Langsung ke konten utama

Organisasi dan Kemampuan Berkhidmat

 

Woko Utoro 

Di setiap organisasi pasti ada peluang dan tantangan. Tidak hanya organisasi yang sudah berjalan, bagi yang merintis pun pasti terdapat dinamika. Hal itu bukan rahasia umum dan pastinya sudah disadari bersama. Pertanyaannya bukan sekadar disadari tapi bagaimana cara organisasi keluar dan menemukan solusinya.

Salah satu cara agar organisasi tetap hidup adalah dengan bergerak. Nadi organisasi adalah komitmen bersama untuk berproses. Selanjutnya selalu ada pengorbanan di setiap prosesnya. Jika organisasi tidak dijalani bersama anggotanya maka bersiaplah vakum. Intinya ruh organisasi terdapat pada komitmen bersama anggota untuk berjalan. Ibarat roda pada kendaraan, mesin tak akan jalan jika tanpa bensin. Pun sebaliknya bensin sebanyak apapun jika tidak ada tangki hendak diisi ke mana?

Kita mendengar kalimat populer, "Hidupilah organisasi dan jangan cari hidup di organisasi". Hal itu adalah tanda bahwa organisasi bukan bertujuan mencari keuntungan sesaat. Tapi organisasi adalah wadah untuk berproses bersama. Walaupun seringkali gagal tapi apa sebenarnya indikator keberhasilan organisasi. Sama dalam aspek sosial keberhasilan organisasi bukan dari banyaknya anggota tapi kebermanfaatan. Jika dalam organisasi itu terdapat manfaat maka perjuangkanlah.

Di sinilah pentingnya kita melihat betapa gigih dan ikhlasnya para pendahulu dalam menjalankan roda organisasi. Misalnya saja, Mbah Wahab Hasbullah dalam proses berdirinya NU. Beliau rela keluar harta benda, meninggalkan santri dan keluarga demi keliling kota untuk mempromosikan NU. Karena pada akhirnya bukan menjadi terkenal tapi dikenali sebagai organisasi nan berdampak. Terkhusus dampak sosial, ekonomi dan agama.

Terakhir, bahwa keberhasilan organisasi bukan pada apa yang sudah dicapai. Tapi pada bagaimana kita masih menghargai proses. Jika setiap proses kita maknai dengan penghayatan tinggi maka keberhasilan organisasi laik diapresiasi. Caranya seperti apa? yaitu dengan saling menyadari bahwa semua bukan usaha individu. Tapi udaha bersama untuk mencapai kemaslahatan. Mungkin semuanya tidak mudah tapi yakinlah kata Mbah Wahab, dalam setiap persatuan selalu ada jalan.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...