Langsung ke konten utama

Pak Shomad yang Mu'tamad


Woko Utoro

Tak ada hujan tak ada angin, story WhatsApp menghijau. Saya buka HP, "ah paling ada acara NU" pikir saya dalam hati. Ternyata ketika saya buka story WA beberapa teman menunjukkan informasi yang sama yaitu lelayu. Seperti biasa jika ada info kematian apalagi menimpa orang yang saya kenal, tiba-tiba badan lemas.

Innalilahi, sugeng tindak Pak Shomad sedo. Pak Shomad meninggal. Lalu saya pun turut berdo'a semoga beliau husnul khatimah dalam story WA. Tentu saya merasa kehilangan. Karena bagaimanapun beliau adalah aset UIN SATU bahkan Tulungagung. Sosok yang pastinya masih dibutuhkan baik di dunia kampus lebih lagi keluarga dan masyarakat.

Namanya Mohammad Ali Shomad Veri Eko Atmojo. Nama yang Jowo sekaligus nyentrik. Nama itu sudah saya kenal sejak jaman Maba, tahun 2015. Melalui buku akademik pada awal pengenalan kampus nama beliau bertengger di antara dosen FASIH. Singkat kisah beberapa waktu saya pernah bertemu dengan beliau walaupun mungkin tidak intens. Pertemuan itulah yang membuat saya percaya diri. Saya bisa lebih fasih daripada mahasiswa FASIH dalam mengenal beliau.

Pertemuan saya dengan  Pak Shomad terjadi di mana saja. Kadang beliau berjalan dengan menenteng tas ala mantri menuju masjid lama UIN SATU. Kadang bertemu di warung Lamongan Gragalan, atau bahkan di berbagai forum pengajian. Ya, seperti kita tahu Pak Shomad sosok yang aktif terutama dalam kajian yang berbau Jawa.

Saya tentu sering berinteraksi dengan beliau ketika ngaji budaya dan atau di forum ziarah wali. Terakhir pertemuan dengan beliau adalah tahun 2018 saat Forum Mahasiswa BidikMisi (sekarang KIP) mengadakan Ziarah Wali Jatim. Tentu ada banyak petuah yang beliau pesankan buat kami.

Selanjutnya pertemuan saya juga pernah di forum ngaji budaya Jawa. Yang beliau sampaikan tentu tidak jauh-jauh dari etika Jawa, pelestarian budaya Jawa dan spiritualitas. Tema itulah yang sangat melekat dengan beliau. Sampai-sampai orang paham jika ada dosen pakai belangkon hitam itulah Pak Shomad.

Kami memanggil beliau Pak Shomad. Sedangkan di lingkungan sekitar Bendungan Gondang, beliau dikenal dengan Gus Eko, Gus Ali atau Gus Shomad. Tapi apapun panggilan itu setidaknya saya belajar banyak hal kepada beliau. Meminjam istilah Sujiwo Tejo, kita selalu utang rasa kepada guru. Karena mereka telah mengajarkan kita tentang arti kehidupan.

Petuah Sebagai Warisan 

Tentu ada banyak hal baik bisa saya petik dari apa yang Pak Shomad wariskan. Beberapa hal itu saya catat rapi dalam buku diary yang hingga saat ini masih tersimpan di perpustakaan pribadi. Pertama, saat ziarah wali beliau berpesan jangan sampai putus hubungan kita dengan ahli kubur siapa pun itu. Mbah-mbah kita, orang tua bahkan para ulama. Karena sejatinya mereka tidak mati justru pandangan nya lebih tajam daripada saat masih hidup.

Mahasiswa UIN (dulu IAIN) atau siapapun jangan lupa beri hadiah fatihah atau tawasul kepada pendiri, baik itu pendiri kampus atau suatu wilayah. Karena dengan fatihah itu bisa dianggap sebagai kulo nuwun, nuwunsewu atau permisi. Jika seorang mahasiswa (misalnya) tidak kulo nuwun dan langsung saja menimba ilmu di kampus itu sama dengan merampok.

Kedua, saat ngaji budaya beliau berpesan jangan tinggalkan identitas kejawaan. Karena esok hari orang makin banyak yang hilang jawanya, ora njawani. Kata Pak Shomad, "Kamu tidak harus seperti saya pakai belangkon atau surjan. Tapi kamu harus menjadi manusia Jawa yang utuh. Manusia yang ngerti papan, paran. Sangkan paraning dumadi.

Ketiga, saya pernah sowan ke ndalem beliau ketika sehabis kecelakaan. Di sana ketika masuk rumah beliau ada foto arsiran (goresan pensil) Mbah Yai Ukir. Nampaknya itu foto Mbah buyut beliau. Saat itu juga selepas kita pamit beliau titip pesan agar terus semangat menimba ilmu. Karena dengan semangat itu kita bisa terus berkarya. Mungkin suatu hari kita mati tapi rasa semangat itu bisa terus diwarisi. Mungkin hari ini dan lewat tulisan ini semangat beliau masih mengalir deras.

Keempat, saat di Warung Lamongan Gragalan tak lupa saya sapa beliau. Saya kecup tangannya dan menyapa, "Pak sendirian saja?", beliau menjawab, "ohh nggih mas, saya sering makan di sini". Dari sapaan kecil itu kami pun berbincang hangat walaupun sebentar. Ketika saya akan pergi beliau berkelakar, "Jo lali kancane disrawungi. Kadang wong yo lali barang". Terkadang orang lupa tapi sebisa mungkin kita berusaha untuk menyambung paseduluran. Lupa itu wajar dan tugas kita saling mengingatkan. Kata saya pada beliau, "dosen lupa mahasiswa ndak papa pak karena saking banyaknya. Tapi mahasiswa lupa dosennya itu perlu dicubit". Kami pun langsung tertawa.

Barangkali itulah sekilas perjumpaan saya dengan beliau. Dan akhirnya bagi saya Pak Shomad lebih dari sekadar pusat kajian. Beliau adalah pusat kajian berjalan yang ilmunya sudah nganti laku. Beliau tidak hanya tempat tapi justru sosok yang sudah melekat jiwa raganya terutama soal spiritualitas Jawa. Tak ada gading yang retak, dan beliau pasti ada kesalahan. Tapi saya bersaksi beliau orang baik, humble dan low profile. Semoga kebaikan itu jadi jariyah beliau sowan ing ngarsanipun Allah SWT. Swargi langgeng Pak Shomad, lahul Fatihah.

Tulungagung, 17 Mei 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...