Woko Utoro Saya mau bicara tentang jalan Pantura. Saya tidak bicara jalan dalam di pedesaan. Apalagi jalan setapak yang menuju hutan. Ini bicara bukan tentang jalan tapi berkaitan keselamatan. Saya tiap hari ketika berangkat atau pulang kerja selalu mendapati guru-guru naik motor tanpa helm. Entah apa faktornya lebih lagi mereka menaiki sepeda listrik. Saya kadang lucu melihat ironi ini. Apa yang membuat para guru tidak pakai helm. Apakah karena terbiasa atau jarak dekat. Jika terbiasa mengapa kebiasaan buruk itu dilakukan. Padahal guru bertugas menjadi teladan bagi muridnya. Ini bukan soal helm tapi keselamatan. Harusnya teladan Keselamatan dimulai dari guru. Bukankah polisi selalu sosialisasi ke sekolah tentang pentingnya taat lalu lintas. Apakah guru tidak mengetahui hal tersebut? Saya sering berpikir mengapa guru-guru tersebut tidak pakai helm padahal mereka melewati jalan besar. Jalan Pantura seperti kita tahu dilalui kendaraan besar tiap hari. Tanpa helm tentu membaha...
Woko Utoro Kata orang kok masih ada mereka yang mau menulis. Padahal menulis itu pekerjaan penuh siksaan. Bayangkan saja bagaimana kata dipilih, kalimat dirangkai dan pernak-pernik diaduk rata. Semua menjadi satu, terbungkus dalam tema ide dan gagasan. Belum lagi kita diburu detline, waktu, hingga target. Semua benar-benar membenamkan pikiran. Lebih sedih lagi ketika tidak ada apresiasi, hingga fee. Tapi apakah benar persangkaan orang tentang menulis. Bagi saya hal tersebut bisa saja benar tapi lebih banyak salahnya. Orang yang suka menulis memposisikan aktivitas itu sebagai sahabat. Ibarat kopi di pagi hari kita diburu waktu, tugas serta kesibukan. Tapi terasa wajib untuk diseduh walaupun kadang terasa pahit. Hingga akhirnya kita merasa semua adalah rangkaian proses. Berat dan tidaknya tergantung dengan kesiapan mental. Maka bagi penulis tidak ada kata menyiksa. Semua berjalan apa adanya bahkan cenderung mengganjal ketika tidak melakukannya. Dalam menulis kita juga membaca...