Langsung ke konten utama

Membaca Panjang

Woko Utoro 

Tradisi membaca harus terus dibudayakan. Dalam budaya yang silih berganti, membaca akan selalu relevan. Selain karena wahyu Tuhan, membaca adalah cara agar manusia tidak tersesat. Membaca adalah wasilah petunjuk manusia dari perbedaan dan problem. Membaca di sini terfokus pada buku. Lebih fokus lagi pada buku dengan banyak halaman.

Di era serba cepat, membaca tidak dituntut cepat. Pembacaan dalam kondisi apapun hanya menuntut konsisten, sederhana dan jujur. Terutama membaca buku tebal kita sejatinya sedang dilatih. Mengapa sering ditemukan kasus mudah tersinggung, salah paham, konflik digital, caci maki hingga termakan hoaks.

Salah satu penyebab konflik tersebut adalah karena meninggalkan membaca. Terutama bacaan panjang sangat diperlukan agar kita terus berhati-hati, tetap tenang, fokus dan disiplin. Bacaan panjang membuat kita tahu kapan batas dan mengerti apa yang perlu dilakukan.

Melalui bacaan panjang kita akan mudah menguasai bacaan pendek. Seperti yang kita ketahui banyak kasus salah paham di medsos akibat bacaan pendek seperti reels, shorts, hingga konten pendek lainnya. Kita disuguhkan tentang pengetahuan yang tak selesai. Kita disodorkan sesuatu yang terpotong tak utuh dan itulah sebab utama perpecahan. 

Semua hal yang kaitannya dengan konten pendek hanya membuat kita salah paham. Apalagi kita tahu isi otak jika sudah keluar menjadi konten, tulisan hingga statement maka menjadi milik publik. Di sinilah jika tidak hati-hati maka kita akan jadi korban.

Coba saja jika orang tidak alergi bacaan panjang maka mereka akan sadar bahwa untuk berenang di lautan kita perlu di kolam renang. Bahwa untuk tampil di medan laga kita perlu berlatih. Bahwa jalan raya selalu diawali dari jalan setapak dan buku besar itulah langkah utama nya. Karena pada akhirnya pintar saja tidak cukup apalagi sekadar tahu. 

Kita perlu bijak, tidak ceroboh dan tidak mudah menyimpulkan. Semua pembelajaran itu dimulai dengan latihan membaca panjang. Bagaimana pun juga membaca memerlukan nafas panjang. Kita perlu menghayati, menikmati dan memahami. Obsesi utama membaca bukan khatam tapi paham.[]

the woks institute l rumah peradaban 2/3/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...