Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Surga

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan teman-teman santri apa sih surga itu. Mengapa banyak orang menginginkan surga. Jika tidak masuk surga apa salah? Pertanyaan itu sederhana tapi memantik kami untuk berdiskusi. Tentu saya melepaskan makna surga ke mereka sesuai kemampuan berpikirnya. Intinya semua sepakat bahwa surga sebagaimana gambaran al Qur'an yaitu sebuah tempat yang penuh dengan kenikmatan. Ilustrasinya yaitu sungai dengan ragam jenis minuman, buah-buahan yang kaya, kilau emas, zamrud, bantal dan dipan yang tertata rapi serta bidadari bermata bening dll. Makna pengertian surga tersebut benar adanya. Siapa pula yang mau menolak al Qur'an. Tapi tentu ada makna lain yang menarik perihal surga. Pertama, surga itu جنّ yang bermakna tersembunyi, rimbun, istimewa dll. Jadi ibarat kebun dengan daun yang lebat dan buah yang banyak itu juga surga. Sehingga siapa saja dibuat takjub dengan keindahannya. Kedua, surga itu sesuatu yang melekat pada diri. Misa...
Postingan terbaru

Mengisi Shaf Kosong

Woko Utoro Sudah lelah ya menjadi WNI. Apa sudah saatnya kabur dulu. Atau bunyikan alarm sebagai tanda bahaya. Beberapa kalimat itulah yang akhir-akhir ini mencuat kembali. Bukan tanpa alasan karena memang kondisi kepemimpinan Nasional dalam keadaan paling rendah. Sejak beberapa dekade terakhir kepemimpinan Nasional kita terpuruk bahkan dikaitkan kembali dengan peristiwa 98. Fakta membuktikan demikian kita selalu cemas dan putus asa. Mbah Nun sejak lama sudah bicara jika berkaitan dengan penguasa kita selalu pesimis tapi jika soal kedaulatan rakyat dan budaya kita optimis. Tiyo Ardianto juga afirmasi bahwa bagi kita yang tahu banyak soal problem bangsa ini pasti pesimistis. Karena bisa dibayangkan urusan kemaslahatan serta hajat hidup orang banyak dipikul oleh pejabat nir-kompentensi. Akibatnya seperti yang kita saksikan saat ini program prioritas justru paling mengecewakan. Problem akut bangsa ini adalah bagaimana menjalankan sistem. Sedangkan soal membuat program kita aku...

Menyusuri Jalan Menjadi Manusia Berintegritas

Woko Utoro Dalam seri diskusi ketiga Ngaji Ngopi Lajnah Gemmatan Tulungagung membahas tema tentang manusia yang berintegritas. Pada diskusi tersebut Pak Fauzan selaku narasumber menjelaskan dengan gamblang bagaimana menjadi manusia berintegritas. Di awal pembuka beliau menyebutkan bahwa sosok utama manusia paling berintegritas adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sosok paripurna, teladan dan panutan umat. Kata Pak Fauzan orang berintegritas itu dapat dilihat melalui beberapa ciri. Pertama, memiliki daya juang yang tinggi. Dalam bahasa agama terdapat himmah (semangat, daya juang) dan azimah (keteguhan jiwa). Kedua, terdapat keseimbangan antara sisi duniawi dan ukhrawi. Pak Fauzan mencontohkan kedekatan Nabi Muhammad SAW dengan Allah di mana beliau tetap kerja keras di siang hari dan malamnya untuk munajat. Nabi Muhammad SAW juga merupakan sosok yang selaras antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Keselarasan dari tiga aspek itu adalah bagian dari karakter luhur, jiwa nan berin...

Mengelola Diri Sendiri

Woko Utoro Kata Nabi Muhammad SAW ada peperangan yang lebih dahsyat dari perang Badar yaitu perang melawan hawa nafsu. Perang melawan hawa nafsu dianggap perlawanan sepanjang usia. Perlawanan ini tidak hanya menuntut fisik tapi pikiran dan hati. Terpenting lagi ilmu, manajerial dan bagaimana cara mengelolanya. Nafsu dalam bahasa psikologi sering disebut emosi dan emosi tersebut tidak untuk dimusnahkan tapi dikelola. Seorang teman bilang di fase usia 25 tahun katanya sering mengalami keterasingan. Apakah kondisi itu umum atau memang bagian dari hawa nafsu. Kata saya setiap fase dalam kehidupan selalu terselip hawa nafsu. Hanya saja tinggal bagaimana kita menyikapinya. Contoh, seorang remaja di masa transisi merasa bingung kemana ia melangkah, bagaimana menentukan pilihan. Seorang pemuda juga demikian dari mana ia berasal, apa yang hendak dicari dan kemana setelah ini. Semua hal itu bagian dari proses bagaimana kita menentukan pilihan. Memang problem terkait mental, pikiran d...

73 Tahun Mbah Nun

Woko Utoro Sebagaimana manusia yang melewati banyak sejarah Simbah tentu mengerti bagaimana memahami kondisi bangsa. Sejak jaman tidak enak hingga saat ini beliau tidak pernah absen bagaimana merasakan kondisi rakyat. Dengan metode berdiskusi Mbah Nun selalu hidup dan menginspirasi. Walaupun kini beliau sudah jarang tampil tapi simpul-simpulnya masih erat. Bahkan mungkin akan terus meluas. Sudah 73 tahun Simbah hadir untuk bangsa. Tidak hanya mengurai masalah tapi beliau selalu jadi pohon. Pohon yang di saat orang lain memilih membesar beliau justru berbeda. Beliau lebih memilih jadi pohon yang tumbuh bersama dan melahirkan cabang-cabang baru. Pohon yang sejuk dan mengeratkan jiwa dari dasar akarnya. Simbah mungkin tahu problem negeri ini begitu sistemik dan tak terkendali. Sehingga kita merasa putus asa ketika melihat kondisi tersebut. Tapi sejenak saat ingat Simbah kita harus tegar. Sebagaimana beliau mengajarkan bahwa selama kita masih punya Allah selamanya tak usah diri...

Idul Adha di Kotaanyar

Woko Utoro Alhamdulillah tahun ini saya berkesempatan lebaran Idul Adha di tempat istri. Kebetulan istri saya berasal dari daerah Kotaanyar Probolinggo. Sebuah daerah yang tidak jauh dengan PLTU Paiton. Daerah ini masuk wilayah yang mayoritas warganya berbahasa Madura. Dan saya masih sangat minim pengetahuan terkait bahasa Madura ini. Singkat kisah seperti orang katakan di daerah yang menggunakan bahasa Madura, suasana Idul Adha hampir serupa dengan perayaan Idul Fitri. Idul Adha pun terdapat salam-salaman, amplop dan silaturahmi. Suasana di makam pun juga ramai. Hanya saja antusiasnya dengan Idul Fitri tetap terasa berbeda. Yang saya tahu selama di sini perayaan Idul Adha terbilang biasa. Yaitu orang-orang bertakbir di malam hari lalu paginya shalat di masjid terdekat. Setelah itu bersalaman dan saling berkunjung ke tetangga. Tak lupa pula ada sebagian yang menyediakan hidangan berupa gulai kambing atau sate daging sapi. Kata Pak Lik, di sini jarang orang berkurban. Yang s...

Pesta Babi dan Hal Yang Memilukan

Woko Utoro Film dokumenter Pesta Babi tengah ramai diperbincangkan. Sebagaimana film sebelumnya Dandhy Laksono menyuguhkan beragam data, potret dan fakta kegetiran. Film Pesta Babi hampir serupa dengan Sexy Killer, Dirty Vote, The Mahuzes, Alkinemokiye dll yang semuanya menyuguhkan key word : oligarki, tambang, militer, bencana ekologis, dan kolonialisme gaya baru. Tentu jika buka-bukaan data atau borok penguasa adalah aib yang melahirkan pro dan kontra. Betapa pilu ketika kita menonton film ini, bayangkan ribuan hektar tanah adat harus digusur oleh keberadaan perusahaan demi proyek strategis nasional. 1800 tiang salib merah melawan 2000 eskavator dan ribuan tentara yang berjaga. Alih-alih perusahaan mundur justru sebaliknya masyarakat dipaksa terusir dari tanah moyangnya. Orang-orang yang menggantungkan hidup dari hutan kini menjadi nestapa. Sebab hutan akan beralih fungsi menjadi sawah untuk padi, perkebunan tebu, singkong dan peternakan. Para suku asli pedalaman tidak ak...