Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Pancasila Tidak Sakti

Woko Utoro 1 Oktober diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila. Hari itu diperingati sebagai kesuksesan atas penumpasan terhadap pelaku pemberontakan 30 September 1965. Hingga hari ini mengheningkan cipta, doa dan harapan masih terus dipanjatkan. Entah seberapa empatinya kita faktanya momen itu hanya meninggalkan berkas sejarah. Jika bertanya hari ini apakah Pancasila masih sakti? tentu kita bisa menjawabnya. Kesaksian seperti apa ketika menyaksikan banyak hal ironi di negeri sendiri. Jika Pancasila sakti hanya dimaknai sebagai kemenangan atas penumpasan G30S maka hal itu tidak lebih dari sejarah. Hari ini kesaktian Pancasila kembali diuji terutama soal nurani bangsa. Lebih khusus lagi untuk mereka yang berada di puncak kekuasaan. Kasus terbaru misalnya soal kamar ekslusif napi koruptor di Lapas Cibinong. Jika kita membaca berita tersebut rasanya aneh. Memang sejak dulu negara bermain dengan kotor. Skenario, intrik dan dramanya sangat menjijikan. Bisa dibayangkan mereka ...

Masjid Kita Masih Belum Berdaya

Woko Utoro  Alhamdulillah saya berkesempatan berbincang dengan salah satu penyuluh agama Kemenag Kabupaten Tulungagung yaitu Bapak Samsul Arifin, S.Sos.I. Kali ini perbincangan kita bertemakan masjid. Terutama bagaimana anak muda mencintai masjid. Sebagaimana kita tahu masjid lebih lagi mushala masih didominasi kalangan tua. Fenomena masjid dan orang tua mungkin bukan satu dua kasus melainkan hampir menyeluruh. Faktornya tentu banyak salah satunya masih hidupnya mindset kolot dari pengurus takmir masjid. Akibatnya anak-anak muda menjadi enggan untuk datang ke masjid. Berbeda dengan era lampau misalnya tahun 90an, masjid mushola selalu ramai dipenuhi anak-anak remaja. Terutama di bulan Ramadhan masjid dan anak muda menjadi tempat tak terpisahkan. Mungkin salah satu faktor mengapa anak muda malas ke masjid salah satunya karena keberadaan gadget. Bagi mereka gadget lebih menggiurkan daripada beribadah ke masjid. Tapi apakah benar faktor gadget yang menjadi problem utama? f...

Murah Hati di Jalan Raya

Woko Utoro Jika kita amati ketika berkendara di jalan raya orang-orang mendadak berwatak beringas. Orang yang biasanya tenang menjelma pembalap dadakan. Maklum saja setiap hari orang-orang diburu waktu. Hidup di jalan raya tak pernah tenang dan selalu terburu-buru. Walaupun begitu ada momen kebaikan yang bisa kita petik saat di jalan raya. Saya bolak-balik melewati jalan Pantura Paiton-Kraksaan. Setiap pagi dan siang. Hampir di waktu itu saya menyaksikan orang memberi sejumlah uang kecil di perempatan, di penyebrangan dll. Tapi uniknya rerata yang memberi adalah kendaraan mobil besar. Jika diurutkan kebaikan diawali dari truk besar, trus biasa, mobil pribadi dan kendaraan roda dua. Terkhusus di stand amal misalnya pembangunan masjid mobil pick up dan motor lebih murah hati. Sedangkan di persimpangan jalan dan bangjo, mobil truk lebih ringan tangan. Dari pengamatan sederhana itu saya jadi ingat bahwa berdasarkan World Giving Index (WGI) 2024 yang dirilis oleh Charities Aid F...

Teladan Keselamatan

Woko Utoro Saya mau bicara tentang jalan Pantura. Saya tidak bicara jalan dalam di pedesaan. Apalagi jalan setapak yang menuju hutan. Ini bicara bukan tentang jalan tapi berkaitan keselamatan. Saya tiap hari ketika berangkat atau pulang kerja selalu mendapati guru-guru naik motor tanpa helm. Entah apa faktornya lebih lagi mereka menaiki sepeda listrik. Saya kadang lucu melihat ironi ini. Apa yang membuat para guru tidak pakai helm. Apakah karena terbiasa atau jarak dekat. Jika terbiasa mengapa kebiasaan buruk itu dilakukan. Padahal guru bertugas menjadi teladan bagi muridnya. Ini bukan soal helm tapi keselamatan. Harusnya teladan Keselamatan dimulai dari guru. Bukankah polisi selalu sosialisasi ke sekolah tentang pentingnya taat lalu lintas. Apakah guru tidak mengetahui hal tersebut? Saya sering berpikir mengapa guru-guru tersebut tidak pakai helm padahal mereka melewati jalan besar. Jalan Pantura seperti kita tahu dilalui kendaraan besar tiap hari. Tanpa helm tentu membaha...

Menulis itu Menyiksa

Woko Utoro Kata orang kok masih ada mereka yang mau menulis. Padahal menulis itu pekerjaan penuh siksaan. Bayangkan saja bagaimana kata dipilih, kalimat dirangkai dan pernak-pernik diaduk rata. Semua menjadi satu, terbungkus dalam tema ide dan gagasan. Belum lagi kita diburu detline, waktu, hingga target. Semua benar-benar membenamkan pikiran. Lebih sedih lagi ketika tidak ada apresiasi, hingga fee. Tapi apakah benar persangkaan orang tentang menulis. Bagi saya hal tersebut bisa saja benar tapi lebih banyak salahnya. Orang yang suka menulis memposisikan aktivitas itu sebagai sahabat. Ibarat kopi di pagi hari kita diburu waktu, tugas serta kesibukan. Tapi terasa wajib untuk diseduh walaupun kadang terasa pahit. Hingga akhirnya kita merasa semua adalah rangkaian proses. Berat dan tidaknya tergantung dengan kesiapan mental. Maka bagi penulis tidak ada kata menyiksa. Semua berjalan apa adanya bahkan cenderung mengganjal ketika tidak melakukannya. Dalam menulis kita juga membaca...

Ritual

Woko Utoro Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata ritual. Pasti langsung tertuju pada perdukunan. Padahal ritual itu step, tata cara, kebiasaan atau rutinitas. Misalnya ketika orang memulai shalat pasti harus berwudhu, masuk masjid, rapihkan barisan dan shalat. Setelahnya lalu berdzikir, berdoa hingga shalat sunnah. Semua rangkaian itu merupakan ritual. Tentu ketika kita menyebut hal sunnah dan wajib maka ritual setiap orang berbeda. Karena perbedaan itulah akhirnya kita harus saling menghormati. Ritual itu tanda setiap sesuatu ada sesi atau fase yang memantapkan prosesi utama. Dalam arti ritual itu penunjang menuju yang pokok. Walaupun tidak selalu dimaknai demikian. Yang jelas adanya ritual membuat aktivitas kita makin mantap. Misalnya sebelum mahalul qiyam ada ritual salam tawasul, melantunkan qasidah, membaca maulid, diakhiri doa dan mahalul qiyam. Bayangkan tanpa adanya ritus itu mana mungkin membaca maulid diawali dengan mahalul qiyam. Bagaimanapun juga maha...

Ritual Sebelum Menulis

Woko Utoro Banyak orang bertanya apa ritual yang saya lakukan sebelum menulis. Saya jawab tentu tidak ada ritual khusus. Bagi saya menulis ya menulis saja. Saya tidak seperti orang lain yang menulis harus menunggu ide, harus ada rokok kopi, harus mandi dulu, harus di depan laptop, atau harus di alam bebas. Saya bukan tipe penulis manja. Saya menulis apapun, kapan pun dan di manapun. Bahkan ketika tidak membawa smartphone saya bisa menulis. Saya menulis seperti orang-orang biasa. Menulis dengan cara tradisional alias apapun bisa dilakukan. Soal ide saya mudah mendapatkan. Misalnya setelah membaca buku, ngopi, jalan di depan halaman, dari pasar hingga nongkrong di wc. Soal menulis jika tidak ada smartphone maka saya menggunakan buku catatan. Jika tidak membawa apapun saya menyimpan ide di otak. Setelah di rumah langsung ide itu saya tulis. Jika tidak sempat maka bisa dikembangkan esok hari. Sebenarnya menulis itu sederhana seperti buku dan membaca yang menjadikannya kalimat. ...

Mencari Format Menangis

Woko Utoro  Menangis itu fitrah. Siapa saja boleh. Tanpa memandang gender. Tanpa harus menunggu kisah haru atau kegetiran. Menangis adalah bagian dari ekspresi jiwa. Kedalamannya begitu jujur dan tak bisa dibohongi. Barangkali setiap tangis adalah ruang paling luas ketika usai meluapnya. Tangis adalah lorong paling jauh ketika usai tumpah air mata. Pertanyaannya kapan atau di mana kita menangis. Apakah tangis membutuhkan ruang dan waktu. Nampaknya hanya ada 3 tempat yang sesuai untuk kita menangis. Bagi perempuan tentu tangisan tak pernah kenal ruang waktu. Perempuan bisa menangis kapanpun sesuai perasaan mereka. Tapi bagi laki-laki menangis di hadapan ibu adalah keteguhan. Ibu barangkali tidak tahu tangisan kita saat dewasa. Tapi bagi ibu tangisan itu sama saja seperti kanak-kanak. Dan memang bagi ibu sampai kapanpun kita adalah anaknya. Selanjutnya menangis di pangkuan istri atau saat kita memeluknya erat. Itu adalah bentuk pengakuan batin bahwa sekuat apapun melangka...

Ketabahan Rasulullah SAW

Woko Utoro KH Said Aqil Siradj menangis ketika mengisahkan ketabahan Rasulullah SAW. Betapa tidak, beliau memang faham tarikh Rasulullah SAW sampai ke sisi paling dalam. Makanya kata para ulama semakin memahami jejak keilmuan tentang Rasulullah SAW niscaya mereka mudah menghayati kehidupan. Rasulullah SAW sebaik-baik uswah hasanah bagi kita umatnya. Misalnya suatu hari ketika Rasulullah SAW pulang dari Thaif beliau terlihat sangat lelah. Seperti kita tahu di Thaif Rasulullah SAW mendapat perlakuan tidak baik, dicemooh, diludahi hingga dilempari batu. Dalam riwayat beberapa anggota tubuh beliau sampai berdarah. Peristiwa itulah yang membuat Malaikat Jibril geram. Padahal jika mau Rasulullah SAW tinggal berkata, "ya" maka penduduk Thaif bakal serupa kaum Nuh yang ditenggelamkan air bah, kaum Nabi Hud yang diguncang gempa. Atau beberapa kaum Musa yang disambar petir. Tapi Rasulullah SAW berkata, "Saya bukan Nuh, Hud atau Musa. Saya adalah Muhammad". Jikapun...

Esensi Maulid Nabi

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya menghadiri undangan maulid nabi di tetangga sebelah. Seperti biasa setelah mahalul qiyam catatan di hp langsung bekerja untuk menulis intisari dari penceramah. Kebetulan penceramahnya Ustadz Hasan Basri. Walaupun memakai bahasa Madura sedikit-sedikit saya paham. Beliau membuka dengan candaan bahwa maulid itu ada 2 yaitu pribadi dan demokrasi. Jika pribadi tentu dilaksanakan dengan modal pribadi. Sedangkan demokrasi biasanya iuran dan sering dilaksanakan di masjid. Berkatnya dibawa dari rumah dan di makan bersama. Selanjutnya kata beliau Imam Sirri Syaqoti, berkata bahwa siapa orang yang hadir dalam maulid maka pada hakikatnya orang itu hadir dalam kebun surga. Jadi kata beliau kebun surga itu bisa disematkan pada majelis dzikir dan majelis maulid nabi. Kebun surga di dunia yang pastinya berharap bertemu lagi di surga. Kebun surga itu bukan berkatnya mewah atau jamuanya melimpah. Tapi kebun surga itu adalah terdapat rasa mahabbah, hadir dan...

BerNUliterasi

Woko Utoro Beberapa waktu kita sempat iri dengan Muhammadiyah (MU) terutama soal geliat literasi. Apalagi terakhir ketika saya baca di event guru menulis Jawa Pos rerata pesertanya dari MU. Entah di mana guru NU berjejak dalam aktivitas literasi. Apakah guru NU tidak bisa menulis atau memang tidak minat. Tentu saya bisa menjawab akan hal ini. Sehingga sejak dulu jika saya khidmah di NU saya akan membela organisasi ulama ini lewat pena. Ada orang bilang bahwa jejak literasi NU sangat berserakan terutama di jagat turats. Di bidang literasi pun NU mendominasi hanya saja banyak dari mereka memilih bersembunyi. Dari pendapat itu dalam pengalaman saya terjun ke lapangan literasi di NU masih minim terutama di kalangan guru yang berafiliasi dengan LP Ma'arif. Baik itu tradisi menulis kitab putih maupun kitab kuning guru-guru NU masih belum menyentuh ke sana. Walaupun mungkin jika buka data para guru di NU mulai bergeliat. Saya pun sadar bahwa membangkitkan tradisi berliterasi d...