Woko Utoro Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata ritual. Pasti langsung tertuju pada perdukunan. Padahal ritual itu step, tata cara, kebiasaan atau rutinitas. Misalnya ketika orang memulai shalat pasti harus berwudhu, masuk masjid, rapihkan barisan dan shalat. Setelahnya lalu berdzikir, berdoa hingga shalat sunnah. Semua rangkaian itu merupakan ritual. Tentu ketika kita menyebut hal sunnah dan wajib maka ritual setiap orang berbeda. Karena perbedaan itulah akhirnya kita harus saling menghormati. Ritual itu tanda setiap sesuatu ada sesi atau fase yang memantapkan prosesi utama. Dalam arti ritual itu penunjang menuju yang pokok. Walaupun tidak selalu dimaknai demikian. Yang jelas adanya ritual membuat aktivitas kita makin mantap. Misalnya sebelum mahalul qiyam ada ritual salam tawasul, melantunkan qasidah, membaca maulid, diakhiri doa dan mahalul qiyam. Bayangkan tanpa adanya ritus itu mana mungkin membaca maulid diawali dengan mahalul qiyam. Bagaimanapun juga maha...
Woko Utoro Banyak orang bertanya apa ritual yang saya lakukan sebelum menulis. Saya jawab tentu tidak ada ritual khusus. Bagi saya menulis ya menulis saja. Saya tidak seperti orang lain yang menulis harus menunggu ide, harus ada rokok kopi, harus mandi dulu, harus di depan laptop, atau harus di alam bebas. Saya bukan tipe penulis manja. Saya menulis apapun, kapan pun dan di manapun. Bahkan ketika tidak membawa smartphone saya bisa menulis. Saya menulis seperti orang-orang biasa. Menulis dengan cara tradisional alias apapun bisa dilakukan. Soal ide saya mudah mendapatkan. Misalnya setelah membaca buku, ngopi, jalan di depan halaman, dari pasar hingga nongkrong di wc. Soal menulis jika tidak ada smartphone maka saya menggunakan buku catatan. Jika tidak membawa apapun saya menyimpan ide di otak. Setelah di rumah langsung ide itu saya tulis. Jika tidak sempat maka bisa dikembangkan esok hari. Sebenarnya menulis itu sederhana seperti buku dan membaca yang menjadikannya kalimat. ...