Woko Utoro
Kata bapak saya, "Untung kita punya tradisi lebaran. Coba bayangkan di negeri Eropa mungkin tidak mengerti bagaimana cara mereka pulang". Dari apa yang dikatakan bapak itu tentu terasa sangat eksistensial. Betapa pun gagahnya dunia modern toh masih menyisakan lubang menganga pada batin. Percis apa yang disampaikan bapak tempo hari tentang tradisi pulang kampung.
Seperti kita tahu lebaran hanya terjadi setahun sekali. Momen itu sangat langka sekaligus sakral. Orang bisa saja memaknai dengan pikiran apapun. Tapi satu hal yang tak boleh dilupakan adalah perjalanan pulang. Dalam makna fisik tentu kepulangan adalah proses perjalanan dari tanah rantau menuju kampung halaman. Tapi secara lebih maknawi, pulang adalah kembali ke kampung ruhani. Tempat di mana kita mengerti akan muasal. Tempat di mana kita menimba ulang pertanyaan dari mana, mau apa dan hendak kemana?
Itulah barangkali yang tak pernah ditanyakan oleh sebagian orang dan bapak merujuk pada Eropa. Untung saja di Indonesia tradisi lebaran dan pulang kampung masih terjaga. Walaupun mungkin sedikit demi sedikit mengalami pergeseran setidaknya kita masih membutuhkan itu hingga esok. Karena lebaran bukan sekadar tradisi tapi ramuan mujarab untuk mengikis ego diri. Sebuah wadah melihat diri sendiri dengan objektif. Bahwa bagaimana pun kita adalah hamba yang dhoif. Maka perlulah maaf dan saling memaafkan.
Lebaran dan pulang adalah satu kesatuan. Sebuah cara agar kita sadar bahwa setelah perjuangan berpuasa saatnya kembali ke kesucian. Karena bagaimanapun juga kita adalah mahluk yang selalu punya celah untuk salah dan dosa. Maka dari itu mudik, lebaran dan pulang adalah cara untuk memastikan keselamatan. Sebuah tradisi yang dibangun untuk memastikan bukan bagaimana kita berangkat tapi bagaimana kita pulang dengan baik.[]
the woks institute l rumah peradaban 27/3/26
Komentar
Posting Komentar