Langsung ke konten utama

Kembali Ke Diri

Woko Utoro 

Anda mungkin pernah atau terlampau sering jika selepas kerja badan terasa penat. Setelah itu scrol medsos di smartphone untuk sekadar cari hiburan. Lambat laun bukannya badan terasa ringan justru sebaliknya. Tengkuk di leher terasa berat dan badan terasa malas untuk bergerak. Apalagi jika sudah dihadapkan dengan ibadah rasanya seperti ada setan yang menunggangi. Padahal semua hanya soal mindset kita saja.

Dari problem itu sebenarnya kita sadar. Tapi sayang kesadaran itu terbelenggu. Seperti banyak petuah mengingatkan bahwa semakin banyak aktivitas di depan gawai justru kita makin tersesat. Kita mudah terbawa arus informasi yang begitu deras. Kita mudah tenggelam dalam lautan yang tak bisa dibendung di dunia digital. Akhirnya kita berpikir mengapa hiburan dan segala informasi di gawai tidak membuat kita puas. Justru medsos dan gawai hanya membuat kita kehilangan arah. Hidup seperti tersesat dan entah mengapa terjebak di lubang yang sama.

Salah satu hal yang perlu kita lakukan ketika badai itu menerpa sebenarnya sederhana. Kita perlu memandang diri sendiri. Kita perlu menakar ulang apa sebenarnya yang diperlukan tubuh. Apa yang membuat kita ringan dan bahagia. Nampaknya sejenak kita harus merasakan suasana konvensional alias masa lalu. Masa di mana kita begitu puas hanya dengan mainan tradisional, lagu lawas dan atau melihat pemandangan alam. Kita perlu katarsis alias wadah melampiaskan emosi. Misalnya dengan hal berbau fisik, membaca buku, melukis, memasak hingga menjahit.

Upaya sederhana itulah yang membuat kita aktif kembali. Di mana segala indera kita ajak kembali untuk menghayati hidup lebih dalam. Indera tersebut kita ajak terlibat dalam hal yang semua butuh proses. Semua butuh step by step yang membuat kita menyelam arti sabar, menikmati arti bersyukur dan mengerti akan makna. Bahwa kadang yang membuat kita bahagia bukan dunia maya tapi hal yang sederhana dan semua tersedia di sekitar kita. Inilah pentingnya kembali ke diri, cara agar kita tahu kapan, bagaimana dan apa sebenarnya yang kita cari. Mari berpikir mendalam dan mulailah dari diri sendiri.[]

the woks institute l rumah peradaban 28/3/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...