Langsung ke konten utama

Postingan

Mengeja Ujian dengan Kesabaran

Woko Utoro  Resiko orang hidup adalah mendapatkan ujian. Dalam hal apapun ujian pasti ada. Tidak ada orang yang terhindar dari ujian. Sehingga ketika ujian tiba kita hanya perlu menghadapi dengan baik. Disadari atau tidak ujian itu ada bahkan tiap hari. Bahkan yang kita anggap kemewahan dunia (harta, materi) itu juga bagian dari ujian.  Soal ujian sudah ada rumusnya yaitu disesuaikan dengan kemampuan hambanya. Jadi tidak mungkin hamba diuji di luar batas kemampuannya. Begitu janji Allah kepada kita agar berpegang teguh kepadaNya. Kecuali fenomena modern sudah diprediksi oleh Imam Ghazali, esok banyak laki-laki tumbang karena diuji oleh mertua yang menekan habis mantunya untuk mencari penghidupan secara berlebihan. Sehingga laki-laki itu jika tidak berhasil akan dihinakan karena kefakiran. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi disebutkan jika tak ada yang lebih berat ujiannya kecuali untuk para nabi. Setelah itu ujian orang shaleh dan yang sejenisnya. Bisa ...
Postingan terbaru

Organisasi dan Kemampuan Berkhidmat

  Woko Utoro  Di setiap organisasi pasti ada peluang dan tantangan. Tidak hanya organisasi yang sudah berjalan, bagi yang merintis pun pasti terdapat dinamika. Hal itu bukan rahasia umum dan pastinya sudah disadari bersama. Pertanyaannya bukan sekadar disadari tapi bagaimana cara organisasi keluar dan menemukan solusinya. Salah satu cara agar organisasi tetap hidup adalah dengan bergerak. Nadi organisasi adalah komitmen bersama untuk berproses. Selanjutnya selalu ada pengorbanan di setiap prosesnya. Jika organisasi tidak dijalani bersama anggotanya maka bersiaplah vakum. Intinya ruh organisasi terdapat pada komitmen bersama anggota untuk berjalan. Ibarat roda pada kendaraan, mesin tak akan jalan jika tanpa bensin. Pun sebaliknya bensin sebanyak apapun jika tidak ada tangki hendak diisi ke mana? Kita mendengar kalimat populer, "Hidupilah organisasi dan jangan cari hidup di organisasi". Hal itu adalah tanda bahwa organisasi bukan bertujuan mencari keuntungan sesaat....

Bacaan dan Pengalaman

Woko Utoro  Mas Eros Chandra, gitaris Sheila on Seven bilang, "Iya, mengapa anak sekarang mudah rapuh. Kena pressure dikit aja udah nyerah". Apa yang dikatakan Mas Eros bukan tanpa alasan. Setidaknya keheranan itu ia jawab sendiri. Katanya mengapa anak jaman now mudah mleot ketika angin tiba berhembus menempa diri. Pertama, mereka tidak hidup di jaman ketika bangun tidur langsung kerja. Mereka lahir di mana dunia telah memberi segalanya. Bahkan sejak bangun hingga tidur lagi. Kedua, kurangnya bacaan. Anak sekarang bukan miskin bacaan. Justru sebaliknya akibat terlalu banyak menyerap informasi akhirnya timbul kecemasan hingga depresi. Kata Mas Eros itulah barangkali faktor mengapa anak jaman now hidup terkurung oleh rasa takut yang faktanya dikonstruksi sendiri. Mereka hidup di antara postingan dan komentar yang tiap hari menjejali pikiran. Ditambah lagi kemampuan selektif terhadap informasi itu tumpul. Akibatnya seperti sekarang ini, fenomena sumbu pendek, mudah m...

Belajar Kerusakan dari Semut

Woko Utoro  Di kontrakan tempat kami tinggal segala jenis semut hadir silih berganti. Dari mulai semut gula, semut hitam dan semut api. Mereka berjalan-jalan di antara beras, kertas lembab, hingga kardus dan buku. Ketika saya mencoba membersihkan ternyata mereka tak kunjung pergi. Justru para semut itu malah semakin banyak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Padahal segala tips n trik mengusir semut sudah kami upayakan. Misalnya mulai dari menaruh garam, kapur ajaib, hingga minyak gosok. Hingga akhirnya kami pun menyerah dan kini hanya berdamai dengan mereka. Poin pentingnya kita hanya perlu menjaga kebersihan. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang gula atau membiarkan makanan terbuka. Pada akhirnya saya pun belajar dari semut-semut itu. Pertama, seperti terdapat dalam Al Qur'an pada kisah Nabi Sulaiman. Semut akan berjalan dalam jalurnya. Mereka jarang berjalan tidak beraturan kecuali ada bahan makanan baru. Sejauh ini semut selalu disiplin dab mereka akan ...

Pentingnya Bahasa Dalam Public Speaking

Woko Utoro Beberapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan bimtek yang diadakan Nyalanesia. Kegiatan tersebut semacam pembekalan untuk peserta SPL Nasional. Kegiatan tersebut menghadirkan Uda Ivan Lanin. Acara serupa juga dihelat sebelumnnya yaitu menghadirkan Gus Nadhir dan Gus Muh alias Muhidin M Dahlan. Sayangnya yang sebelumnya tersebut saya tidak bisa mengikuti karena terbentur jadwal.  Singkat kisah, siapa yang tidak kenal Ivan Lanin. Ia adalah tokoh kebahasaan modern yang lahir di Bukittinggi. Makanya orang-orang memanggilnya Uda Ivan Lanin. Hampir 15 tahun terakhir kata Uda Ivan ia bergelut dengan bahasa. Padahal sejak S-1 ia mengambil jurusan teknik kimia ITB. Barulah di program magister ia mengambil pemprograman alias komputasi. Mungkin di S-2 itulah kesenangannya dalam hal bahasa muncul.  Kini Uda Ivan mendirikan lembaga Narabahasa dan juga Wikipedia Indonesia. Sebuah lembaga yang concern di bidang menghayatan bahasa Indonesia baku sekalipun merapal bahasa d...

Sirkuit Empati

Woko Utoro  Tahukah anda mengapa kasus kekerasan seksual yang viral di UI bisa terjadi. Salah satu faktor menurut psikolog yaitu ada istilah sirkuit empati. Sirkuit empati adalah istilah seseorang merasa aman melakukan sesuatu hanya karena objeknya tidak hadir. Dalam kasus tersebut jelas jika pelaku merasa benar ketika mereka menikmati tubuh lewat ruang chat hanya karena objeknya tidak hadir. Di sinilah kesalahan pertama lahir hanya karena istilah tidak bakal ketahuan. Padahal hal tersebut salah besar. Bahwa tidak hadir bukan berarti tidak tahu. Justru terkadang perasaan selalu hadir walaupun tanpa disadari. Dalam kasus ini jelas para pelaku telah mati sirkuit empatinya. Mereka bodoh hanya karena korban dianggap tidak ada. Padahal sebaliknya kasus tersebut ibarat bangkai yang lambat laun tercium juga. Lantas bagaimana cara praktis sirkuit emosi bekerja? Sederhana saja misalnya begini, ada mahasiswa yang berfoya-foya, malas kuliah dan hanya main-main belaka. Nah dalam ka...

Do'a Yang Meluncur Diam-diam

Woko Utoro  Orang sekarang itu lucu jika punya keluh kesah langsung datangi medsos. Tanpa lama ragam keluh kesah hingga do'a membanjiri jendela medsos. Sehingga langsung saja memicu banjir komentar sana-sini. Mereka anggap setelah dikomentari, like dan diteruskan masalah akan usai. Tapi katanya seringkali hidup terasa lebih plong jika sudah dipantau orang, tapi apakah hal demikian sudah aman dan selamat? Itulah barangkali fenomena pergeseran di mana orang ingin selalu muncul. Dalam do'a pun demikian yaitu mudah naik, upload dan biarkan media bekerja. Orang menganggap ketika do'a sudah naik posting maka akan ada banyak yang mengaminkan. Mereka lupa bahwa bukan banyaknya amin atau like yang membuat do'a diijabah. Tapi justru karena ketenangan batin dan etika yang membuat do'a diperkenankan. Bahkan kadang do'a yang hadir diam-diam lebih mudah diterima dari yang berisik di media sosial. Jalaluddin Rumi sering bilang mengapa kita berdo'a dengan keras ...