Woko Utoro Tak ada hujan tak ada angin, story WhatsApp menghijau. Saya buka HP, "ah paling ada acara NU" pikir saya dalam hati. Ternyata ketika saya buka story WA beberapa teman menunjukkan informasi yang sama yaitu lelayu. Seperti biasa jika ada info kematian apalagi menimpa orang yang saya kenal, tiba-tiba badan lemas. Innalilahi, sugeng tindak Pak Shomad sedo. Pak Shomad meninggal. Lalu saya pun turut berdo'a semoga beliau husnul khatimah dalam story WA. Tentu saya merasa kehilangan. Karena bagaimanapun beliau adalah aset UIN SATU bahkan Tulungagung. Sosok yang pastinya masih dibutuhkan baik di dunia kampus lebih lagi keluarga dan masyarakat. Namanya Mohammad Ali Shomad Veri Eko Atmojo. Nama yang Jowo sekaligus nyentrik. Nama itu sudah saya kenal sejak jaman Maba, tahun 2015. Melalui buku akademik pada awal pengenalan kampus nama beliau bertengger di antara dosen FASIH. Singkat kisah beberapa waktu saya pernah bertemu dengan beliau walaupun mungkin tidak in...
Woko Utoro Hajaj bin Yusuf pernah terlibat pembunuhan di era Yazid bin Muawiyah. Ia membunuh Abdullah bin Zubair yang sedang i'tikaf di Masjidil Haram. Seperti kita tahu aib besar dan pantangan jika sampai ada pertumpahan darah di tanah haram. Akhirnya dari peristiwa nahas itu menjadikan Hajaj ikon manusia paling dibenci seantero negeri. Singkat kisah sekitar 7 abad dari peristiwa itu Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya menyebutkan bahwa ternyata Hajaj itu putra seorang guru. Tapi bukan guru sejati tapi guru sekadar profesi. Gus Baha menjelaskan guru itu ada dua. Guru dalam makna profesi dan guru hakiki. Guru profesi untuk banyak kita jumpai. Cirinya sederhana yaitu mengajar hanya karena formalitas, ada jadwal, jam, mendapat gaji. Sedangkan guru hakiki dalam kondisi apapun akan terus mengajar. Guru hakiki lebih menekankan pada keikhlasan, kepedulian dan panggilan hati. Guru model kedua ini makin jarang kita temui kecuali bisa kita saksikan pada sosok kiai kampung yang men...