Langsung ke konten utama

Sepuh Belajar Menulis


Woko Utoro

Belajar tidak mengenal usia. Siapa pun boleh belajar. Karena Islam sendiri mengatakan bahwa belajar adalah sepanjang hayat. Belajar tersebut mencakup apa saja salah satunya menulis. Orang sudah tambah usia baru belajar menulis tidak mengapa. Karena menulis selalu memihak mereka yang bersungguh-sungguh.

Tua, muda atau siapapun jika bersungguh-sungguh pasti akan sampai. Guru kami Prof Ngainun Naim mengistilahkan dengan, "Man talatina fanaina" dan "Sopo seng tekun bakal tekan najan gawe teken". Begitulah keunikan menulis yang semuanya punya kesempatan jika mau terus belajar.

Kata orang untuk apa menulis di usia senja? rasanya seperti buang-buang waktu. Kata saya semua hal dalam hidup tidak ada yang sia-sia. Justru menulis di usia senja banyak manfaatnya. Salah satu hal yaitu menguatkan daya ingat, terhindar dari penyakit alzheimer dan pastinya tidak menjadi tua yang menyebalkan. 

Menulis itu murni sebuah teknik yang harus terus dilatih. Tidak menjamin usia sepuh langsung bisa menulis walaupun pengalamannya segudang. Tidak mesti juga pemuda mampu menulis dengan indah sekalipun tengah berbunga-bunga. Yang memastikan seseorang bisa menulis adalah kemauan dan mencoba terus belajar.

Kata guru kami menulis itu membutuhkan tenaga ekstra. Menulis bukan sekadar memindahkan kata-kata dari pikiran menjadi kalimat utuh di selembar kertas/notes. Tapi menulis itu proses panjang membersamai kata, pengalaman dan pengetahuan. Jika seseorang merasa perlu untuk belajar menulis maka menulis saja dan jangan pernah berhenti. Karena menulis itu bisa membuat seseorang putus asa. Apalagi jika sejak awal salah niat maka menulis akan membosankan bahkan cenderung berhenti selamanya. Lantas apa solusinya terhadap tradisi menulis ini.

Pertama, tentu kita butuh lingkungan. Lingkungan yang mendukung kebutuhan menulis lebih memiliki dampak nyata. Karena pengaruh lingkungan akan mudah untuk menyemai bibit kepenulisan. Ironisnya di kita jangankan ekosistem, lingkungan menulis saja tidak ada. Sehingga ketika tidak ada lingkungan yang support untuk aktivitas menulis maka selamanya kita begini-begini saja.

Kedua, rajin berlatih. Dalam hal apapun menulis itu perlu dibiasakan. Bahkan kata guru kami, menulis itu kudu ngoyo alias dipaksa. Karena dengan dipaksa berarti kita memacu kekuatan untuk lebih disiplin. Menulis yang hanya sekadar memenuhi kebutuhan formal tidak akan membekas. Tulisan tersebut hanya akan berakhir sebagai penggugur kewajiban. Sedangkan menulis yang baik adalah yang kontinyu dan menjadi bagian penting dari kehidupan.

Ketiga, dimulai dari membaca sederhana. Ya belajar menulis juga belajar membaca. Tanpa adanya pembacaan terhadap sesuatu baik buku, kondisi, realita atau peristiwa maka tulisan tak begitu hidup. Tulisan yang hidup selalu berangkat dari kecemasan, keresahan dan uneg-uneg di kehidupan sehari-hari. Nah, tulisan itulah yang menjadi media refleksi atas apa yang kita temui.

Sekarang kapan kita memulai lagi menulis. Memulai tentu lebih mudah dari mempertahankan. Dan itu semua adalah pilihan bahwa menulis tidak harus berkaitan dengan kenaikan jabatan, lomba atau mengharap keuntungan. Justru menulis itu sendiri adalah keuntungan pribadi yang tidak akan kita sadari.[]

the woks institute l rumah peradaban 13/5/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...