Woko Utoro
Berita duka lagi untuk UIN SATU. Dua hari lalu dosen FASIH Pak Shomad berpulang. Kini Prof Maftukhin kembali ke pangkuan Nya. Tapi saya sedikit tidak kaget. Karena sudah lama beliau memang sering keluar masuk rumah sakit. Kondisi kesehatan beliau makin memburuk seiring bertambah usia. Tapi apapun itu beliau orang baik dan semoga Allah SWT memperkenankannya di tempat yang mulia.
Kenangan dengan Pak Tukhin begitu kami memanggil beliau tentu banyak. Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran buat saya. Pertama, saya ingat tahun 2015 ketika beberapa anak dari Indramayu singgah di rumah dinas. Setelah menetap beberapa bulan saya baru sadar jika tempat itu rumah dinasnya Pak Tukhin, Pak Rizqon dan Cak Akhol.
Selama di sana saya sangat minim berinteraksi dengan beliau. Selain karena sungkan beliau rektor IAIN pada saat itu. Tentu saya masih terkendala bahasa Jawa yang belepotan. Walaupun begitu setidaknya saya pernah membuatkan kopi untuk Pak Tukhin ketika para senior sedang tidak di rumah.
Pada saat itu beliau doyan ngopi dan maniak rokok. Lengah sedikit langsung sebat dan tak lupa ngopi sambil jagongan gayeng. Kalau sudah ada teman ngobrol pasti pantang surut. Sudah jamak orang tau tipe humoris seperti beliau sulit dikendalikan. Itulah barangkali yang membuat beliau diterima di setiap kalangan. Apalagi kalau sudah pidato siapa yang berani menghindar dari gelak tawanya.
Interaksi kami terjadi ketika para orang tua hadir ketika memenuhi undangan temu wali Bidikmisi. Kebetulan orang tua kami menginap semalam di rumah dinas. Di sanalah bapak saya berbincang sapa dengan Pak Tukhin. Walaupun hanya sekadar bertegur sapa tentu hal itu sangat membuat kami bahagia. Orang dari desa bisa sedekat itu dengan rektor kampus yang mahasiswanya ribuan tentu kebanggaan tersendiri. Sayangnya kami tak sempat berfoto bersama beliau.
Pak Tukhin yang asli Pekalongan itu langsung akrab dengan bapak saya. Lebih lagi ternyata bapak saya bisa menyeimbangkan dengan bahasa Jawa krama. Singkat kisah kami belajar dari Pak Tukhin bahwa bermimpi harus tinggi. Walaupun hanya orang desa tidak haram jika punya mimpi misalnya ingin jadi rektor atau presiden.
Pak Tukhin yang seorang santri Lirboyo tersebut tentu bisa kita tiru dari karakternya. Beliau sederhana dan grapyak tentu membuat siapa saja enjoy di dekat beliau. Apalagi jika bertemu dengan orang desa rasanya tak ada bedanya. Lebih lagi saat pertemuan dengan lintas agama beliau sendiri sering berkelakar jika saya ada keturunan Tionghoa. Buktinya kulit putih mata sipit.
Selain soal sifat dan sikap hal yang paling mengesankan bagi kami anak desa adalah program ketika Pak Tukhin masih jadi rektor. Pada saat itu saya tahu ada program bagi penghafal Al-Qur'an, beasiswa untuk anak asli Plosokandang, ukt nol rupiah, beasiswa lembaga, beasiswa prestasi akademik, dan pastinya Bidikmisi (sekarang KIP). Di bagian terakhir itulah saya turut merasakan bahkan masih bonus pengembangan bahasa Inggris di Pare, Nyantri Kilatan di Pondok Bolu hingga mondok setahun di PP Panggung.
Bagi orang desa kebijakan Pak Tukhin tentu sangat membantu sekali. Apalagi jika sudah kaitan dengan biaya pastinya orang desa begitu gembira. Saya sendiri merasakan terutama ketika masa transisi aliah status STAIN jadi IAIN. Di sana saya dikabari senior jika IAIN Tulungagung ada program pengembangan kampus ke luar Jawa Timur. Akhirnya kami orang dari Jawa Barat khususnya turut menimba ilmu di sini.
Dari sanalah akhirnya saya merasa Pak Tukhin telah berjasa besar dalam merangkul orang desa untuk jadi sarjana. Apalagi kita tahu saat pidato beliau selalu menyinggung blok M (Munjungan), Dermayu, Ciamis dan Probolinggo (Madura). Sehingga kita orang desa merasa ada yang membela yaitu Pak Tukhin. Dari beliau lah kita belajar asal ada kemauan dan kegigihan pasti selalu tersedia jalan.
Kini intelektual dari desa itu telah berpulang. Pasti saya dan kita semua kehilangan. Bukan saja tentang tawa tapi sikap dan kebijakan beliau yang pro rakyat. Terlepas dari pro kontra atau kekurangan. Yang jelas kami saksi bahwa beliau orang baik dan semoga kita akan berjumpa lagi. Karena semua milik Allah dan akan kembali kepadaNya.[]
Sugeng tindak, Prof Maftukhin. Swargi langgeng. Lahul Fatihah.
Komentar
Posting Komentar