Woko Utoro Beberapa waktu lalu kami bisa sowan haji kepada beliau Prof Dr H Ngainun Naim. Walaupun momentumnya sudah lewat tapi perasaan itu masih begitu hangat. Terbukti saat kami tiba di sana saya bilang, "Prof, belum terlambat nggih". Beliau menjawab dengan senyuman, "Yo urung". Hingga singkat kisah saya melontarkan dua pertanyaan kepada beliau lebih berat mana dipanggil Prof atau Haji? dan bagaimana gambaran haji di era modern ini? Kata beliau dipanggil Prof atau Haji sama-sama beratnya. Tapi tips nya sederhana agar tidak jadi beban abaikan saja titel itu. Anggap saja tidak terjadi apapun. Walaupun kita tidak bisa menghindar dari sebutan itu di masyarakat. Yang jelas berlaku baik dan lurus sebagaimana mestinya itu sudah cukup. Selanjutnya soal ibadah haji di era modern ini unik. Keunikannya setidaknya pada penggunaan teknologi dan kajian yang tiap tahun selalu ada saja yang baru. Hingga bagi beliau ibadah haji tahun ini termasuk penyelenggaraan terba...
Woko Utoro Awalnya judul tulisan ini adalah, "Menulislah Selagi Jomblo" tapi ketika saya pikir ulang menjadi tidak tepat. Karena kejombloan bicara status sedangkan lapang adalah waktu. Waktu seperti kita tahu sesuatu yang melekat kepada siapapun tanpa perlu tahu status sosialnya. Bicara soal waktu tentu kita ingat Surah Al Asr, demi masa atau dalam bentuk lagu yang dilantunkan Raihan (2001). Demi masa menjadi pengingat kita tentang salah satunya lapang sebelum sempit. Dalam konteks menulis saya tentu merasakan hal itu. Saya merasa hari-hari ini dengan status sebagai suami rasanya hidup seperti diburu waktu. Saking sibuk atau padat atau apa saya tidak paham rasanya untuk menulis begitu sulit. Padahal waktu 24 jam terbilang sangat banyak. Saya tidak membayangkan jika nanti sudah memiliki momongan. Pasti akan lebih repot lagi bukan sekadar waktu tapi kesempatan untuk tetap konsisten. Semoga saja aktivitas menulis masih terus dijalankan walaupun mungkin sedikit tertat...