Woko Utoro Film dokumenter Pesta Babi tengah ramai diperbincangkan. Sebagaimana film sebelumnya Dandhy Laksono menyuguhkan beragam data, potret dan fakta kegetiran. Film Pesta Babi hampir serupa dengan Sexy Killer, Dirty Vote, The Mahuzes, Alkinemokiye dll yang semuanya menyuguhkan key word : oligarki, tambang, militer, bencana ekologis, dan kolonialisme gaya baru. Tentu jika buka-bukaan data atau borok penguasa adalah aib yang melahirkan pro dan kontra. Betapa pilu ketika kita menonton film ini, bayangkan ribuan hektar tanah adat harus digusur oleh keberadaan perusahaan demi proyek strategis nasional. 1800 tiang salib merah melawan 2000 eskavator dan ribuan tentara yang berjaga. Alih-alih perusahaan mundur justru sebaliknya masyarakat dipaksa terusir dari tanah moyangnya. Orang-orang yang menggantungkan hidup dari hutan kini menjadi nestapa. Sebab hutan akan beralih fungsi menjadi sawah untuk padi, perkebunan tebu, singkong dan peternakan. Para suku asli pedalaman tidak ak...
Woko Utoro Berita duka lagi untuk UIN SATU. Dua hari lalu dosen FASIH Pak Shomad berpulang. Kini Prof Maftukhin kembali ke pangkuan Nya. Tapi saya sedikit tidak kaget. Karena sudah lama beliau memang sering keluar masuk rumah sakit. Kondisi kesehatan beliau makin memburuk seiring bertambah usia. Tapi apapun itu beliau orang baik dan semoga Allah SWT memperkenankannya di tempat yang mulia. Kenangan dengan Pak Tukhin begitu kami memanggil beliau tentu banyak. Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya. Pertama, saya ingat tahun 2015 ketika beberapa anak dari Indramayu singgah di rumah dinas. Setelah menetap beberapa bulan saya baru sadar jika tempat itu rumah dinasnya Pak Tukhin, Pak Rizqon dan Cak Akhol. Selama di sana saya sangat minim berinteraksi dengan beliau. Selain karena sungkan beliau rektor IAIN pada saat itu. Tentu saya masih terkendala bahasa Jawa yang belepotan. Walaupun begitu setidaknya saya pernah membuatkan kopi untuk Pak Tukhin ketika para senior seda...