Langsung ke konten utama

Puasa Untuk Mencetak Pribadi Yang Bertakwa


Woko Utoro 

Jika ada yang tanya apa makna puasa dan apa yang ingin dicapai dalam ritual ibadah ini. Jawabannya jelas sejak dulu hingga kini puasa adalah menggapai ketakwaan manusia. Puasa tidak hanya bermakna menahan tapi lebih dari itu. Puasa adalah kondisi di mana seseorang mengetahui batas dirinya.

Sedangkan yang ingin digapai puasa adalah menjadikan manusia bertakwa. Karena puasa adalah medan ruhani yang menempa kita menjadi pribadi berbudi luhur. Puasa adalah madrasah ruhani yang mendidik jiwa dan bukan sekadar fisik. Lantas bagaimana kerja puasa untuk menggapai ketakwaan. Sebelum itu kita harus tahu makna takwa itu sendiri.

Kata Sayyidina Ali takwa itu takut kepada Allah SWT. Sesuai asal katanya, takwa berasal dari ittaqo, yattaqi, al woqoyah atau hati-hati. Artinya hidup ini harus hati-hati dan jangan sampai ceroboh. Ketakutan kepada Allah SWT harus lebih tinggi daripada takut menghadapi mahluk. Kehati-hatian juga bagian dari ajaran utama agar orang tidak merasa berani. Dalam arti menentang segala yang sudah diperingatkanNya.

Takwa juga berarti kita berusaha mengerjakan apa yang menjadi titah Allah dan rasulnya. Perintah itulah salah satunya melalui rukun Islam, berpuasa. Puasa harus dimaknai sebagai perintah dan bukan beban apalagi ancaman. Maka dari itu setiap ibadah yang ada tak lain sebagai cara agar manusia menjadi penuh takwa. Sederhananya kita bisa melakukan dan bukan sekadar baca atau bicara.

Takwa juga bermakna merasa cukup atas apa yang diresahkan tiap hari. Orang yang bertakwa selalu puas dengan hasil hari ini. Dalam makna utama yaitu bersyukur atas segala nikmat yang ada. Manusia bertakwa tidak mudah protes dan selalu memaknai dengan penuh nilai. Terakhir, takwa adalah kembali kepadaNya.

Kembali kepada Allah SWT adalah tujuan utama. Karena ke mana kita akan pulang selain kepada dzat yang maha kekal. Sedangkan mengikuti dunia hanya fana dan sementara. Maka dari itu dalam hal ini jangan cari sesuatu yang tidak bisa dibawa mati. Kita harus fokus untuk menjawab hidup cari apa dan akan kemana setelah ini.

Jika sudah mengetahui makna takwa dan puasa maka kita sadar bahwa hidup sederhana. Kita paham bahwa hidup sangat singkat dan akhirat itu kekal. Maka dari itu melalui puasa Allah sedang mendidik kita tentang pulang. Jadi bukan bagaimana pergi tapi memastikan bagaimana pulang. Itulah esensi puasa yang sebenarnya kita bukan menjalani untuk diri sendiri melainkan untuk Allah. Akankah puasa tahun ini berhasil mendidik jiwa kita jadi takwa. Jika belum tentu kita berharap esok atau luasa.[]

the woks institute l rumah peradaban 4/3/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...