Woko Utoro
Beberapa waktu lalu saya nobar film Budi Pekerti (2023) karya Wregas Bhanuteja. Di waktu itu pula saya membaca kembali kisah diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Dua momen tersebut ternyata tidak sengaja saling berelasi dan saya belajar memaknai itu semua.
Titik temu pada dua momen itu adalah tentang kebisingan media sosial. Pertama, film Budi Pekerti berkisah tentang seorang guru bernama Bu Prani yang hidupnya dibuat gusar oleh fenomena konten di media sosial. Bu Prani dikisahkan terkena framing akibat dianggap misuh (mengumpat) ketika mengantri kue putu di Pasar Beringharjo. Singkat kisah framing medsos dan segala klarifikasi justru semakin memperkeruh suasana.
Pada akhirnya dari segala benturan di dunia digital saya menemukan jawaban dari kasus Bu Prani yaitu : problem perundungan, salah paham, dan ocehan netizen tak akan pernah selesai jika kita terus berkubang di dalamnya. Solusinya hanya satu yaitu temukan kedamaian, tutup telinga dan jangan mudah terpengaruh media. Kita hanya perlu diam sejenak, tak menghiraukan ocehan hingga notifikasi. Kita hanya perlu keluar dan nikmati setiap rintik hujan.
Bagaimana pun juga bisingnya media sosial jangan dibalas dengan hiruk-pikuk like, komen dan share. Kita hanya perlu berjarak dan bertapa untuk jadi bijak. Mengikuti jejak media sosial sangatlah melelahkan. Maka dari itu pergi adalah langkah jitu.
Meninggalkan media sosial sejenak bukan membuat kita kalah. Justru selepas ditempa kita lebih kuat dan siap tumbuh. Dan itu pulalah yang membuat kita sadar bahwa segala jejaknya tak akan pernah terhapus. Suatu saat rekam digital bisa saja kembali dan kita harus siap sedia. Itulah ancaman nyata di dunia digital di mana sorot kamera dan komen netizen lebih berbahaya dari morfin.
Selanjutnya, soal kisah diterimanya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Dari tempat itulah kita belajar bertanya, mengapa se kelas wahyu Tuhan justru turun bukan di hotel atau bangunan berbintang. Mengapa wahyu harus turun di tempat terpencil, sunyi, gelap dan lorong sempit dalam naungan sebuah batu. Inilah rahasianya mengapa wahyu pertama turun di tempat yang hening dan jauh dari pergerakan manusia.
Bahwa keheningan dan ketenangan adalah alasan utama. Karena kondisi itu sangatlah netral. Seperti kita tahu Gua Hira menyediakan itu semua dan terbukti khalwad Nabi Muhammad SAW berada di zona terintegritas. Gua Hira memberi pelajaran jika kita memiliki problem sesekali lah menyepi. Di sanalah terdapat ketenangan dan tidak selalu dilawan dengan otot yang sama.
Kita hanya perlu keheningan untuk berpikir dengan tenang dan perlahan. Di tempat seperti Gua Hira tak ada siapapun selain kita dan Tuhan. Itulah sebabnya inspirasi, ide, gagasan jangan lahir dari kebisingan. Apalagi jika dikaitkan dengan media sosial sungguh sangat ironi. Media sosial hanya menyediakan arus informasi yang begitu banyak, saling terhubung tapi lupa bagaimana cara menggunakan empati.
Media sosial dan perangkatnya tidak menyediakan kejujuran. Di sana hanya ada gelanggang samudera yang siapa saja bisa tenggelam. Bahkan dalam film Budi Pekerti, sosok Bu Prani nan tegas, berwibawa, dihormati, cerdas pun kewalahan menghadapi berisiknya media sosial.
Lantas apa yang kita pikirkan ketika mengetahui fenomena media sosial nan meresahkan. Ini hanya soal pilihan dan kita sangat faham tabiat asli sorot kamera. Kita hanya perlu menghindar, hati-hati dan jangan mudah percaya bahwa media sosial tidak semua bisa dipercaya.
Kita belajar dari teras Gua Hira yang teduh dan lapang. Tempat di mana pikiran bisa ditempa dengan tenang. Itulah sekian jurus ketika setiap orang berisik di media sosial dan kita tetap tenang dan jangan terbawa arus. Karena pada akhirnya ketenanganlah yang menang.[]
the woks institute l rumah peradaban 13/3/26
Komentar
Posting Komentar