Woko Utoro Kapan hari saya iseng bahkan menerka sambil bertanya pada ChatGBT mengapa guru bahasa Indonesia tidak menulis. Jika pun menulis rasanya bisa dihitung jari. Kata ChatGBT mengapa guru bahasa Indonesia tidak menulis. Katanya guru bahasa Indonesia itu bukannya tidak menulis. Mereka menulis dalam bentuk lain misalnya soal ujian, RPP, modul pembelajaran, hingga resume materi. Tapi hal yang mendasar mengapa guru bahasa Indonesia tidak menulis. Secara psikologis mereka mengalami kecemasan hingga ketakutan. Terutama takut jika EYD nya salah, takut tulisannya jelek, tidak enak dibaca secara mereka guru bahasa Indonesia yang tiap hari bergumul dengan aksara. Mereka juga menyimpan semacam trauma jika tulisannya tidak sebagus orang lain. Terutama jika melihat betapa di luar jurusan bahasa Indonesia banyak yang piawai menulis. Selanjutnya guru bahasa Indonesia tidak menulis karena sistem membentuk mereka untuk menjadi penilai bukan penulis. Di sisi lain mereka juga harus...
Woko Utoro Banyak seminar bertema, "kembali ke akar". Baik itu akar agama, kebudayaan, politik, ekonomi hingga ekologi. Semua prinsipnya satu agar kita tidak jauh, agar kita tidak lupa. Agar kita sadar bahwa setinggi, sebesar atau serimbun apapun pohon toh nyawanya di akar. Buku tipis ini barang menyentil kita yang terlalu lama pergi meninggalkan akar. Kepergian itu bukan soal jasadi misalnya merantau dari desa ke kota. Bukan itu. Lebih tepatnya kepergian kita soal kesadaran, soal empati dan soal bagaimana berpikir logis. Ini bukan soal kebutuhan apalagi janji politik. Ini tentang kehidupan, kenangan masa kecil hingga menyajikan masa depan. Terutama kehidupan desa yang demikian cepat tercerabut. Padahal desa salah satu urat nadi di mana alam dapat bertahan. Melalui buku kecil ini kita diingatkan bahwa kebutuhan itu pasti. Tapi kemampuan mengeksplorasi butuh kendali. Problemnya kita kalah oleh keserakahan. Hidup diburu gaya hidup bukan kebutuhan hidup. Melalui buk...