Woko Utoro Alhamdulillah saya dan Ang Irfan bisa hurmat ta'jiyah ke rumahnya Mbah Marfiatun di Kebonagung Udanawu Wonodadi Blitar. Walaupun informasinya telat tapi kami sampai di sana tepat di peringatan ke tujuh harinya. Tepat di malam Jum'at setelah magrib kami langsung meluncur ke sana. Walaupun sebenarnya tidak tahu kapan acara tahlilan dilangsungkan. Kami berangkat dengan bergegas dan percaya diri. Singkat kisah ternyata kami bisa mengikuti acara dari awal hingga akhir termasuk tahlil dan khatmil qur'an. Tentang siapa sosok Mbah Marfiatun tentu menarik untuk dicatat di sini. Sebab sosok beliau memang luar biasa. Sosok yang langka tentunya ketika melihat jaman sekarang yang penuh tipu daya. Mbah Marfiatun adalah garwanipun Mbah Kyai Imam Ahmad atau ibu dari KH Hafidz Baehaqi, Pak Huda dan putra-putri lainnya yang belum saya kenal. Beliau dipanggil oleh orang-orang sekitar dengan panggilan Yu Tun atau Mbah Tun. Foto : Siswa-siswi MI Syafi'iya...
Woko Utoro Shubuh tadi ketika pertandingan seru piala dunia antara Belgia vs Senegal kami mengikuti ngaji Al Minahussaniyyah bersama Abah Sholeh. Sebenarnya saya sudah khatam ngaji kitab karya Sayyid Abdil Wahhab as Sya'rani ini beberapa tahun lalu. Akan tetapi ketika dikaji kembali selalu ada saja mutiara yang tertinggal. Kebetulan semalam kita diingatkan tentang tema bekerja. Orang Jawa mengistilahkan bekerja dengan "nyambut gawe". Sebuah istilah yang ternyata ketika diselami sangatlah unik. Dalam Kitab Minahussaniyyah yang merupakan syarah atas Washiyatul Musthafa tersebut menjelaskan hal menarik tentang bekerja. Kata Abah yang sekaligus menukil pendapat jumhur ulama bahwa bekerja itu wajib. Bekerja itu wasilah atau sarana atau syariat untuk mempertahankan kehidupan. Orang tidak boleh tidak bekerja. Orang tidak boleh malas bekerja. Karena orang yang tidak bekerja lir ibarat mesin tapi tidak digunakan. Sebenarnya orang punya manfaat minimal atas dirinya t...