi dan guru hakiki. Guru profesi untuk banyak kita jumpai. Cirinya sederhana yaitu mengajar hanya karena formalitas, ada jadwal, jam, mendapat gaji. Sedangkan guru hakiki dalam kondisi apapun akan terus mengajar. Guru hakiki lebih menekankan pada keikhlasan, kepedulian dan panggilan hati. Guru model kedua ini makin jarang kita temui kecuali bisa kita saksikan pada sosok kiai kampung yang men...