Woko Utoro
Resiko orang hidup adalah mendapatkan ujian. Dalam hal apapun ujian pasti ada. Tidak ada orang yang terhindar dari ujian. Sehingga ketika ujian tiba kita hanya perlu menghadapi dengan baik. Disadari atau tidak ujian itu ada bahkan tiap hari. Bahkan yang kita anggap kemewahan dunia (harta, materi) itu juga bagian dari ujian.
Soal ujian sudah ada rumusnya yaitu disesuaikan dengan kemampuan hambanya. Jadi tidak mungkin hamba diuji di luar batas kemampuannya. Begitu janji Allah kepada kita agar berpegang teguh kepadaNya. Kecuali fenomena modern sudah diprediksi oleh Imam Ghazali, esok banyak laki-laki tumbang karena diuji oleh mertua yang menekan habis mantunya untuk mencari penghidupan secara berlebihan. Sehingga laki-laki itu jika tidak berhasil akan dihinakan karena kefakiran.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Tirmidzi disebutkan jika tak ada yang lebih berat ujiannya kecuali untuk para nabi. Setelah itu ujian orang shaleh dan yang sejenisnya. Bisa dibayangkan Nabi Adam diuji anaknya bertengkar yaitu Habil Qabil. Nabi Nuh diuji putra dan istrinya membangkang. Nabi Ibrahim diuji dengan kaum pagan bahkan bapaknya sendiri yang membuat patungnya. Nabi Ibrahim juga diuji menyembelih putranya Ismail padahal baru saja bahagia atas kelahiran anak. Nabi Ayyub diuji sakit kulit yang bahkan sampai berbelatung.
Nabi Zakariya diuji belum memiliki momongan bahkan hingga 80 tahun usianya. Nabi Muhammad SAW jangan ditanya lagi, beliau diuji kakek dan pamannya masih beragama nenek moyang. Belum lagi putra putri beliau, Sayyid Qasim, Sayyid Abdullah, Sayyid Ibrahim, Sayyidah Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum meninggal ketika nabi masih hidup. Bisa dibayangkan betapa sedihnya Rasulullah ketika menyaksikan putra putrinya wafat di usia dini. Belum lagi istri kesayangan beliau Sayyidah Khadijah al Kubra juga wafat, beuh betapa remuknya andai kita yang merasakan itu. Sepertinya jelas kita tak akan mampu menerima ujian seberat itu.
Jika kita amati ujian para nabi tersebut datang tidak dari jauh. Justru ujian datang dari hal terdekat di sekitar kita. Sehingga kita dapat belajar, "Iya ya, para nabi juga ujiannya luar biasa. Maka seyogyanya kita juga harus meneladani mereka". Bagaimana pun juga dalam setiap ujian selalu ada hikmah. Kita perlu mengikuti jejak anbiya yaitu dengan bersabar. Karena kesabaran adalah akhlak para nabi. Kita dan para nabi sama, tidak ada bedanya selama tidak putus asa dan terus berpegang teguh pada tali Allah SWT.[]
the woks institute l rumah peradaban 4/5/26
Komentar
Posting Komentar