Langsung ke konten utama

Amal Shaleh


Woko Utoro 

Saya senang ketika Mbah Nun bilang bahwa amal shaleh itu kerja keras. Dari Mbah Nun lah saya belajar bahwa amal shaleh tidak selalu berkaitan dengan ritual keagamaan. Bahkan bekerja itu juga bagian dari agama. Hanya saja di dunia materi yang serba kompetitif kita sering terjebak oleh kalangan motivator.

Bukan saya benci motivator tapi seringkali saya skip ketika ada kata-kata mutiara dari mulut mereka. Terutama banyak konten berkaitan kesuksesan usaha maka saya jarang menonton. Alasannya sederhana terkadang para motivator tersebut tidak relate dengan fakta di lapangan. Mereka dengan mudah memperlihatkan hasil tanpa tahu di balik layar. Bahwa keberhasilan selalu tidak gratis. Bahwa kesuksesan selalu dibayar oleh perjuangan nan gigih. Inilah sebabnya saya setuju dengan Mbah Nun bahwa kerja keraslah dan itu adalah jendela kesuksesan.

Mbah Nun sering dawuh bahwa tidak peduli apa pekerjaan kita. Selama itu baik, halal dan bermanfaat maka perjuangkanlah. Bagi Mbah Nun, Tuhan tidak menyuruh kita untuk sukses. Melainkan menyuruh kita untuk berjuang tiada henti. Karena bagaimanapun juga proses lebih penting daripada hasil. Toh soal panen atau tidak lebih utama adalah proses kita menanam, merawat dan menjaga. Inilah prinsip hidup yang diambil dari kenyataan sedangkan konten motivasi terkadang justru semu.

Teruslah bekerja. Mungkin lelah tapi kita bisa beristirahat sejenak. Dengan bekerja kita disebut telah bersyukur atas nikmat Tuhan. Karena ada dosa yang tidak dapat dihapus oleh ritual ibadah utama seperti shalat, zakat, puasa melainkan dengan bekerja keras. Teruslah beramal shaleh. Mungkin terasa berat tapi yakinlah kita bisa. Karena ribuan tahun silam kekasih umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan bahwa di balik kesulitan selalu ada jalan. Bahwa problem apapun tak mungkin sang maha kasih meninggalkan kita. Pasti Dia yang maha adil memberikan pertolongan lewat jalan yang tak terduga.[]

the woks institute l rumah peradaban 24/01/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...