Woko Utoro Dalam sesi diskusi bersama Kompas com Mbah Jiwo Tejo berkisah ada seorang anak gadis mungkin usianya masih remaja SMP. Si anak perempuan itu memasuki sebuah club malam. Entah apa yang dia lakukan di sana. Yang jelas ia pulang larut malam. Ketika hendak pulang ia menelepon ibunya untuk minta dijemput. Singkat kisah sang ibu pun menjemput anak gadisnya. Dalam hati kecil anak gadis itu berharap jika ia akan ditanyai oleh ibunya. Hingga kendaraan melaju bahkan sampai rumah ia tidak mendapati pertanyaan apapun dari sang ibu. Aneh juga bahkan hal itu berlangsung sejak perjalanan di dalam mobil. Hingga esok harinya ternyata sang ibu masih tidak mempertanyakan apapun padanya. Bahkan sang ibu malah membuatkannya sarapan. Kata Mbah Tejo, si anak gadis itu paham setelah ia dewasa dan menjadi ibu. Bahwa selama yang dihubungi ibu maka itu adalah kehormatan. Si anak gadis yang kini menjadi ibu itu paham bahwa ibu nya dulu tengah memberinya pelajaran berharga. Bahwa sejauh atau...
Woko Utoro Di manapun dan di setiap tempat yang saya singgahi. Kebetulan mic dan panggung saya jajaki. Di sana saya tidak bosan berpesan kepada teman-teman untuk belajarlah mendengar. Karena pembelajaran mendengar adalah hal pertama sebelum belajar bicara. Seorang bayi mungkin belum bisa bicara kecuali tangis tapi mereka sudah mendengar atas suara sekelilingnya. Maka teorinya jelas bicaralah hal-hal baik karena bayi merekam dengan cara mendengar. Perihal mendengar ini penting. Sebab tidak setiap orang mampu bahkan orang dewasa sekalipun. Lebih lagi konteks lebih luas yaitu penguasa hari ini. Anda bayangkan mungkinkah orang tidak dengar ketika orang sekitarnya menjerit. Mungkinkah ksatria sakti tidak tahu dengan kondisi rakyatnya. Rasanya aneh jika telinga dan kesaksian tak mampu merespon derita. Sederhana saja barangkali yang sedang di atas tengah tuli atau tak berfungsi alat pendengaranya. Terkadang bukan soal fungsi pendengaran tapi justru empati yang tak tergugah. Orang ...