Woko Utoro
Beberapa waktu lalu saya mengikuti kegiatan bimtek yang diadakan Nyalanesia. Kegiatan tersebut semacam pembekalan untuk peserta SPL Nasional. Kegiatan tersebut menghadirkan Uda Ivan Lanin. Acara serupa juga dihelat sebelumnnya yaitu menghadirkan Gus Nadhir dan Gus Muh alias Muhidin M Dahlan. Sayangnya yang sebelumnya tersebut saya tidak bisa mengikuti karena terbentur jadwal.
Singkat kisah, siapa yang tidak kenal Ivan Lanin. Ia adalah tokoh kebahasaan modern yang lahir di Bukittinggi. Makanya orang-orang memanggilnya Uda Ivan Lanin. Hampir 15 tahun terakhir kata Uda Ivan ia bergelut dengan bahasa. Padahal sejak S-1 ia mengambil jurusan teknik kimia ITB. Barulah di program magister ia mengambil pemprograman alias komputasi. Mungkin di S-2 itulah kesenangannya dalam hal bahasa muncul.
Kini Uda Ivan mendirikan lembaga Narabahasa dan juga Wikipedia Indonesia. Sebuah lembaga yang concern di bidang menghayatan bahasa Indonesia baku sekalipun merapal bahasa daerah dan asing. Uda Ivan tentu malang melintang jika soal kebahasaan, kepenulisan hingga public speaking. Nah, dalam tulisan ini saya berbagi kisah atas apa yang disampaikan Uda Ivan beberapa waktu lalu.
Pertama, kata beliau orang bicara maupun menulis selalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Bahkan di era sekarang pengaruh itu ditambah dengan adanya media digital. Akibatnya muncul istilah bahasa lisan dan bahasa tulisan. Kedua istilah bahasa itu tidak sepenuhnya bisa dipahami kecuali setelah masuk adopsi dan kurasi. Bahasa sekarang yaitu serapan.
Yang membuat kita sedih tentu dengan adanya bahasa (yang dianggap kasar) atau rendah. Kita menyebutnya low language atau bahasa bawah. Yaitu bahasa yang sebenarnya sangat jauh dari pemaknaan asli bahasa baku Indonesia. Uniknya tidak semua bahasa lisan bisa dituliskan jika belum ada kata serapannya. Maka adalah istilah eufonik atau kecenderungan bunyi tertentu lalu dibentuk dalam bahasa.
Kedua, ini yang menarik yaitu mengapa manusia purba bisa punah. Selain soal teori evolusi mereka juga kalah akan istilahnya Yuval Noah Harari adalah revolusi kognitif. Manusia purba hanya kagum dan mewarisi api. Sedangkan kita saat ini mewarisi bahasa yang kian hari terus berkembang. Akhirnya dari bahasa yang saling dipahami itu kita dapat mengerti satu sama lain. Itulah salah satu hal mengapa kita bertahan dan hidup.
Ketiga, jika bicara public speaking maka sederhana saja yaitu sampaikan dengan cara bercerita. Rerata orang akan suka diberi cerita apalagi tentang kesuksesan orang lain. Mengapa dengan cerita? Sederhannya karena manusia itu homo narans alias mahluk yang bercerita. Sehingga dengan cerita umumnya orang akan cenderung menyimak. Kecuali cerita yang diputar berulang-ulang hingga bosan.
Keempat, bagaimana dengan gaya bahasa indah. Kita sering membaca bahwa sastra gaya bahasanya tinggi. Belum lagi bahasa hukum, filsafat dan politik. Tapi kata Uda Ivan yang menyatukan sastra dan hukum hanya kitab suci. Bahasa kitab suci adalah yang dalam penerjemahannya dapat masuk ke mana saja. Asalkan kita memahami makna dari setiap kata yang terkandung di dalamnya. Karena terkadang dalam bahasa Arab misalnya setiap satu huruf saja bahkan bisa seribu wajah. Oleh karena itu di sinilah menariknya kita menguasai bahasa. Orang yang tidak menguasai bahasa suatu kaum maka ia akan tenggelam oleh jaman kaum tersebut. []
The Woks Institute | Rumah Peradaban 19/4/26
Komentar
Posting Komentar