Woko Utoro Beberapa minggu kami menikmati menjadi pedagang kecil. Tentu kecil di sini yaitu ambil keuntungan sedikit. Selain juga menjajakan jualan dengan dititipkan ke kantin sekolah. Tapi walaupun demikian kami merasa senang. Awalnya mungkin lelah tapi lambat laun kita tersadar bahwa kerja keras itu perlu. Mungkin keuntungan tidak seberapa tapi yang kami cari adalah bagaimana proses itu bekerja. Sebelum bicara keuntungan dan modal hal yang kami dapat adalah saat jualan tidak laku. Ini bukan rugi tapi justru keuntungan dalam bentuk lain. Saya selalu bilang ke istri bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mungkin yang kita lakukan terasa melelahkan tapi faktanya terselip pelajaran. Seperti rumus bahwa di balik kerja keras selalu ada kebahagiaan dan putus asa. Di sanalah kita bekerja untuk bersiap atas segala sesuatunya. Kata orang tua bersyukurlah masih mampu berpikir hingga ke sana. Karena dengan begitu kita ditempa menjadi dewasa. Kita dididik langsung oleh keadaan...
Woko Utoro Warga UIN SATU atau bahkan di dunia literasi, siapa yang tak kenal dengan Prof Ngainun Naim. Nama yang sangat familiar dan lekat dengan dunia tulis menulis. Jika dengan nama beliau kita langsung terpukau terutama dalam hal kepenulisan, "ini orang luar biasa energi menulisnya tak pernah habis". Tapi di balik itu semua kata Prof Naim tidak selalu mudah. Prof Naim selalu berbagi kisah bahwa rekam jejak kepenulisannya tidak selalu mulus. Jangan dikira saat ini beliau langsung sukses. Beliau telah melewati pahit getirnya ditolak oleh penerbit, dicemooh teman-temannya hingga frustasi. Tapi karena sudah menjadi niat akhirnya beliau percaya bahwa menulis dapat mengubah hidup. Dulu bahkan kini dari tulisan bisa mendapat cuan. Tinggal bagaimana kita mengolah kata sesuai kebutuhan pasar. Selama tidak melanggar hukum tulisan sejatinya dapat dijual. Terpenting bukan reward yang didapat melainkan proses panjang nan melelahkan. Kata Prof Naim, menulis itu ada kepuasa...