Woko Utoro
Barangkali ungkapan bahwa agama adalah pelarian dari rasa sakit tidak sepenuhnya salah. Eskapisme sebenarnya sudah terjadi sejak lama terutama ketika agama-agama adalah satu-satunya lembaga yang menghantarkan pemeluknya menuju akhirat. Kehadiran agama adalah jalan terutama dalam Islam yang meyakini konsep kehidupan setelah mati.
Marx, Freud hingga James memiliki pandangan tersendiri mengapa agama menjadi alat pelarian. Marx bilang jika agama serupa madat di mana seseorang yang sudah candu akan kembali. Sekalipun misalnya agama tidak memberikan apapun orang tetap membutuhkannya. Berbeda dengan Marx, Freud justru berpendapat bahwa agama berlaku hanya bagi mereka yang sakit. Freud mengistilahkan agama itu neurotic alias sesuatu yang tidak masuk akal atau metafisik. Wiliam James justru kontra dengan keduanya dan memiliki argumen yang cukup mapan.
Bagi James, agama adalah status sosial yang harus dipegangi setiap orang. Hanya dengan agama kebahagiaan hakiki dapat diraih. Dalam konteks Islam tentu kebahagiaan yang dimaksud adalah selamat dunia akhirat. Islam meyakini bahwa agama mampu menjelaskan Tuhan beserta sifatnya melalui nabi dan kitab suci. Dalam hal ini tidak aneh jika Islam dan Al Qur'an sengaja hadir sebagai solusi atas segala problematika hidup.
Salah satu hal mengapa agama memiliki unsur pelarian yaitu adanya peran pendakwah. Melalui peran mereka agama diartikulasikan dengan beragam dan tujuan agar dipahami umat. Salah satu yang unik dari banyaknya pendakwah yaitu Gus Iqdam. Di tempat Gus Iqdam hampir tiap seminggu dua kali orang-orang dari segala penjuru hadir. Di sini mereka menemukan ketenangan apalagi jika sudah berada di sor sengon.
Di Markas Sabilu Taubah (ST) orang-orang datang dengan segala problematika mulai dari masalah hutang seratus dua ratus, perceraian hingga kehidupan yang nelangsa. Katanya lumayan sejak adanya Markas Sabilu Taubah Gus Iqdam jadi semacam sumber penguat. Di sini orang bertemu dengan beragam permasalahan dan mereka tidak sendiri. Jadi jelas keberadaan Gus Iqdam seperti oase di tengah kegersangan.
Orang semacam Gus Iqdam nampaknya sangat diperlukan di era kekinian. Selain karena beliau pernah dibesarkan dalam lingkaran jalanan tentu secara psikologis memahami problem utama. Di mana orang peduli selalu berawal dari mana mereka dilahirkan. Mungkin Gus Iqdam bernasab putra kiai tapi justru sebaliknya kepeduliannya terhadap jama'ah justru luar biasa.
Gus Iqdam merasa kasihan ketika orang-orang yang disebut Garangan memintanya mengaji. Akhirnya dari sanalah pengajian bermula dan Gus Iqdam selalu kontak dengan mereka. Pertemuan demi pertemuan itulah yang akhirnya seperti konseling kelompok. Di mana makin hari makin banyak orang yang merasa hidupnya disentuh secara spiritual. Tentu kita tahu dalam setiap pengajiannya Gus Iqdam selalu mengajak jama'ah berdzikir dan shalawat. Lebih lagi di momen terakhir jelang penutupan sebagai puncak pengajian yaitu diam sejenak sambil berbisik dalam hati.
Momen terakhir itulah seperti sedang berbincang dengan diri sendiri mengapa problem hidup terjadi. Mengapa kita tak kunjung beranjak dan apa yang membuat semua ini terjadi. Sehingga dari sanalah para jama'ah jadi sadar bahwa segala sesuatu pasti ada muaranya. Bahwa segala sesuatu ada obatnya dan mereka hanya memerlukan tabib spiritual atau dokter ruhani seperti Gus Iqdam.
Peran sentral Gus Iqdam mungkin kecil bagi sebagian orang. Tapi bagi sebagian lainnya sangat besar. Karena perubahan itu terkadang bukan dari hal-hal besar. Justru sering kali perubahan datang dari hal-hal kecil. Sepertinya halnya mulai mau shalat walaupun satu waktu, mulai ikut ngaji walau belum istiqamah, sudah belajar wudhu, belajar pakai kerudung, mulai mengurangi minum dll. Itu semua bagian proses yang panjang. Seperti kita tahu proses terapiutik tidak sekali langsung selesai tapi ada banyak rangkaian yang perlu dilalui.[]
the woks institute l rumah peradaban 11/5/26
Komentar
Posting Komentar