Woko Utoro
Sebagaimana manusia yang melewati banyak sejarah Simbah tentu mengerti bagaimana memahami kondisi bangsa. Sejak jaman tidak enak hingga saat ini beliau tidak pernah absen bagaimana merasakan kondisi rakyat. Dengan metode berdiskusi Mbah Nun selalu hidup dan menginspirasi. Walaupun kini beliau sudah jarang tampil tapi simpul-simpulnya masih erat. Bahkan mungkin akan terus meluas.
Sudah 73 tahun Simbah hadir untuk bangsa. Tidak hanya mengurai masalah tapi beliau selalu jadi pohon. Pohon yang di saat orang lain memilih membesar beliau justru berbeda. Beliau lebih memilih jadi pohon yang tumbuh bersama dan melahirkan cabang-cabang baru. Pohon yang sejuk dan mengeratkan jiwa dari dasar akarnya.
Simbah mungkin tahu problem negeri ini begitu sistemik dan tak terkendali. Sehingga kita merasa putus asa ketika melihat kondisi tersebut. Tapi sejenak saat ingat Simbah kita harus tegar. Sebagaimana beliau mengajarkan bahwa selama kita masih punya Allah selamanya tak usah dirisaukan. Kita sudah melewati fase paling menyedihkan yaitu penjajahan, kerusuhan, terorisme, covid 19 hingga korupsi semua terlewati. Hanya problem akhir itulah yang membuat kita harus terus bekerja hingga kini. Korupsi tak pernah usai selama kekuasaan masih berorientasi pada keuntungan.
Kata Simbah dalam kondisi apapun berpeganglah pada Allah. Karena hanya Dia yang mampu membantu kita. Melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW itulah kita berwasilah. Jangan sampai kita kehilangan dua pegangan itu. Ibarat kata dunia itu hina dan tak ada apa-apanya. Tapi jika berharap kepada Allah semua akan terselesaikan. Jangan sampai berharap kepada penguasa yang hanya terbatas 5 tahun. Sungguh hal itu tak membantu apapun kecuali keputusasaan.[]
the woks institute l rumah peradaban 30/5/26
Komentar
Posting Komentar