Woko Utoro Banyak wali yang sudah saya ziarahi selama mukim di Tulungagung. Beliau-beliau tersebut lah yang menjadi kiblat spiritualitas selama saya menimba ilmu di sini. Hingga akhirnya saya melakukan pisowanan terakhir yaitu ke maqbarah Mbah Yai Ali Shodiq Uman PPHM Ngunut. Ada kisah sebelum saya sowan Mbah Yai Ali. Kisah tersebut berawal dari mimpi. Setelah beberapa hari saya ziarah ke makam Mbah Fattah Mangunsari lalu Mbah Hasan Mimbar Majan. Malamnya saya bermimpi bertemu Gus Rouf (KH. Fathurrouf Sya'fii). Malam itu Gus Rouf bilang, "Lho Mas sampean ditimbali Mbah Yai Ali. Dawuh Yai, "Kok sampean ra rene le?". Dari dawuh itulah besoknya saya langsung gas ke Pondok Ngunut. Setiba di makam Yai Ali saya membaca Yasin dan Tahlil. Selepas itu saya berdoa dan berwasilah semoga perjalanan selanjutnya dapat dilewati dengan baik. Saya juga berdo'a semoga wasilah Yai Ali dapat terus istikomah di jalur keilmuan. Seperti kita tahu Mbah Uman adalah sosok pec...
Woko Utoro Dalam permainan suwit untuk mengalahkan gajah (ibu jari) bukan dengan orang (jari telunjuk) atau sesama gajah. Ternyata gajah bisa tumbang cukup dengan semut (jari kelingking). Dari permainan itu kita bisa belajar tentang hal-hal yang ada dalam lingkaran sosial. Bahwa kadang untuk menumbangkan sesuatu ternyata hanya butuh hal yang sederhana. Misalnya dalam sejarah pasukan bergajah Abrahah dapat tumbang hanya melawan kawanan burung Ababil. Dalam sosial kita pun demikian ternyata untuk menumbangkan seseorang mudah saja cukup dengan berbisik. Jangan dikira seseorang tumbang harus dengan senjata canggih padahal dimulai dari bisikan. Kita tahu dari bisikan selalu mengandung racun syaitan. Maka dalam etika sosial Islam berbisik di depan forum pembicaraan itu dilarang. Apalagi berbisik di antara tiga orang yang sedang berkumpul. Karena bisikan menimbulkan prasangka. Oleh karena itu hati-hati dengan pembisik. Dalam berbagai kasus kriminal di Indonesia misalnya seringnya ...