Langsung ke konten utama

Postingan

Menulis itu Menyiksa

Woko Utoro Kata orang kok masih ada mereka yang mau menulis. Padahal menulis itu pekerjaan penuh siksaan. Bayangkan saja bagaimana kata dipilih, kalimat dirangkai dan pernak-pernik diaduk rata. Semua menjadi satu, terbungkus dalam tema ide dan gagasan. Belum lagi kita diburu detline, waktu, hingga target. Semua benar-benar membenamkan pikiran. Lebih sedih lagi ketika tidak ada apresiasi, hingga fee. Tapi apakah benar persangkaan orang tentang menulis. Bagi saya hal tersebut bisa saja benar tapi lebih banyak salahnya. Orang yang suka menulis memposisikan aktivitas itu sebagai sahabat. Ibarat kopi di pagi hari kita diburu waktu, tugas serta kesibukan. Tapi terasa wajib untuk diseduh walaupun kadang terasa pahit. Hingga akhirnya kita merasa semua adalah rangkaian proses. Berat dan tidaknya tergantung dengan kesiapan mental. Maka bagi penulis tidak ada kata menyiksa. Semua berjalan apa adanya bahkan cenderung mengganjal ketika tidak melakukannya. Dalam menulis kita juga membaca...
Postingan terbaru

Ritual

Woko Utoro Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata ritual. Pasti langsung tertuju pada perdukunan. Padahal ritual itu step, tata cara, kebiasaan atau rutinitas. Misalnya ketika orang memulai shalat pasti harus berwudhu, masuk masjid, rapihkan barisan dan shalat. Setelahnya lalu berdzikir, berdoa hingga shalat sunnah. Semua rangkaian itu merupakan ritual. Tentu ketika kita menyebut hal sunnah dan wajib maka ritual setiap orang berbeda. Karena perbedaan itulah akhirnya kita harus saling menghormati. Ritual itu tanda setiap sesuatu ada sesi atau fase yang memantapkan prosesi utama. Dalam arti ritual itu penunjang menuju yang pokok. Walaupun tidak selalu dimaknai demikian. Yang jelas adanya ritual membuat aktivitas kita makin mantap. Misalnya sebelum mahalul qiyam ada ritual salam tawasul, melantunkan qasidah, membaca maulid, diakhiri doa dan mahalul qiyam. Bayangkan tanpa adanya ritus itu mana mungkin membaca maulid diawali dengan mahalul qiyam. Bagaimanapun juga maha...

Ritual Sebelum Menulis

Woko Utoro Banyak orang bertanya apa ritual yang saya lakukan sebelum menulis. Saya jawab tentu tidak ada ritual khusus. Bagi saya menulis ya menulis saja. Saya tidak seperti orang lain yang menulis harus menunggu ide, harus ada rokok kopi, harus mandi dulu, harus di depan laptop, atau harus di alam bebas. Saya bukan tipe penulis manja. Saya menulis apapun, kapan pun dan di manapun. Bahkan ketika tidak membawa smartphone saya bisa menulis. Saya menulis seperti orang-orang biasa. Menulis dengan cara tradisional alias apapun bisa dilakukan. Soal ide saya mudah mendapatkan. Misalnya setelah membaca buku, ngopi, jalan di depan halaman, dari pasar hingga nongkrong di wc. Soal menulis jika tidak ada smartphone maka saya menggunakan buku catatan. Jika tidak membawa apapun saya menyimpan ide di otak. Setelah di rumah langsung ide itu saya tulis. Jika tidak sempat maka bisa dikembangkan esok hari. Sebenarnya menulis itu sederhana seperti buku dan membaca yang menjadikannya kalimat. ...

Mencari Format Menangis

Woko Utoro  Menangis itu fitrah. Siapa saja boleh. Tanpa memandang gender. Tanpa harus menunggu kisah haru atau kegetiran. Menangis adalah bagian dari ekspresi jiwa. Kedalamannya begitu jujur dan tak bisa dibohongi. Barangkali setiap tangis adalah ruang paling luas ketika usai meluapnya. Tangis adalah lorong paling jauh ketika usai tumpah air mata. Pertanyaannya kapan atau di mana kita menangis. Apakah tangis membutuhkan ruang dan waktu. Nampaknya hanya ada 3 tempat yang sesuai untuk kita menangis. Bagi perempuan tentu tangisan tak pernah kenal ruang waktu. Perempuan bisa menangis kapanpun sesuai perasaan mereka. Tapi bagi laki-laki menangis di hadapan ibu adalah keteguhan. Ibu barangkali tidak tahu tangisan kita saat dewasa. Tapi bagi ibu tangisan itu sama saja seperti kanak-kanak. Dan memang bagi ibu sampai kapanpun kita adalah anaknya. Selanjutnya menangis di pangkuan istri atau saat kita memeluknya erat. Itu adalah bentuk pengakuan batin bahwa sekuat apapun melangka...

Ketabahan Rasulullah SAW

Woko Utoro KH Said Aqil Siradj menangis ketika mengisahkan ketabahan Rasulullah SAW. Betapa tidak, beliau memang faham tarikh Rasulullah SAW sampai ke sisi paling dalam. Makanya kata para ulama semakin memahami jejak keilmuan tentang Rasulullah SAW niscaya mereka mudah menghayati kehidupan. Rasulullah SAW sebaik-baik uswah hasanah bagi kita umatnya. Misalnya suatu hari ketika Rasulullah SAW pulang dari Thaif beliau terlihat sangat lelah. Seperti kita tahu di Thaif Rasulullah SAW mendapat perlakuan tidak baik, dicemooh, diludahi hingga dilempari batu. Dalam riwayat beberapa anggota tubuh beliau sampai berdarah. Peristiwa itulah yang membuat Malaikat Jibril geram. Padahal jika mau Rasulullah SAW tinggal berkata, "ya" maka penduduk Thaif bakal serupa kaum Nuh yang ditenggelamkan air bah, kaum Nabi Hud yang diguncang gempa. Atau beberapa kaum Musa yang disambar petir. Tapi Rasulullah SAW berkata, "Saya bukan Nuh, Hud atau Musa. Saya adalah Muhammad". Jikapun...

Esensi Maulid Nabi

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya menghadiri undangan maulid nabi di tetangga sebelah. Seperti biasa setelah mahalul qiyam catatan di hp langsung bekerja untuk menulis intisari dari penceramah. Kebetulan penceramahnya Ustadz Hasan Basri. Walaupun memakai bahasa Madura sedikit-sedikit saya paham. Beliau membuka dengan candaan bahwa maulid itu ada 2 yaitu pribadi dan demokrasi. Jika pribadi tentu dilaksanakan dengan modal pribadi. Sedangkan demokrasi biasanya iuran dan sering dilaksanakan di masjid. Berkatnya dibawa dari rumah dan di makan bersama. Selanjutnya kata beliau Imam Sirri Syaqoti, berkata bahwa siapa orang yang hadir dalam maulid maka pada hakikatnya orang itu hadir dalam kebun surga. Jadi kata beliau kebun surga itu bisa disematkan pada majelis dzikir dan majelis maulid nabi. Kebun surga di dunia yang pastinya berharap bertemu lagi di surga. Kebun surga itu bukan berkatnya mewah atau jamuanya melimpah. Tapi kebun surga itu adalah terdapat rasa mahabbah, hadir dan...

BerNUliterasi

Woko Utoro Beberapa waktu kita sempat iri dengan Muhammadiyah (MU) terutama soal geliat literasi. Apalagi terakhir ketika saya baca di event guru menulis Jawa Pos rerata pesertanya dari MU. Entah di mana guru NU berjejak dalam aktivitas literasi. Apakah guru NU tidak bisa menulis atau memang tidak minat. Tentu saya bisa menjawab akan hal ini. Sehingga sejak dulu jika saya khidmah di NU saya akan membela organisasi ulama ini lewat pena. Ada orang bilang bahwa jejak literasi NU sangat berserakan terutama di jagat turats. Di bidang literasi pun NU mendominasi hanya saja banyak dari mereka memilih bersembunyi. Dari pendapat itu dalam pengalaman saya terjun ke lapangan literasi di NU masih minim terutama di kalangan guru yang berafiliasi dengan LP Ma'arif. Baik itu tradisi menulis kitab putih maupun kitab kuning guru-guru NU masih belum menyentuh ke sana. Walaupun mungkin jika buka data para guru di NU mulai bergeliat. Saya pun sadar bahwa membangkitkan tradisi berliterasi d...