Woko Utoro
Tahukah anda mengapa kasus kekerasan seksual yang viral di UI bisa terjadi. Salah satu faktor menurut psikolog yaitu ada istilah sirkuit empati. Sirkuit empati adalah istilah seseorang merasa aman melakukan sesuatu hanya karena objeknya tidak hadir. Dalam kasus tersebut jelas jika pelaku merasa benar ketika mereka menikmati tubuh lewat ruang chat hanya karena objeknya tidak hadir. Di sinilah kesalahan pertama lahir hanya karena istilah tidak bakal ketahuan. Padahal hal tersebut salah besar.
Bahwa tidak hadir bukan berarti tidak tahu. Justru terkadang perasaan selalu hadir walaupun tanpa disadari. Dalam kasus ini jelas para pelaku telah mati sirkuit empatinya. Mereka bodoh hanya karena korban dianggap tidak ada. Padahal sebaliknya kasus tersebut ibarat bangkai yang lambat laun tercium juga. Lantas bagaimana cara praktis sirkuit emosi bekerja? Sederhana saja misalnya begini, ada mahasiswa yang berfoya-foya, malas kuliah dan hanya main-main belaka. Nah dalam kasus tersebut si mahasiswa telah mati rasa sirkuit empatinya.
Emosi mahasiswa seperti itu telah dikuasai oleh amarah. Mereka lupa bahwa di balik gaya hidup mewah, malas dan tidak serius kuliah adalah air mata orang tua. Keringat kerja keras orang tua harus dibayar dengan sikap amoral yang dilakukan anak adalah bagian dari tumpulnya sirkuit perasaan mereka. Maka dari itu di sinilah kita mencoba untuk mengembalikan ke jalur yang berintegritas. Salah satu hal penting yaitu mengurangi penggunaan gadget. Penggunaan gadget yang berlebihan bisa mematikan emosi seseorang. Hidup seperti tak memiliki gairah dan pastinya malas berpikir (mudah mageran).
Cara termudah dari memperbaiki sirkuit empati adalah kembali ke buku cetak. Baca kembali buku-buku tentang pergerakan, kesuksesan hingga agama. Tuliskan segala bentuk kalimat yang menggugah dan menghindari kita dari sesat pikir. Selanjutnya hayati masyarakat dengan menghadirkan peran dan ragam kerja kerasnya. Hadirkan kisah-kisah heroik dan berkarakter agar otak kita tergugah. Hindari konten-konten tak berguna seperti sampah (guyonan, atau diskusi hampa makna). Jangan lupa, berdo'a mohon perlindungan dari Allah agar kita terhindar dari matinya emosi jiwa.[]
the woks institute l rumah peradaban 18/4/26
Komentar
Posting Komentar