Langsung ke konten utama

Postingan

Rocky Syududu

Woko Utoro Para peselancar media sosial mungkin tidak asing dengan Rocky Gerung. Seorang yang mendaku profesor di Universitas Indonesia. Dulu ia pernah menjadi dosen pembimbing artis Dian Sastro Wardoyo. Oke itu adalah sekian dari popularitasnya sebagai akademisi. Di sudut lain gaya bicara, bahasa yang digunakan dan berpikir kritis adalah keahliannya. Di medsos Rocky Gerung dikenal sebagai presiden akal sehat. Sebuah gelar yang entah dari mana tapi itu bagian dari branding. Bahwa Rocky selalu mengajak berpikir dulu, uji dan lontarkan. Bukan terbalik yaitu berpikir di belakang cangkang kepala. Bagi Rocky orang yang grasa grusu tidak mempertimbangkan logika berpikir maka disebut "dungu". Rocky menyebut frasa itu berulang kali bahkan di forum Nasional. Rocky bukan orang baru. Ia telah berkawan luas dengan siapapun, misalnya di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi bersama Prof Rahman Tolleng bahkan juga di Fordem (Forum Demokrasi) bersama Gus Dur. Tapi dari histori akadem...
Postingan terbaru

Bekerja itu Passion

Woko Utoro Dalam bekerja kita harus memiliki prinsip dan tujuan. Prinsip sebagai pondasi memaksimalkan pekerjaan. Sedangkan tujuan bekerja sebagai motivasi. Tidak ada pekerjaan dilakukan dengan terpaksa. Bekerja dalam hal apapun harus didasari passion. Mengapa passion dalam bekerja sangat penting. Bahwa keterpaksaan dalam bekerja membuat kita berjalan kurang maksimal. Sehingga adanya passion membuat bekerja berjalan dengan baik. Passion itu kerja sepenuh hati. Passion itu kondisi model, potongan atau sikap. Jadi orang yang memiliki passion bekerja akan riang hati dalam melakukannya. Orang yang tidak memiliki passion bekerja akan kesulitan dalam melakukan tugasnya. Tidak ada passion bukan saja membunuh minat tapi sekaligus menghancurkan mood . Dalam bahasa agama jangan berikan pekerjaan pada mereka yang meminta. Tapi berikan pekerjaan pada yang sesuai dengan minatnya. Dalam hal ini saya pernah bekerja sebagai petani ikan. Dari pekerjaan itu jelas saya kesulitan. Di akhir pek...

Pancasila Tidak Sakti

Woko Utoro 1 Oktober diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila. Hari itu diperingati sebagai kesuksesan atas penumpasan terhadap pelaku pemberontakan 30 September 1965. Hingga hari ini mengheningkan cipta, doa dan harapan masih terus dipanjatkan. Entah seberapa empatinya kita faktanya momen itu hanya meninggalkan berkas sejarah. Jika bertanya hari ini apakah Pancasila masih sakti? tentu kita bisa menjawabnya. Kesaksian seperti apa ketika menyaksikan banyak hal ironi di negeri sendiri. Jika Pancasila sakti hanya dimaknai sebagai kemenangan atas penumpasan G30S maka hal itu tidak lebih dari sejarah. Hari ini kesaktian Pancasila kembali diuji terutama soal nurani bangsa. Lebih khusus lagi untuk mereka yang berada di puncak kekuasaan. Kasus terbaru misalnya soal kamar ekslusif napi koruptor di Lapas Cibinong. Jika kita membaca berita tersebut rasanya aneh. Memang sejak dulu negara bermain dengan kotor. Skenario, intrik dan dramanya sangat menjijikan. Bisa dibayangkan mereka ...

Masjid Kita Masih Belum Berdaya

Woko Utoro  Alhamdulillah saya berkesempatan berbincang dengan salah satu penyuluh agama Kemenag Kabupaten Tulungagung yaitu Bapak Samsul Arifin, S.Sos.I. Kali ini perbincangan kita bertemakan masjid. Terutama bagaimana anak muda mencintai masjid. Sebagaimana kita tahu masjid lebih lagi mushala masih didominasi kalangan tua. Fenomena masjid dan orang tua mungkin bukan satu dua kasus melainkan hampir menyeluruh. Faktornya tentu banyak salah satunya masih hidupnya mindset kolot dari pengurus takmir masjid. Akibatnya anak-anak muda menjadi enggan untuk datang ke masjid. Berbeda dengan era lampau misalnya tahun 90an, masjid mushola selalu ramai dipenuhi anak-anak remaja. Terutama di bulan Ramadhan masjid dan anak muda menjadi tempat tak terpisahkan. Mungkin salah satu faktor mengapa anak muda malas ke masjid salah satunya karena keberadaan gadget. Bagi mereka gadget lebih menggiurkan daripada beribadah ke masjid. Tapi apakah benar faktor gadget yang menjadi problem utama? f...

Murah Hati di Jalan Raya

Woko Utoro Jika kita amati ketika berkendara di jalan raya orang-orang mendadak berwatak beringas. Orang yang biasanya tenang menjelma pembalap dadakan. Maklum saja setiap hari orang-orang diburu waktu. Hidup di jalan raya tak pernah tenang dan selalu terburu-buru. Walaupun begitu ada momen kebaikan yang bisa kita petik saat di jalan raya. Saya bolak-balik melewati jalan Pantura Paiton-Kraksaan. Setiap pagi dan siang. Hampir di waktu itu saya menyaksikan orang memberi sejumlah uang kecil di perempatan, di penyebrangan dll. Tapi uniknya rerata yang memberi adalah kendaraan mobil besar. Jika diurutkan kebaikan diawali dari truk besar, trus biasa, mobil pribadi dan kendaraan roda dua. Terkhusus di stand amal misalnya pembangunan masjid mobil pick up dan motor lebih murah hati. Sedangkan di persimpangan jalan dan bangjo, mobil truk lebih ringan tangan. Dari pengamatan sederhana itu saya jadi ingat bahwa berdasarkan World Giving Index (WGI) 2024 yang dirilis oleh Charities Aid F...

Teladan Keselamatan

Woko Utoro Saya mau bicara tentang jalan Pantura. Saya tidak bicara jalan dalam di pedesaan. Apalagi jalan setapak yang menuju hutan. Ini bicara bukan tentang jalan tapi berkaitan keselamatan. Saya tiap hari ketika berangkat atau pulang kerja selalu mendapati guru-guru naik motor tanpa helm. Entah apa faktornya lebih lagi mereka menaiki sepeda listrik. Saya kadang lucu melihat ironi ini. Apa yang membuat para guru tidak pakai helm. Apakah karena terbiasa atau jarak dekat. Jika terbiasa mengapa kebiasaan buruk itu dilakukan. Padahal guru bertugas menjadi teladan bagi muridnya. Ini bukan soal helm tapi keselamatan. Harusnya teladan Keselamatan dimulai dari guru. Bukankah polisi selalu sosialisasi ke sekolah tentang pentingnya taat lalu lintas. Apakah guru tidak mengetahui hal tersebut? Saya sering berpikir mengapa guru-guru tersebut tidak pakai helm padahal mereka melewati jalan besar. Jalan Pantura seperti kita tahu dilalui kendaraan besar tiap hari. Tanpa helm tentu membaha...

Menulis itu Menyiksa

Woko Utoro Kata orang kok masih ada mereka yang mau menulis. Padahal menulis itu pekerjaan penuh siksaan. Bayangkan saja bagaimana kata dipilih, kalimat dirangkai dan pernak-pernik diaduk rata. Semua menjadi satu, terbungkus dalam tema ide dan gagasan. Belum lagi kita diburu detline, waktu, hingga target. Semua benar-benar membenamkan pikiran. Lebih sedih lagi ketika tidak ada apresiasi, hingga fee. Tapi apakah benar persangkaan orang tentang menulis. Bagi saya hal tersebut bisa saja benar tapi lebih banyak salahnya. Orang yang suka menulis memposisikan aktivitas itu sebagai sahabat. Ibarat kopi di pagi hari kita diburu waktu, tugas serta kesibukan. Tapi terasa wajib untuk diseduh walaupun kadang terasa pahit. Hingga akhirnya kita merasa semua adalah rangkaian proses. Berat dan tidaknya tergantung dengan kesiapan mental. Maka bagi penulis tidak ada kata menyiksa. Semua berjalan apa adanya bahkan cenderung mengganjal ketika tidak melakukannya. Dalam menulis kita juga membaca...