Woko Utoro Banyak seminar bertema, "kembali ke akar". Baik itu akar agama, kebudayaan, politik, ekonomi hingga ekologi. Semua prinsipnya satu agar kita tidak jauh, agar kita tidak lupa. Agar kita sadar bahwa setinggi, sebesar atau serimbun apapun pohon toh nyawanya di akar. Buku tipis ini barang menyentil kita yang terlalu lama pergi meninggalkan akar. Kepergian itu bukan soal jasadi misalnya merantau dari desa ke kota. Bukan itu. Lebih tepatnya kepergian kita soal kesadaran, soal empati dan soal bagaimana berpikir logis. Ini bukan soal kebutuhan apalagi janji politik. Ini tentang kehidupan, kenangan masa kecil hingga menyajikan masa depan. Terutama kehidupan desa yang demikian cepat tercerabut. Padahal desa salah satu urat nadi di mana alam dapat bertahan. Melalui buku kecil ini kita diingatkan bahwa kebutuhan itu pasti. Tapi kemampuan mengeksplorasi butuh kendali. Problemnya kita kalah oleh keserakahan. Hidup diburu gaya hidup bukan kebutuhan hidup. Melalui buk...
Woko Utoro Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar hingga Umair bin Abi Waqqash adalah salah seorang dari kalangan pemuda yang datang kepada Rasulullah SAW untuk ikut berperang. Dengan senyum dan bangga Rasulullah SAW menolak mereka karena alasan belum cukup umur. Barulah ketika usia mereka antara 15-17 tahun Rasulullah SAW pun memperbolehkan pemuda itu berperang. Jika membaca tarikh tersebut kita berpikir bisa jadi pertimbangan Rasulullah SAW bukan soal belum cukup umur tapi mental dan pikiran. Seperti kita tahu pemuda usia 15-17 (jika konteks kita usia SMA - Maba) masih semangat menggebu-gebu. Usia yang berapi-api dan sangat gandrung dengan rasa ingin tahu. Maka dari itu ketika usia mereka sudah dianggap cukup barulah izin itu diberikan. Contoh, konon usia Al Fatih sekitar 17-21 tahun ketika menaklukkan Konstantinopel. Usia itu dianggap matang awal. Secara psikologis usia setiap orang berbeda. Tapi dari usia itu kita bisa melihat sejauh mana mental dan pikiran...