Langsung ke konten utama

BerNUliterasi

Woko Utoro

Beberapa waktu kita sempat iri dengan Muhammadiyah (MU) terutama soal geliat literasi. Apalagi terakhir ketika saya baca di event guru menulis Jawa Pos rerata pesertanya dari MU. Entah di mana guru NU berjejak dalam aktivitas literasi. Apakah guru NU tidak bisa menulis atau memang tidak minat. Tentu saya bisa menjawab akan hal ini. Sehingga sejak dulu jika saya khidmah di NU saya akan membela organisasi ulama ini lewat pena.

Ada orang bilang bahwa jejak literasi NU sangat berserakan terutama di jagat turats. Di bidang literasi pun NU mendominasi hanya saja banyak dari mereka memilih bersembunyi. Dari pendapat itu dalam pengalaman saya terjun ke lapangan literasi di NU masih minim terutama di kalangan guru yang berafiliasi dengan LP Ma'arif. Baik itu tradisi menulis kitab putih maupun kitab kuning guru-guru NU masih belum menyentuh ke sana. Walaupun mungkin jika buka data para guru di NU mulai bergeliat. Saya pun sadar bahwa membangkitkan tradisi berliterasi di tubuh NU perlu nafas panjang.

Sesempit yang saya tahu hari ini geliat literasi NU masih diwakili teman-teman dari tapal kuda. Di daerah tapal kuda berkesadaran menulis dan membaca tergolong tinggi. Saya beberapa menemukan banyak dari mereka mewarnai jagat maya untuk menuliskan gagasannya. Bahkan di website kepenulisan orang-orang Madura lebih banyak dijumpai. Usut punya usut ternyata ketika saya tanya teman memang tradisi literasi dasar sudah disemai sejak dini. Di kalangan guru saja sinau baca tulis sudah selesai dan berlanjut ke sesi pengembangan. Mereka diajari membuat puisi, menulis cerita dan menggubah syair. Dari itu tidak aneh jika tradisi literasi di tapal kuda bergerak lebih cepat.

Di sinilah saya selalu bergerak terhadap diri sendiri bagaimana mencapai seperti yang Gus Dur, Mahbub Djunaidi, KH Saifuddin Zuhri, Kiai A Faizi, Kiai Dzawawi, Kiai Husein Muhammad, Kiai Abdul Mun'im DZ, Kiai Aguk, Gus Rizal Mumazziq dll. Dari merekalah saya belajar bahwa menulis bukan hanya penting tapi wajib. Terutama di bidang literasi di tengah arus informasi perkotaan yang deras. Maka dari itu saya tidak pernah bosan mengajak kepada semua untuk turut membumikan literasi terutama di kalangan Nahdliyyin. Karena NU adalah kitab besar yang tak habis dibaca dan tak pernah selesai ditulis.[]

the woks institute l rumah peradaban 5/9/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Ngaji Ngopi: Edisi Konsep Dakwah di Era Milenial

               (Ngaji Ngopi: doc penulis) Woks Ngaji Ngopi kali ini begitu istimewa sebab acara tersebut kedatangan narasumber yang keren bahkan hingga dipenuhi sesak jamaah. Narasumber tersebut tak lain merupakan founder dari masing-masing orang yang telah memiliki jamaahnya tersendiri dan sesuai bidang kajian yang diampunya. Mereka yaitu Pak Nurwakhidun founder Ngaji Gayeng, Gus Abdillah Subhikin founder Kampung Sufi dan Gus Muhammad Balyahu founder A.T.I (Anak Thariqoh Indonesia). Ngaji Ngopi edisi kali ini tentu membicarakan konsep dakwah dari masing-masing founder tersebut guna mengajak kepada semua orang terutama generasi milenial agar terus membumikan hal-hal baik di kehidupan. Tentu dari masing-masing halaqoh yang mereka nahkodai memiliki ciri khasnya tersendiri sehingga bisa menjadi pilihan anak muda untuk menggali ilmu. Maka dengan adanya mereka dan kelompok binaanya setidaknya menjadi alasan kuat untuk kita terus menc...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...