Woko Utoro Orang sekarang itu lucu jika punya keluh kesah langsung datangi medsos. Tanpa lama ragam keluh kesah hingga do'a membanjiri jendela medsos. Sehingga langsung saja memicu banjir komentar sana-sini. Mereka anggap setelah dikomentari, like dan diteruskan masalah akan usai. Tapi katanya seringkali hidup terasa lebih plong jika sudah dipantau orang, tapi apakah hal demikian sudah aman dan selamat? Itulah barangkali fenomena pergeseran di mana orang ingin selalu muncul. Dalam do'a pun demikian yaitu mudah naik, upload dan biarkan media bekerja. Orang menganggap ketika do'a sudah naik posting maka akan ada banyak yang mengaminkan. Mereka lupa bahwa bukan banyaknya amin atau like yang membuat do'a diijabah. Tapi justru karena ketenangan batin dan etika yang membuat do'a diperkenankan. Bahkan kadang do'a yang hadir diam-diam lebih mudah diterima dari yang berisik di media sosial. Jalaluddin Rumi sering bilang mengapa kita berdo'a dengan keras ...
Woko Utoro Ulama adalah pewaris para nabi? Mengapa demikian, karena nabi wafat mewariskan teladan dan ilmu. Dari warisan itulah para ulama meneruskan hingga kini dan tidak lelah mendidik kepada umat. Sedangkan kita umat adalah pengikut ulama. Sebuah cara agar terus bersambung dengan jejak para anbiya. Salah satu hal menarik yang bisa kita ikuti jejaknya adalah soal sikap sabar. Tidak tanggung-tanggung Allah memuji beberapa nabi dengan sifat sabar. Misalnya dalam Surah Al Anbiya ayat 85-85 Nabi Zulkifli, Nabi Ismail dan Nabi Idris disebut sebagai hamba penyabar. Dalam Surah Shad ayat 48 Nabi Zulkifli, Nabi Ilyasa dan Nabi Ismail juga disebut sebagai hamba yang baik (akhyar). Yang juga kita tahu Nabi Ayyub bersabar atas penyakit kulitnya. Jelas bahwa sabar disematkan pada para nabi akan kisah hidupnya. Maka sabar adalah sifat para nabi sehingga jika ada yang bilang, "alah sabar lagi, sabar lagi sampai kapan" itu salah besar. Padahal sudah jelas para nabi pun berpre...