Woko Utoro Sebagaimana manusia yang melewati banyak sejarah Simbah tentu mengerti bagaimana memahami kondisi bangsa. Sejak jaman tidak enak hingga saat ini beliau tidak pernah absen bagaimana merasakan kondisi rakyat. Dengan metode berdiskusi Mbah Nun selalu hidup dan menginspirasi. Walaupun kini beliau sudah jarang tampil tapi simpul-simpulnya masih erat. Bahkan mungkin akan terus meluas. Sudah 73 tahun Simbah hadir untuk bangsa. Tidak hanya mengurai masalah tapi beliau selalu jadi pohon. Pohon yang di saat orang lain memilih membesar beliau justru berbeda. Beliau lebih memilih jadi pohon yang tumbuh bersama dan melahirkan cabang-cabang baru. Pohon yang sejuk dan mengeratkan jiwa dari dasar akarnya. Simbah mungkin tahu problem negeri ini begitu sistemik dan tak terkendali. Sehingga kita merasa putus asa ketika melihat kondisi tersebut. Tapi sejenak saat ingat Simbah kita harus tegar. Sebagaimana beliau mengajarkan bahwa selama kita masih punya Allah selamanya tak usah diri...
Woko Utoro Alhamdulillah tahun ini saya berkesempatan lebaran Idul Adha di tempat istri. Kebetulan istri saya berasal dari daerah Kotaanyar Probolinggo. Sebuah daerah yang tidak jauh dengan PLTU Paiton. Daerah ini masuk wilayah yang mayoritas warganya berbahasa Madura. Dan saya masih sangat minim pengetahuan terkait bahasa Madura ini. Singkat kisah seperti orang katakan di daerah yang menggunakan bahasa Madura, suasana Idul Adha hampir serupa dengan perayaan Idul Fitri. Idul Adha pun terdapat salam-salaman, amplop dan silaturahmi. Suasana di makam pun juga ramai. Hanya saja antusiasnya dengan Idul Fitri tetap terasa berbeda. Yang saya tahu selama di sini perayaan Idul Adha terbilang biasa. Yaitu orang-orang bertakbir di malam hari lalu paginya shalat di masjid terdekat. Setelah itu bersalaman dan saling berkunjung ke tetangga. Tak lupa pula ada sebagian yang menyediakan hidangan berupa gulai kambing atau sate daging sapi. Kata Pak Lik, di sini jarang orang berkurban. Yang s...