Woko Utoro
Film dokumenter Pesta Babi tengah ramai diperbincangkan. Sebagaimana film sebelumnya Dandhy Laksono menyuguhkan beragam data, potret dan fakta kegetiran. Film Pesta Babi hampir serupa dengan Sexy Killer, Dirty Vote, The Mahuzes, Alkinemokiye dll yang semuanya menyuguhkan key word : oligarki, tambang, militer, bencana ekologis, dan kolonialisme gaya baru. Tentu jika buka-bukaan data atau borok penguasa adalah aib yang melahirkan pro dan kontra.
Betapa pilu ketika kita menonton film ini, bayangkan ribuan hektar tanah adat harus digusur oleh keberadaan perusahaan demi proyek strategis nasional. 1800 tiang salib merah melawan 2000 eskavator dan ribuan tentara yang berjaga. Alih-alih perusahaan mundur justru sebaliknya masyarakat dipaksa terusir dari tanah moyangnya. Orang-orang yang menggantungkan hidup dari hutan kini menjadi nestapa. Sebab hutan akan beralih fungsi menjadi sawah untuk padi, perkebunan tebu, singkong dan peternakan. Para suku asli pedalaman tidak akan menemukan sagu lagi di tanah kelahirannya.
Pertanyaannya hanya satu siapa di balik semua proyek ambisius itu? jawabannya juga satu yaitu negara, bersama para pemodal besar. Bahkan di era ini militer disebar untuk mengamankan siapa saja yang berani melawan. Hemat kata bilah panah mengahadapi moncong-moncong senjata. Dari itulah kita paham bahwa kata Bung Karno yang paling menyedihkan adalah melawan bangsa sendiri. Tidak aneh jika mereka yang tergusur merasa lebih baik berpisah. Atas nama apa lagi merah putih dapat jadi pelindung jika negara justru aktor utama kejahatan ekologi tersebut.
Dari film tersebut kita selalu paham bahwa di balik ide pembangunan selalu ada tumbal. Rasanya prihatin dengan kondisi tersebut tapi kita tidak bisa berbuat apapun. Begitulah di manapun termasuk di belahan dunia nun jauh di sana penjajahan atas negeri nya sendiri selalu terjadi. Kita mungkin tidak bermain alutista macam Amerika Israel vs Iran. Tapi dari kebijakan dan ambisi cukup untuk menghilangkan satu generasi. Dan hal itu terjadi di masa kini.
Maka tidak salah melalui film tersebut Dandhy Laksono selalu mengajak kita untuk sadar, kritis dan peduli. Bahwa kemajuan, pembangunan atau apapun namanya selalu tidak pernah gratis. Tapi bagi mereka korbannya selalu ada darah, nyawa yang dibayar. Kita merasa sedih dan saat itu pula sadar demokrasi terkadang menyakitkan. Kita selalu mempertanyakan di mana letak keadilan serta janji-janji politik yang dulu diorasikan.[]
the woks institute l rumah peradaban 22/5/26
Komentar
Posting Komentar