Woko Utoro
Beberapa hari lalu saya menghadiri undangan maulid nabi di tetangga sebelah. Seperti biasa setelah mahalul qiyam catatan di hp langsung bekerja untuk menulis intisari dari penceramah. Kebetulan penceramahnya Ustadz Hasan Basri. Walaupun memakai bahasa Madura sedikit-sedikit saya paham. Beliau membuka dengan candaan bahwa maulid itu ada 2 yaitu pribadi dan demokrasi. Jika pribadi tentu dilaksanakan dengan modal pribadi. Sedangkan demokrasi biasanya iuran dan sering dilaksanakan di masjid. Berkatnya dibawa dari rumah dan di makan bersama.
Selanjutnya kata beliau Imam Sirri Syaqoti, berkata bahwa siapa orang yang hadir dalam maulid maka pada hakikatnya orang itu hadir dalam kebun surga. Jadi kata beliau kebun surga itu bisa disematkan pada majelis dzikir dan majelis maulid nabi. Kebun surga di dunia yang pastinya berharap bertemu lagi di surga.
Kebun surga itu bukan berkatnya mewah atau jamuanya melimpah. Tapi kebun surga itu adalah terdapat rasa mahabbah, hadir dan selalu membawa ilmu yang diambil dari Sirah Nabawiyah. Sehingga maulid nabi itu secara hakiki adalah menjelaskan kisah nabi, akhlaknya dan ilmunya. Bukan seperti perayaan maulid nabi di era sekarang yang lebih menjadi tontonan daripada tuntunan. Maulid hanya sebatas seremonial karena harus ada panggung, sound, lighting, videotron, sorot lampu dll. Padahal terpenting adalah peringatan maulid yang lebih menekankan esensi seperti halnya mengisahkan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Misalnya beliau berkisah betapa nabi itu agung dalam menjaga perasaan sesama. Beliau tidak pernah mengatakan yang membuat sahabatnya tersinggung walaupun dalam keadaan bercanda. Itulah akhlak nabi yang luar biasa. Dalam keterangan disebut jika menyakiti satu orang mukmin sama dengan merubuhkan 70 x Ka'bah. Pertanyaannya mengapa bisa demikian? karena Ka'bah rusak bisa dibangun kembali tapi perasaan orang tak mungkin bisa direnovasi jika sudah terlanjur tersakiti.
Makanya nabi selalu mengajarkan arti penting menjaga lisan, hubungan dan kebersamaan. Apalagi sesama muslim semua harus bergandengan tangan demi keindahan Islam. Islam dilihat bukan dari isi kitab suci tapi dari akhlak pemeluknya sehari-hari.[]
the woks institute l rumah peradaban 6/9/26
Komentar
Posting Komentar