Saya senang ketika Mbah Nun bilang bahwa amal shaleh itu kerja keras. Dari Mbah Nun lah saya belajar bahwa amal shaleh tidak selalu berkaitan dengan ritual keagamaan. Bahkan bekerja itu juga bagian dari agama. Hanya saja di dunia materi yang serba kompetitif kita sering terjebak oleh kalangan motivator.
Bukan saya benci motivator tapi seringkali saya skip ketika ada kata-kata mutiara dari mulut mereka. Terutama banyak konten berkaitan kesuksesan usaha maka saya jarang menonton. Alasannya sederhana terkadang para motivator tersebut tidak relate dengan fakta di lapangan. Mereka dengan mudah memperlihatkan hasil tanpa tahu di balik layar. Bahwa keberhasilan selalu tidak gratis. Bahwa kesuksesan selalu dibayar oleh perjuangan nan gigih. Inilah sebabnya saya setuju dengan Mbah Nun bahwa kerja keraslah dan itu adalah jendela kesuksesan.
Mbah Nun sering dawuh bahwa tidak peduli apa pekerjaan kita. Selama itu baik, halal dan bermanfaat maka perjuangkanlah. Bagi Mbah Nun, Tuhan tidak menyuruh kita untuk sukses. Melainkan menyuruh kita untuk berjuang tiada henti. Karena bagaimanapun juga proses lebih penting daripada hasil. Toh soal panen atau tidak lebih utama adalah proses kita menanam, merawat dan menjaga. Inilah prinsip hidup yang diambil dari kenyataan sedangkan konten motivasi terkadang justru semu.
Teruslah bekerja. Mungkin lelah tapi kita bisa beristirahat sejenak. Dengan bekerja kita disebut telah bersyukur atas nikmat Tuhan. Karena ada dosa yang tidak dapat dihapus oleh ritual ibadah utama seperti shalat, zakat, puasa melainkan dengan bekerja keras. Teruslah beramal shaleh. Mungkin terasa berat tapi yakinlah kita bisa. Karena ribuan tahun silam kekasih umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan bahwa di balik kesulitan selalu ada jalan. Bahwa problem apapun tak mungkin sang maha kasih meninggalkan kita. Pasti Dia yang maha adil memberikan pertolongan lewat jalan yang tak terduga.[]
the woks institute l rumah peradaban 24/01/26
Komentar
Posting Komentar