Langsung ke konten utama

Gus Iqdam dan Fenomena Pergeseran Jama'ah

Woko Utoro 

Siapa yang tak kenal Gus Iqdam. Seorang pendakwah muda yang namanya beken beberapa tahun terakhir. Namanya muncul ketika pendakwah didominasi ceramah umum dan kaku. Gus Iqdam melalui media sosial hadir langsung ke titik paling krusial yaitu kesendirian, keterasingan. Gus Iqdam seolah obat di saat dunia spiritual modern tengah sekarat.

Ia menjelma pendakwah yang mewakili perasaan masyarakat. Ketika dunia dilanda pandemi ngaji dibalut hiburan menjadi pilihan. Akhirnya dalam bahasa Candra Malik, karomah medsos membantu Gus Iqdam viral. Orang di mana-mana tahu jika di Srengat Blitar ada Gus muda yang berceramah mewakili perasaan kaum rural. Dengan sajian kopi panas beralasan tikar serta gaya yang humble Gus Iqdam mampu menarik perhatian jama'ah.

Kini sudah hampir 7 tahun sejak didirikan sekitar 2018 Majelis Sabilu Taubah Gus Iqdam tak pernah sepi dari jama'ah. Tak kurang dari 6 ribu jama'ah dan rata-rata 15 ribu turut dalam live streaming. Gus Iqdam menjelma animo baru yang terus diburu. Tapi apakah di posisi tersebut merupakan pencapaian puncak? Gus Iqdam pun menjawab dengan gamblang.

Bagi Gus Iqdam popularitasnya tak bernilai apapun. Dibandingkan dengan tirakat orang tua dan leluhurnya. Gus Iqdam tetaplah bocah kemarin sore yang kebetulan saja beruntung. Gus Iqdam sendiri bingung mengapa orang mencintai pengajiannya. Padahal bolak-balik disampaikan jika pengajian tak lebih dari sekadar guyonan.

Gus Iqdam sendiri selalu khawatir jika pengajian justru jadi ajang mencari duniawi. Terlebih lagi di era digital ruang agama justru mudah dibenturkan. Gus Iqdam hanya ingin jika pengajiannya pure, murni berniat mencari ridho Allah SWT. Beliau mengistilahkan dengan ngaji lewat jalur bahagia.

Pergeseran Jama'ah Itu Fakta

Kekhawatiran Gus Iqdam sebenarnya bukan hal baru. Terutama ketika melihat psikologi jama'ah tentu kita tidak bisa menilai secara utuh. Bagaimana pun jama'ah adalah objek dari sebuah jalan dakwah. Mereka tidak bisa disamakan dengan orang lain menurut versi kita. Jika dulu jama'ah datang untuk mengaji tapi kini berniat mencari selfie. Jika dulu orang hadir untuk ilmu tapi kini hanya gengsi yang diburu. 

Jika viralitas yang dijadikan pondasi utama mengapa jama'ah datang mengaji. Tentu pergeseran sudah terjadi sejak lama. Dunia digital memang mudah mengarahkan subjek untuk bertahan paling lama di layar, kita sebut saja fyp. Akhirnya pilihan itu bertahan dan kebetulan Gus Iqdam masih bertahan di atas perburuan keyword pendakwah masyarakat.

Hal paling menyedihkan tentu terkait dengan fotbar (foto bareng). Di beberapa kesempatan Gus Iqdam menerima ajakan jama'ah yang ingin foto bersama. Awalnya mungkin nampak sederhana tapi lambat laun pergeseran terjadi. Gus Iqdam merasa kewalahan tapi beberapa orang tetap memaksa meminta foto. Paksaan atas dasar mengidolakan awalnya biasa tapi lambat laun justru meniadakan adab. Kita dan guru seolah lancang karena berbuat sesuka hati. Padahal segala sesuatu memiliki etikanya termasuk cara bersalaman dan meminta foto.

Dari fenomena ini Gus Iqdam sendiri sering mengatakan jika mengidolakan sesuatu itu biasa saja. Kecuali mengidolakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu harus melebihi kecintaan kita pada orang lain. Intinya bahwa terkadang menjadi terkenal itu melelahkan. Harusnya titik temu dari muhibbin dan yang dicintai adalah adab. Mungkin kita harus belajar apa yang didawuhkan Gus Baha bahwa tidak dikenal itu nikmat. Tidak menjadi apapun tidak masalah. Justru terhindar dari pantauan mahluk hidup terasa bebas.

Di sini pula para jama'ah harus sadar bahwa bagaimanapun juga tokoh idola memiliki privasi. Mereka memiliki ruang untuk mengajarkan jika batas itu penting. Bahwa batas bukan untuk membatasi tapi justru mengatur jika di depan ilmu ada adab yang harus didahulukan. Jangan sampai hanya karena ingin foto dengan pendakwah idola kita kehilangan makna bahwa Muslim itu rusuh.[]

the woks institute l rumah peradaban 10/5/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...

Pesan Untuk Temanten

Woko Utoro  Beberapa waktu lalu saya diminta oleh Widayanti untuk hadir dipernikahannya. Saya bilang tidak bisa, selain karena kesibukan tentu sebagai artis jadwal bookingnya mahal (kami pun tertawa). Widayanti adalah adik kelas kami sejak di MTs, Aliyah hingga kuliah. Kebetulan kami satu almamater yaitu Nurul Hikmah Squad baik di Gantar maupun Haurgeulis. Singkat kisah Widay sapaan akrabnya mengabari saya jika ia pamit untuk menikah. Saya bilang oke ndak papa, semoga lancar dan berkah. Lantas ia pun langsung meminta agar saya memberi nasihat. Tanpa berlama-lama saya pun menuliskan spesial buatnya. Dan memang hanya itu yang saya mampu. Pesan ini tentu tidak hanya untuk Widay tapi semua orang dan saya secara pribadi. Pertama,  berkaitan dengan nikah sudah jelas yaitu bertujuan untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Melahirkan generasi terbaik dan tujuan menggapai ridha Allah SWT. Tidak ada pesan lain kecuali segala sesuatu bersandar kepada Allah SWT. Kedua , saya dapat pe...