Langsung ke konten utama

Postingan

Sowan Bunda Abah dan Pamitan

Woko Utoro Sore itu saya sowan ke ndalem Bunda Salamah dan Abah Zainal. Beliau pengasuh Pesantren Subulussalam Manggisan Tulungagung tempat di mana saya berproses. Tapi sore itu saya izin pamit undur diri karena akan pulang menetap ke rumah istri di Probolinggo. Akhirnya setelah menunggu lama saya bertemu dengan beliaunya. Setiba di sana saya langsung disambut Abah Zainal. Kami pun langsung berbincang hangat. Tanpa berlama-lama saya mengutarakan maksud dan tujuan. Saya membuka dengan kata maaf karena pada saat itu Bunda dan Abah belum sempat dikabari jika saya menikah. Tapi akhirnya beliau paham sebab ada alasan khusus mengapa saya tidak undang beliau. Kedua saya berterimakasih karena diberikan tempat dan ruang untuk berkhidmat di pondok. Kata beliau semoga jika itu ada kebaikan maka kelak jadi jariyah. Saya pun mengamini dawuh beliau. Lalu saya pun izin untuk pamit dari Tulungagung karena akan mukim di kampung istri. Termasuk izin untuk tidak mengajar di semester depan. Da...
Postingan terbaru

Sowan Prof Dede dan Pamitan

Woko Utoro Malam itu barangkali merupakan momen penuh emosional buat saya. Pasalnya saya harus meninggalkan Tulungagung dan kenangan bersama Pak Dede. Rasanya nyesek sekali. Sebab saya ingat momen penuh kehangatan bersama beliau dan teman-teman. Selain itu saya sudah anggap beliau adalah orang tua. Anda tahu bagaimana rasanya anak berpisah dengan orang tua. Malam itu saya dihidangkan kopi hitam oleh Inas (keponakan Pak Dede). Tapi kopi itu masih pahit hanya saja tidak sekental dan hangat seperti dulu. Mungkin karena ini momen terakhir saya berjumpa beliau. Semoga saja perjumpaan dengan beliau masih sering terjadi walaupun saya di luar Tulungagung. Hingga akhirnya beberapa hal saya catat dari pertemuan singkat itu. Pak Dede berpesan kepada saya jika di sana harus banyak inisiatif. Karena status kita adalah mantu maka inisiatif misalnya membersihkan halaman, wc, ruang tamu dll harus dilakukan. Selain agar si empunya rumah senang kita juga merasa bermanfaat. Selanjutnya jangan...

Sowan Pak Yohan dan Pamitan

Woko Utoro Beberapa waktu lalu saya sowan ke rumahnya Pak Yohan. Beliau merupakan sesepuh di perumahan Graha Asri Utomo Ringinpitu. Kebetulan beliau baru pulang umroh dan langsung saja saya ke sana untuk meminta doa. Termasuk juga sekaligus saya berpamitan dengan beliau. Saat di sana saya dapat banyak kisah terutama seputar umroh. Akan tetapi yang terpenting adalah bekal untuk saya dalam melanjutkan perjalanan setelah ini. Kata Pak Yohan tetaplah sederhana dan berusaha. Apalagi jika kita punya potensi teruslah diasah. Karena kita tidak tahu kapan potensi itu menemukan jalannya. Beliau katanya yakin jika saya bisa melewati semuanya. Asalkan mau berusaha dan berdoa pasti semua ada jalan keluarnya. Di manapun tempatnya jika kita sudah lama ditempa insyaallah menghadapi dunia tidak teramat sulit. Pokoknya kata beliau selamat jalan dan tetaplah istikomah dalam kebaikan. Serahkan semuanya kepada Allah SWT. Tidak usah takut dan teruslah melangkah. Dengan segenap doa dan jiwa Pak Y...

Tangisan Anak SD

Woko Utoro Sudah masuk tahun ajaran baru. Itu artinya ada semangat baru, teman baru dan seragam baru. Hal-hal baru itu menjadi bahan bakar seorang anak menikmati masa berprosesnya. Tapi saya menemukan satu siswa menangis tersedu-sedu karena ditinggal guru lesnya. Siswa tersebut akhirnya lemas dan kurang bergairah ketika dihadapkan dengan realita saya harus belajar sendiri. Tangisan anak SD tersebut tentu mengingatkan saya akan banyak peristiwa serupa. Dulu ketika masih di SDI Al Azhaar Tulungagung saya berproses bersama anak-anak sejak di kelas 2-6 selama 2 tahun. Lalu saya tidak memperpanjang kontrak dan ada saja siswa yang menangis karena harus berpisah. Bahkan beberapa masih sering menghubungi saya lewat pesan WhatsApp. Setelah itu saya ulangi lagi di SD Ringinpitu 1 juga sekitar 2 tahun masa pengabdian. Ketika momen pamit undur diri saya langsung kabur. Karena pastinya saya tidak kuasa menangis tangis. Benar saja beberapa di antara mereka mengejar saya hingga pintu gerb...

Haji Magis

Woko Utoro Beberapa waktu lalu kami bisa sowan haji kepada beliau Prof Dr H Ngainun Naim. Walaupun momentumnya sudah lewat tapi perasaan itu masih begitu hangat. Terbukti saat kami tiba di sana saya bilang, "Prof, belum terlambat nggih". Beliau menjawab dengan senyuman, "Yo urung". Hingga singkat kisah saya melontarkan dua pertanyaan kepada beliau lebih berat mana dipanggil Prof atau Haji? dan bagaimana gambaran haji di era modern ini? Kata beliau dipanggil Prof atau Haji sama-sama beratnya. Tapi tips nya sederhana agar tidak jadi beban abaikan saja titel itu. Anggap saja tidak terjadi apapun. Walaupun kita tidak bisa menghindar dari sebutan itu di masyarakat. Yang jelas berlaku baik dan lurus sebagaimana mestinya itu sudah cukup. Selanjutnya soal ibadah haji di era modern ini unik. Keunikannya setidaknya pada penggunaan teknologi dan kajian yang tiap tahun selalu ada saja yang baru. Hingga bagi beliau ibadah haji tahun ini termasuk penyelenggaraan terba...

Menulislah Selagi Lapang

Woko Utoro Awalnya judul tulisan ini adalah, "Menulislah Selagi Jomblo" tapi ketika saya pikir ulang menjadi tidak tepat. Karena kejombloan bicara status sedangkan lapang adalah waktu. Waktu seperti kita tahu sesuatu yang melekat kepada siapapun tanpa perlu tahu status sosialnya. Bicara soal waktu tentu kita ingat Surah Al Asr, demi masa atau dalam bentuk lagu yang dilantunkan Raihan (2001). Demi masa menjadi pengingat kita tentang salah satunya lapang sebelum sempit. Dalam konteks menulis saya tentu merasakan hal itu. Saya merasa hari-hari ini dengan status sebagai suami rasanya hidup seperti diburu waktu. Saking sibuk atau padat atau apa saya tidak paham rasanya untuk menulis begitu sulit. Padahal waktu 24 jam terbilang sangat banyak. Saya tidak membayangkan jika nanti sudah memiliki momongan. Pasti akan lebih repot lagi bukan sekadar waktu tapi kesempatan untuk tetap konsisten. Semoga saja aktivitas menulis masih terus dijalankan walaupun mungkin sedikit tertat...

Mbah Marfiatun Yang Santun

Woko Utoro Alhamdulillah saya dan Ang Irfan bisa hurmat ta'jiyah ke rumahnya Mbah Marfiatun di Kebonagung Udanawu Wonodadi Blitar. Walaupun informasinya telat tapi kami sampai di sana tepat di peringatan ke tujuh harinya. Tepat di malam Jum'at setelah magrib kami langsung meluncur ke sana. Walaupun sebenarnya tidak tahu kapan acara tahlilan dilangsungkan. Kami berangkat dengan bergegas dan percaya diri. Singkat kisah ternyata kami bisa mengikuti acara dari awal hingga akhir termasuk tahlil dan khatmil qur'an. Tentang siapa sosok Mbah Marfiatun tentu menarik untuk dicatat di sini. Sebab sosok beliau memang luar biasa. Sosok yang langka tentunya ketika melihat jaman sekarang yang penuh tipu daya. Mbah Marfiatun adalah garwanipun Mbah Kyai Imam Ahmad atau ibu dari KH Hafidz Baehaqi, Pak Huda dan putra-putri lainnya yang belum saya kenal. Beliau dipanggil oleh orang-orang sekitar dengan panggilan Yu Tun atau Mbah Tun. Foto : Siswa-siswi MI Syafi'iya...