Woko Utoro
Kemarin malam Senin saya dan istri kembali ke Tulungagung dalam perjalanan dari Probolinggo. Kami naik motor dari Probolinggo ke Tulungagung dan singgah di Malang sekitar pukul 24:00 WIB. Di Malang ini kami istirahat sejenak selepas perjalanan jauh Probolinggo - Tulungagung untuk menjenguk Simbah yang sakit.
Singkat kisah kami rehat di Masjid Besar Al Ihsan Pakisaji Malang. Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji terdapat di Jalan Raya Pakisaji No. 118 RT 01 RW 03
Kabupaten Malang
Jawa Timur. Kebetulan masjid ini merupakan salah satu titik rest area tempat ramah pemudik. Tempat di mana lebih nyaman dari posko milik polisi yang formalitas itu.
Tanpa sengaja saya dan istri singgah di masjid ini untuk shalat dan menikmati camilan. Di masjid Al Ihsan ini kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Ornamen masjid dan kaligrafinya membuat orang segera angkat kamera untuk selfie. Terdapat coffee break, teh dan jajanan gratis. Belum lagi karpet nan empuk membuat jama'ah betah berlama-lama. Yang membuat saya kagum karena masjid ini dibuat oleh orang NU.
Jarang ada masjid sejenis ini dengan gaya arsitektur modern milik orang NU. Rerata masjid demikian milik ormas sebelah dan pastinya dengan dana yang mapan. Tapi masjid Al Ihsan ini dibangun atas swadaya bersama dan tak tanggung-tanggung biaya renovasi mencapai Rp. 6 Milyar pada tahun 2014.
Dalam catatan Ustadz Dr. Halimi Zuhdy ketika beliau diminta khutbah di masjid Al Ihsan. Masjid ini tergolong sepuh yaitu dibangun pada 1924. Dulu orang Pakisaji jika ingin shalat harus ke Masjid Agung Malang (1890-1903 M). Tapi sekarang semenjak ada Masjid Al Ihsan orang Pakisaji bisa shalat di masjid kebanggaannya.
Nama masjid ini diambil dari yang mewakafkan tanahnya yaitu Bapak H. Mohammad Ihsan. Masjid ini unik setidaknya beberapa hal yaitu ornamen perpaduan antara Arab dan India, sedangkan dulu arsitektur kolaborasi Jawa Belanda. Kondisi tempat wudhu luas dan menenangkan.
Yang tak kalah menarik adalah terdapat fasilitas disabilitas, lansia dan perpustakaan. Yang terakhir inilah membuat saya betah berlama-lama di sini. Walaupun perpustakaan kecil setidaknya bagi penikmat baca buku sudahlah cukup melepas dahaga.
Di Masjid Al Ihsan ini mungkin koleksinya masih dibilang sedikit. Tapi saya menemukan satu buku karya guru kami Dr. (sekarang Prof) Ngainun Naim, yang berjudul "Islam dan Pluralisme Agama". Serta buku lain dengan beragam tema mulai dari keagamaan, politik, sosial dan budaya. Untuk kelas masjid tentu didominasi buku genre majalah dan buletin keagamaan.
Dalam banyak jurnal yang membahas tentang peran perpustakaan masjid. Disebutkan bahwa sejak dulu salah satu fungsi masjid adalah pendidikan yaitu mengkaji dan menyampaikan ilmu. Melalui perpustakaan masjid setidaknya pengetahuan terus menyala. Sehingga pengetahuan tidak hanya didapat dari mimbar pidato tapi buku bacaan.
Semoga saja makin banyak masjid dengan perpustakaan yang berjalan baik. Perpustakaan bukan melalu di luar agenda keagamaan. Justru Al Qur'an dan masjid akan mandek jika hanya sebatas dipersempit maknanya. Harusnya membaca ragam buku menjadikan kita kaya ilmu. Karena membaca buku selain Al Qur'an tidak haram hukumnya.[]
the woks institute l rumah peradaban 17/3/26
Komentar
Posting Komentar