Langsung ke konten utama

Belajar Kerusakan dari Semut

Woko Utoro 

Di kontrakan tempat kami tinggal segala jenis semut hadir silih berganti. Dari mulai semut gula, semut hitam dan semut api. Mereka berjalan-jalan di antara beras, kertas lembab, hingga kardus dan buku. Ketika saya mencoba membersihkan ternyata mereka tak kunjung pergi. Justru para semut itu malah semakin banyak.

Saya tidak tahu harus berbuat apa. Padahal segala tips n trik mengusir semut sudah kami upayakan. Misalnya mulai dari menaruh garam, kapur ajaib, hingga minyak gosok. Hingga akhirnya kami pun menyerah dan kini hanya berdamai dengan mereka. Poin pentingnya kita hanya perlu menjaga kebersihan. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang gula atau membiarkan makanan terbuka.

Pada akhirnya saya pun belajar dari semut-semut itu. Pertama, seperti terdapat dalam Al Qur'an pada kisah Nabi Sulaiman. Semut akan berjalan dalam jalurnya. Mereka jarang berjalan tidak beraturan kecuali ada bahan makanan baru. Sejauh ini semut selalu disiplin dab mereka akan mengikuti ketua koloninya.

Kedua, bahaya laten dari semut yaitu akar kerusakan yang diam-diam menggerogoti bangunan. Walaupun kecil keberadaan mereka lambat laun bersarang dan mengeluarkan pasir. Lebih lanjut keadaan tersebut akan dimanfaatkan oleh rayap untuk memakan kayu dan kertas.

Ketiga, jika dikaitkan dengan emosi semut itu ibarat diri kita sendiri. Kita seperti bangunan dan semut itu emosi diri. Kadang yang membuat kita terjatuh bukan faktor besar dari luar. Justru karena faktor kecil dalam diri seperti tidak mampu mengontrol emosi. Nah, ibarat kata emosi itu adalah semut yang makin lama membuat sarang dan membesar.

Dalam konteks yang terakhir ini tentu kita tidak boleh segera pasrah. Kita hanya perlu berdamai sambil terus belajar. Bagaimana emosi mengendalikan dan dikendalikan. Adanya emosi bukan untuk dibunuh tapi dimanajemen bagaimana menjadi spirit untuk produktif. Intinya kita tidak bisa membunuh semut dalam diri secara keseluruhan. Kita hanya perlu fokus pada bagaimana kebersihan tetap terjaga. Karena barangkali bukan tentang banyaknya semut tapi pada kehidupan kita yang jangan-jangan kotor dan kumuh.[]

the woks institute l rumah peradaban 28/4/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...