Langsung ke konten utama

Mengikuti Jejak Para Nabi Melalui Kesabaran

Woko Utoro 

Ulama adalah pewaris para nabi? Mengapa demikian, karena nabi wafat mewariskan teladan dan ilmu. Dari warisan itulah para ulama meneruskan hingga kini dan tidak lelah mendidik kepada umat. Sedangkan kita umat adalah pengikut ulama. Sebuah cara agar terus bersambung dengan jejak para anbiya.

Salah satu hal menarik yang bisa kita ikuti jejaknya adalah soal sikap sabar. Tidak tanggung-tanggung Allah memuji beberapa nabi dengan sifat sabar. Misalnya dalam Surah Al Anbiya ayat 85-85 Nabi Zulkifli, Nabi Ismail dan Nabi Idris disebut sebagai hamba penyabar. Dalam Surah Shad ayat 48 Nabi Zulkifli, Nabi Ilyasa dan Nabi Ismail juga disebut sebagai hamba yang baik (akhyar). Yang juga kita tahu Nabi Ayyub bersabar atas penyakit kulitnya.

Jelas bahwa sabar disematkan pada para nabi akan kisah hidupnya. Maka sabar adalah sifat para nabi sehingga jika ada yang bilang, "alah sabar lagi, sabar lagi sampai kapan" itu salah besar. Padahal sudah jelas para nabi pun berpredikat sabar. Sabar itulah yang memungkinkan kita untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Para kiai jika memberi pesan kepada santri cukup bersabar. Itu tanda jika para kiai tahu jika kesabaran bukan barang mudah. Sabar itu bukan statis, diam dan tidak melakukan apapun. Justru sebaliknya sabar adalah aktif dan dinamis. Tidak tanggung-tanggung ada seratus lebih kata sabar disebut dalam Al Qur'an. Bahkan dari 99 namaNya, Allah menyebut dirinya sebagai "Ash Shobur".

Cak Nun pernah ditanya perihal mengapa Allah bersifat Ash Shobur? karena Dia juga sabar atas menimpakan azabnya kepada umat. Kata Mbah Moen, jangan menuntut Allah segera mengabulkan keinginan kita. Jika kita tetap memaksa Dia mengabulkan doa maka bersiap pula Dia menimpakan azabnya.

Di sinilah kita belajar akan arti sabar. Dalam Al Qur'an sendiri jelas bahwa shalat dan sabar sebagai penolong. Sabar bukan saat sedang dalam ujian tapi dalam beragam hal. Yang unik justru sabar dalam ujian kesenangan dan itu membuat kita terjebak. Berbeda dengan sabar dalam kesulitan kita justru lebih dekat kepadaNya. Terakhir jika kita dalam ujian apapun ingat bahwa Allah bersama hamba yang bersabar.[]

the woks institute l rumah peradaban 29/3/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...