Woko Utoro
Jagat maya tengah ramai membahas pemberhentian PBI BPJS kesehatan. Pemberian Bantuan Iuran BPJS tersebut dinonaktifkan oleh pemerintah tidak tanggung-tanggung ada sekitar 11 juta pemilik. Alasannya sederhana karena ada indikasi perbaikan data di Kemensos.
Jika bicara BPJS saya jadi ingat dulu tentang apakah perlu bersandar pada kebaikan pemerintah. Sehingga seolah-olah kita berharap untuk mendapatkan bantuan. Atau dengan BPJS kita berharap ditanggung misalnya ketika terkena musibah. Di wilayah ini rasanya tipis sekali antara kemampuan bersandar pada mahluk dan Tuhan.
Bagi orang yang punya BPJS seolah-olah hidup tenang. Jika terjadi sesuatu misalnya sakit atau kecelakaan kerja maka BPJS dan asuransi sejenis dapat membantu. Di sinilah kadang kita berpikir Allah dulu baru BPJS. Atau dalam bahasa sederhana jangan mempertahankan BPJS dengan kehendak Tuhan. Karena bagaimanapun juga BPJS hanya sekadar wasilah dan bukan tujuan.
Saya jadi ingat ketika kekuasaan Sulaiman berada di puncak. Sulaiman mencoba ingin memberi makan semua hewan yang ada. Tapi Allah peringatan jika hal itu tak akan mungkin bisa dilakukan. Ternyata benar saja Sulaiman kewalahan ketika baru saja memberi makan Ikan Nun (sejenis Paus Orca), belum lagi hewan lainnya. Inilah tanda bahwa sekaya apapun Sulaiman tak akan mampu menandingi kuasa Tuhan.
Intinya jangan sampai sombong ala Fir'aun di mana karena tiada yang menandingi ia meninggi. Padahal kekuasaan Allah melebihi yang dimiliki Fir'aun dan Haman. Maka dari itu di sinilah kita belajar dengan orang Jawa yaitu, "Ojo ndisik i kerso". Karena bagaimanapun juga kersane Gusti atau takdir Allah selalu lebih dulu dari apa yang kita bayangkan. Sederhananya, yang tidak memiliki BPJS belum tentu apes atau yang memiliki BPJS juga tidak mesti aman. Semua selalu berbeda di dalam pandangan Nya. Karena Tuhan tak pernah bisa didikte.[]
the woks institute l rumah peradaban 3/3/26
Komentar
Posting Komentar