Woko Utoro
Hajaj bin Yusuf pernah terlibat pembunuhan di era Yazid bin Muawiyah. Ia membunuh Abdullah bin Zubair yang sedang i'tikaf di Masjidil Haram. Seperti kita tahu aib besar dan pantangan jika sampai ada pertumpahan darah di tanah haram. Akhirnya dari peristiwa nahas itu menjadikan Hajaj ikon manusia paling dibenci seantero negeri. Singkat kisah sekitar 7 abad dari peristiwa itu Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya menyebutkan bahwa ternyata Hajaj itu putra seorang guru. Tapi bukan guru sejati tapi guru sekadar profesi.
Gus Baha menjelaskan guru itu ada dua. Guru dalam makna profesi dan guru hakiki. Guru profesi untuk banyak kita jumpai. Cirinya sederhana yaitu mengajar hanya karena formalitas, ada jadwal, jam, mendapat gaji. Sedangkan guru hakiki dalam kondisi apapun akan terus mengajar. Guru hakiki lebih menekankan pada keikhlasan, kepedulian dan panggilan hati. Guru model kedua ini makin jarang kita temui kecuali bisa kita saksikan pada sosok kiai kampung yang mendidik di langgar dan madrasah. Yang kadang tidak memiliki bayaran tetap. Sekalipun ada itupun nilainya sangat kecil.
Pesan Gus Baha, jika jadi guru ya bukan sekadar profesi tapi di bawa hingga ke rumah. Artinya mendidik itu tidak terbatas dalam kelas tapi larut dalam percaturan masyarakat. Jika di sekolah guru bisa sangat perhatian, peduli dan empati pada murid maka di tempat lain pun harusnya demikian. Jangan sampai kepedulian kita dibatasi oleh faktor geografis, wilayah, tempat atau waktu. Jika di sekolah kita guru maka di rumah pun kita guru. Laiknya mendidik murid sekaligus mendidik diri sendiri.
Yang paling penting bagaimana seorang guru menanamkan akhlak baik kepada murid. Tidak hanya terpaku di sekolah tapi juga rumah dan tempat kita tinggal. Sehingga tidak ada alasan, "Kan di sini (tempat lain) bebas dong. Guru itu di sekolah, jadi kita boleh sesuka hati". Tentu pernyataan itu salah total. Bahwa di mana pun kita adalah seorang guru.
Guru itu digugu dan ditiru, terutama dalam menanamkan moralitas. Bahkan kata Imam Ghazali, didiklah anak-anak mu 10 tahun sebelum mereka lahir. Artinya jelas bahwa sebelum keburukan terjadi kita sebenarnya tengah mendidik, minimal diri sendiri agar menjadi pribadi yang berbudi luhur.[]
the woks institute l rumah peradaban 16/5/26
Komentar
Posting Komentar