Woko Utoro Sudah lelah ya menjadi WNI. Apa sudah saatnya kabur dulu. Atau bunyikan alarm sebagai tanda bahaya. Beberapa kalimat itulah yang akhir-akhir ini mencuat kembali. Bukan tanpa alasan karena memang kondisi kepemimpinan Nasional dalam keadaan paling rendah. Sejak beberapa dekade terakhir kepemimpinan Nasional kita terpuruk bahkan dikaitkan kembali dengan peristiwa 98. Fakta membuktikan demikian kita selalu cemas dan putus asa. Mbah Nun sejak lama sudah bicara jika berkaitan dengan penguasa kita selalu pesimis tapi jika soal kedaulatan rakyat dan budaya kita optimis. Tiyo Ardianto juga afirmasi bahwa bagi kita yang tahu banyak soal problem bangsa ini pasti pesimistis. Karena bisa dibayangkan urusan kemaslahatan serta hajat hidup orang banyak dipikul oleh pejabat nir-kompentensi. Akibatnya seperti yang kita saksikan saat ini program prioritas justru paling mengecewakan. Problem akut bangsa ini adalah bagaimana menjalankan sistem. Sedangkan soal membuat program kita aku...
Woko Utoro Dalam seri diskusi ketiga Ngaji Ngopi Lajnah Gemmatan Tulungagung membahas tema tentang manusia yang berintegritas. Pada diskusi tersebut Pak Fauzan selaku narasumber menjelaskan dengan gamblang bagaimana menjadi manusia berintegritas. Di awal pembuka beliau menyebutkan bahwa sosok utama manusia paling berintegritas adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sosok paripurna, teladan dan panutan umat. Kata Pak Fauzan orang berintegritas itu dapat dilihat melalui beberapa ciri. Pertama, memiliki daya juang yang tinggi. Dalam bahasa agama terdapat himmah (semangat, daya juang) dan azimah (keteguhan jiwa). Kedua, terdapat keseimbangan antara sisi duniawi dan ukhrawi. Pak Fauzan mencontohkan kedekatan Nabi Muhammad SAW dengan Allah di mana beliau tetap kerja keras di siang hari dan malamnya untuk munajat. Nabi Muhammad SAW juga merupakan sosok yang selaras antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Keselarasan dari tiga aspek itu adalah bagian dari karakter luhur, jiwa nan berin...