Langsung ke konten utama

Postingan

BPJS dan Kisah Sulaiman

Woko Utoro  Jagat maya tengah ramai membahas pemberhentian PBI BPJS kesehatan. Pemberian Bantuan Iuran BPJS tersebut dinonaktifkan oleh pemerintah tidak tanggung-tanggung ada sekitar 11 juta pemilik. Alasannya sederhana karena ada indikasi perbaikan data di Kemensos. Jika bicara BPJS saya jadi ingat dulu tentang apakah perlu bersandar pada kebaikan pemerintah. Sehingga seolah-olah kita berharap untuk mendapatkan bantuan. Atau dengan BPJS kita berharap ditanggung misalnya ketika terkena musibah. Di wilayah ini rasanya tipis sekali antara kemampuan bersandar pada mahluk dan Tuhan.  Bagi orang yang punya BPJS seolah-olah hidup tenang. Jika terjadi sesuatu misalnya sakit atau kecelakaan kerja maka BPJS dan asuransi sejenis dapat membantu. Di sinilah kadang kita berpikir Allah dulu baru BPJS. Atau dalam bahasa sederhana jangan mempertahankan BPJS dengan kehendak Tuhan. Karena bagaimanapun juga BPJS hanya sekadar wasilah dan bukan tujuan. Saya jadi ingat ketika kekuasaan...
Postingan terbaru

Membaca Panjang

Woko Utoro  Tradisi membaca harus terus dibudayakan. Dalam budaya yang silih berganti, membaca akan selalu relevan. Selain karena wahyu Tuhan, membaca adalah cara agar manusia tidak tersesat. Membaca adalah wasilah petunjuk manusia dari perbedaan dan problem. Membaca di sini terfokus pada buku. Lebih fokus lagi pada buku dengan banyak halaman. Di era serba cepat, membaca tidak dituntut cepat. Pembacaan dalam kondisi apapun hanya menuntut konsisten, sederhana dan jujur. Terutama membaca buku tebal kita sejatinya sedang dilatih. Mengapa sering ditemukan kasus mudah tersinggung, salah paham, konflik digital, caci maki hingga termakan hoaks. Salah satu penyebab konflik tersebut adalah karena meninggalkan membaca. Terutama bacaan panjang sangat diperlukan agar kita terus berhati-hati, tetap tenang, fokus dan disiplin. Bacaan panjang membuat kita tahu kapan batas dan mengerti apa yang perlu dilakukan. Melalui bacaan panjang kita akan mudah menguasai bacaan pendek. Seperti yan...

Kerja Batin Adalah Membaca

Woko Utoro  Sejak kapan membaca buku tak lagi menarik hati. Padahal dalam tradisi membaca ada banyak hal yang kita dapatkan terutama soal kondisi batin dan pikiran. Dulu buku adalah primadona terutama ketika menunggu waktu berbuka, menanti bus tiba hingga sedang dalam antrian. Bazar-bazar buku jadi perburuan terutama ketika ongkos tengah menipis. Tapi kini dunia secepat kilat berubah buku masih tetap banyak tapi pembaca sepi peminat. Saya jadi ingat mengapa buku tidak dilirik apalagi dirayakan sebagai tradisi yang menggugah kesadaran. Sejak logika kapitalisme merebak buku bukan lagi pilihan utama orang memacu otak. Sebab membaca buku hanya membuat orang bosan, malas, pusing hingga putus asa karena tak kunjung paham. Sederhananya logika kapitalis yaitu, "Untuk apa baca buku buang-buang waktu dan tak menghasilkan uang". Buku kalah dengan media sosial yang menjanjikan banyak hal. Paling kentara adalah ruang hiburan dan angan-angan keuntungan. Di sinilah logika pasar ...

Bukan Sekadar Ngobrol Warung Kopi

Woko Utoro  Spongebob Squarepants pernah bilang ke Squidward, jika ingin jadi seniman gunakanlah imajinasi. Sambil membentuk setengah lingkaran imajinasi itu berbentuk pelangi. Dari adegan itu saya sering bilang ke teman-teman bahwa imajinasi mahal harganya. Pikiran dan imajinasi adalah senjata kata Einstein. Orang bisa menjadi apa saja dengan the power of mind. Di suatu pagi seorang anak menghadang saya. Ia hanya ingin saya mendengarkan ceritanya. Kebetulan cerita itu sudah ia tulis dalam beberapa lembar buku. Katanya cerita itu ia dapat saat berkunjung ke pasar tempo hari. Ia bercerita tentang kucing yang terlantar. Katanya kucing itu berjumlah lebih dari dua. Mereka dibuang dan kondisinya sangat memprihatikan. Ia memberi kucing itu dialog yang intinya kasihan bahwa di terlantarkan itu tidak enak. Kucing merasa kesakitan ketika ditendang, kedinginan saat disiram dan lapar ketika belum makan. Lalu beberapa saat kucing itu diambil orang, kata si anak kucing itu diadopsi...

Ayat Terpanjang Itu Tentang Hutang Piutang

Woko Utoro  Saya tergelitik ketika Gus Baha menjelaskan bahwa ayat terpanjang dalam Al Qur'an tidak bicara tentang shalat, puasa, zakat atau haji. Justru ayat terpanjang dalam Al Qur'an malah bicara tentang hutang piutang dan muamalah. Ayat terpanjang tersebut yaitu terdapat dalam Surah Al Baqarah ayat 282. Dalam ayat tersebut gamblang dijelaskan bagaimana hutang piutang bisa menyelamatkan sekaligus ancaman. Sederhananya ayat terpanjang yang terdiri 128 kalimat dan 540 huruf tersebut jelas menyinggung hubungan orang yang berhutang dan yang dihutangi (piutang). Ayat tersebut langsung bilang bahwa sangat besar kemungkinan jika persaudaraan bisa bubrah hanya karena hutang piutang. Itu sebabnya ayat tersebut berpesan jika hutang piutang harus ada sanksi, pencatatan serta ragam perjanjian pelunasan.  Tidak peduli besar atau kecil nominalnya hutang tetaplah hutang dan akan ada sesi pertanggungjawaban. Dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa banyak orang yang menyepelek...

Menyelami Dunia Pedagang Kecil

Woko Utoro  Beberapa minggu kami menikmati menjadi pedagang kecil. Tentu kecil di sini yaitu ambil keuntungan sedikit. Selain juga menjajakan jualan dengan dititipkan ke kantin sekolah. Tapi walaupun demikian kami merasa senang. Awalnya mungkin lelah tapi lambat laun kita tersadar bahwa kerja keras itu perlu. Mungkin keuntungan tidak seberapa tapi yang kami cari adalah bagaimana proses itu bekerja. Sebelum bicara keuntungan dan modal hal yang kami dapat adalah saat jualan tidak laku. Ini bukan rugi tapi justru keuntungan dalam bentuk lain. Saya selalu bilang ke istri bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Mungkin yang kita lakukan terasa melelahkan tapi faktanya terselip pelajaran. Seperti rumus bahwa di balik kerja keras selalu ada kebahagiaan dan putus asa. Di sanalah kita bekerja untuk bersiap atas segala sesuatunya. Kata orang tua bersyukurlah masih mampu berpikir hingga ke sana. Karena dengan begitu kita ditempa menjadi dewasa. Kita dididik langsung oleh keadaan...

Menulis Mengubah Hidup

Woko Utoro  Warga UIN SATU atau bahkan di dunia literasi, siapa yang tak kenal dengan Prof Ngainun Naim. Nama yang sangat familiar dan lekat dengan dunia tulis menulis. Jika dengan nama beliau kita langsung terpukau terutama dalam hal kepenulisan, "ini orang luar biasa energi menulisnya tak pernah habis". Tapi di balik itu semua kata Prof Naim tidak selalu mudah. Prof Naim selalu berbagi kisah bahwa rekam jejak kepenulisannya tidak selalu mulus. Jangan dikira saat ini beliau langsung sukses. Beliau telah melewati pahit getirnya ditolak oleh penerbit, dicemooh teman-temannya hingga frustasi. Tapi karena sudah menjadi niat akhirnya beliau percaya bahwa menulis dapat mengubah hidup. Dulu bahkan kini dari tulisan bisa mendapat cuan. Tinggal bagaimana kita mengolah kata sesuai kebutuhan pasar. Selama tidak melanggar hukum tulisan sejatinya dapat dijual. Terpenting bukan reward yang didapat melainkan proses panjang nan melelahkan. Kata Prof Naim, menulis itu ada kepuasa...