Langsung ke konten utama

Shaleh Ritual dan Sosial

Woko Utoro

Pada malam peringatan Haul Mbah Slamet (Muasis PPHS) guru kami, Abah Sholeh dawuh banyak hal. Tapi intisarinya sederhana yaitu bagaimana menjadi pribadi baik dan bermanfaat. Kata beliau Kang Sholeh dan wong kang sholeh itu beda. Kang Sholeh itu nama yang disematkan pada seseorang. Sedangkan wong kang sholeh adalah karakter mulia yang dimiliki seseorang. Jadi jelas menjadi sholeh modal nama lebih mudah daripada sholeh sebagai sikap atau karakter.

Dalam Syair Tanpo Wathan karya KH Nizam Ash Shofa disebutkan jika ciri orang shaleh adalah bagus hatinya. Indikator orang bagus hatinya adalah ilmunya telah menyatu dengan jiwanya. Maka dari itu kita selalu nyaman dengan orang yang banyak ilmunya. Orang yang ilmunya mendalam pasti mudah memahami liyan. Sedangkan orang yang bodoh cirinya sederhana yaitu mudah emosi, menuduh, hingga anarkis. Dari sini jelas jika kita tidak mampu mengubah (bicara) setidaknya diam lebih baik.

Dalam Syair Tombo Ati Sayyidina Ali ada tips jika kita tidak mampu menjadi orang shaleh karena mungkin dianggap berat maka berkumpul dengan mereka adalah solusinya. Berkumpul dengan orang shaleh saja bisa disebut baik. Karena pertemuan denga tukang minyak wangi akan ikut jadi wangi. Itulah yang disebut bahwa kebaikan ibarat virus, memang mudah menular. Maka dari itu ketika saya dekat dengan Abah hati terasa tentram. Karena saya sadar bahwa sebagai santri kami masih jauh dari cita-cita para guru. Oleh karena itu, hal paling dikhawatirkan seorang guru adalah ketika jauh dengan santrinya.

Di sini kita juga belajar bahwa shaleh ritual saja tidak cukup. Kita harus punya dampak kepada sesama. Maka di Al Qur'an menyebut jika setelah aqimus shalata lalu wa atuz zakata. Setelah melakukan ibadah ritual individu maka beranjak segera saling menolong (ta'awanu) terhadap sesama. Itulah arti shaleh sederhana tapi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Maka dari itu mari kita terus terhubung dengan orang shaleh agar hidup terkerek bersama mereka.

Termasuk keshalehan sosial juga bagian dari ciri haji yang mabrur. Orang yang awalnya agak pelit setelah haji jadi dermawan. Orang yang sedikit ketus setelah haji jadi murah senyum. Orang yang masih sering maksiat setelag haji jadi taubat. Orang yang masih minim ibadahnya setelah haji jadi rajin ibadah. Itu adalah serangkaian ciri sederhana disebut haji mabrur.

the woks institute l rumah peradaban 15/5/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...