Woko Utoro Sudah masuk tahun ajaran baru. Itu artinya ada semangat baru, teman baru dan seragam baru. Hal-hal baru itu menjadi bahan bakar seorang anak menikmati masa berprosesnya. Tapi saya menemukan satu siswa menangis tersedu-sedu karena ditinggal guru lesnya. Siswa tersebut akhirnya lemas dan kurang bergairah ketika dihadapkan dengan realita saya harus belajar sendiri. Tangisan anak SD tersebut tentu mengingatkan saya akan banyak peristiwa serupa. Dulu ketika masih di SDI Al Azhaar Tulungagung saya berproses bersama anak-anak sejak di kelas 2-6 selama 2 tahun. Lalu saya tidak memperpanjang kontrak dan ada saja siswa yang menangis karena harus berpisah. Bahkan beberapa masih sering menghubungi saya lewat pesan WhatsApp. Setelah itu saya ulangi lagi di SD Ringinpitu 1 juga sekitar 2 tahun masa pengabdian. Ketika momen pamit undur diri saya langsung kabur. Karena pastinya saya tidak kuasa menangis tangis. Benar saja beberapa di antara mereka mengejar saya hingga pintu gerb...
Woko Utoro Beberapa waktu lalu kami bisa sowan haji kepada beliau Prof Dr H Ngainun Naim. Walaupun momentumnya sudah lewat tapi perasaan itu masih begitu hangat. Terbukti saat kami tiba di sana saya bilang, "Prof, belum terlambat nggih". Beliau menjawab dengan senyuman, "Yo urung". Hingga singkat kisah saya melontarkan dua pertanyaan kepada beliau lebih berat mana dipanggil Prof atau Haji? dan bagaimana gambaran haji di era modern ini? Kata beliau dipanggil Prof atau Haji sama-sama beratnya. Tapi tips nya sederhana agar tidak jadi beban abaikan saja titel itu. Anggap saja tidak terjadi apapun. Walaupun kita tidak bisa menghindar dari sebutan itu di masyarakat. Yang jelas berlaku baik dan lurus sebagaimana mestinya itu sudah cukup. Selanjutnya soal ibadah haji di era modern ini unik. Keunikannya setidaknya pada penggunaan teknologi dan kajian yang tiap tahun selalu ada saja yang baru. Hingga bagi beliau ibadah haji tahun ini termasuk penyelenggaraan terba...