Langsung ke konten utama

Joss

Mental Juara sebagai Modal Melangkah
(oleh: Woko Utoro)

 Manusia adalah mahluk yang unik, yang di ciptakan oleh Allah, Tuhan semesta alam di muka bumi. Dari keunikan manusia itu ilmu pengetahuanpun berkembang dan banyak yang menganalisis mengenai manusia dan kebudayaanya. Ada ilmu sosiologi, ilmu antropologi, psikologi dan masih banyak ilmu lainya. Nah, dalam menganalisis judul yang saya bawakan di atas yang paling tepat dengan pisau analisis ilmu psikologi. 
Dalam ilmu psikologi kita kenal istilah emosi, dimana emosi yang di miliki manusia itu beragam, sehingga dari nilai emosi itulah manusia menjadi mahluk yang unik. Perlu di ketahui bahwa para pembaca sering terkecoh dengan istilah emosi, mereka berfikir bahwa istilah emosi adalah hal-hal yang berupa luapan kemarahan, padahal emosi itu beragam macamnya. Sifat marah pada manusia itu hanya salah satunya. 
 Dalam buku Pengantar Psikologi Umum karya Sarlito W. Sarwono, secara etimologi emosi berasal dari kata prancis emoticon, yang berasal lagi dari emouvoir, excite, yang berdasarkan kata Latin emovere, yang terdiri dari kata-kata e-(variant atau ex-), artinya keluar dan movere, artinya bergerak (istilah motivasi juga berasal dari kata movere). Dengan demikian, secara etimologi emosi berarti bergerak keluar. Emosi itu sendiri menurut Sarlito adalah sebuah reaksi penilaian (positif atau negatif). Perlu di ingat pula bahwa emosi itu diawali oleh adanya rangsangan baik dari luar (benda, manusia, situasi, cuaca), maupun dari dalam diri kita (tekanan darah, kadar gula, lapar, ngantuk, segar dll). Lalu mari kita hubungkan emosi manusia untuk mencapai mental juara.
 Mari kita bereksperimen kecil-kecilan. Eksperimennya adalah coba kita tuliskan emosi-emosi yang muncul dalam keseharian kita dalam satu minggu. Jika dalam satu minggu itu yang keluar emosi seperti; keberanian, keinginan, menerima, love, enjoy, peace, pencerahan, optimisme, percaya, niat positif, iluminasi, atau emosi lain yang bersifat positif maka itulah mental juara. Namun, menurut Tom Mc Ifle dalam buku 7 Keajaiban Rezeki karya Ippho Santoso hanya 10% saja yang memiliki emosi itu. Orang dengan mental juara akan selalu bersyukur dalam kondisi apapun, bahkan dalam kondisi terkena musibah sekalipun, menurutnya dunia ini tidak ada sesuatu yang kebetulan pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Begitulah orang-orang dengan mental juara yang memandang kehidupan dengan penuh pengharapan, kehidupan yang harmonis itu sangat penting dan memiliki arti. Lalu ketika dalam satu minggu catatan emosi kita yang keluar adalah, sombong, marah, hasrat membara, takut, sedih, bosan, melas, merasa bersalah, menyalahkan, memalukan, menyesal, panik, benci, ceroboh, candu dan yang lainya yang bersifat negatif, maka itulah mental kalah. Kenapa kita kalah?, karena kita sering diperbudak oleh benda seharusnya kita yang memperbudak benda, perasaan antagonis, itulah mental kalah. Orang kalah ketika memandang kehidupan terkadang tidak merasa puas dengan apa yang ia miliki saat ini, mereka harus, harus dan harus, harus begini, harus begitu, harus dapat ini, harus dapat itu, sikap seperti ini yang bisa menjadikan sombong, antagonis, menang atau kalah, dibunuh atau membunuh, kekecewaan hidup ini tragedi, tragis, penderitaan. Terkadang orang seperti ini memandang tuhan sebagai sesuatu yang tidak adil, padahal realitasnya Tuhan sangat adil. Nah, itulah mental orang-orang kalah. Tuhan telah memberikan takdir yang positisf namun, nasib harus di rubah sendiri. Setelah kita ketahui fungsi dari emosi kita, maka kita masuk kemanakah dalam eksperimen sederhana di atas?, semoga saja kita termasuk orang dengan mental juara. Untuk dapat memprogram emosi menjadi mental juara bisa dengan mencari informasi, belajar terus menerus, mengikuti seminar, pilih mentor atau guru yang bisa membantu kita mengeluarkan potensi dan mengembangkan khualitas diri agar benih juara dapat di pupuk dan akhirnya termanivestasi untuk kehidupan di masa depan.
 #salam budaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...