Langsung ke konten utama

Sumpah Pemuda dan Semangat Maulid Nabi SAW


Woks

Bulan Oktober tahun ini benar-benar sibuk dalam arus aktivitas peringatan hari-hari besar kita. Hari-hari tersebut dimulai dengan tanggal 1 diperingati sebagai kesaktian Pancasila, tanggal 5 lahirnya TNI, 10 kesehatan mental dunia, tanggal 22 hari santri dan hari ini 28 merupakan sumpah pemuda ditambah lagi bulan maulid menanti kita dalam penanggalan Hijriyah. Lengkaplah sudah momentum tersebut sebagai sarana kita belajar. Sebab dalam rangkaian momentum itu banyak sejarah dan inspirasi yang dapat kita petik hikmahnya.

Kita mulai dengan sumpah pemuda sebagai tonggak sejarah di mana bangsa kita bisa merebut kemerdekaan. Tidak bisa dibayangkan jika tonggak sejarah ini tidak terjadi mungkin kemerdekaan bangsa kita tak terlahir. Tidak hanya itu melalui sumpah pemudalah kita sampai hari ini dipersatukan melalui bahasa Indonesia. Jika tidak ada bahasa Nasional itu bisa dibayangkan kita akan terus berseteru secara rasial untuk merebutkan siapa bahasanya yang cocok untuk bangsa ini. Tapi inilah sejarah terbukti bahwa Tuhan punya caranya sendiri untuk mempersatukan bangsa-bangsa.

Bicara pemuda memang tak akan ada habisnya. Pemuda adalah fase di mana transisi antara remaja dan dewasa. Fase itu benar sedang berapi-api juga diibaratkan sebagai sungai dengan arus airnya yang deras. Tidak bisa dibendung dan di arahkan. Mereka punya semangat tinggi yang tentunya perlu disatukan sebab harga termahal dari pemuda kata Soe Hoek Gie adalah idealismenya. Selain itu ciri khas pemuda adalah keberanian. Maka dari itu agar tidak disebut tidak punya keberanian dan seperti binatang ternak kata Pram kita harus belajar sejak dini.

Saat ini kita belajar di bulan Oktober dengan serangkaian momentum ganda seperti sumpah pemuda dan maulid Nabi. Bagaimana momentum keduanya saling mengilhami di mana semangat dan jiwa muda merupakan senjatanya. Tanpa semangat muda rasanya medan juang terasa sepi. Dengan semangat kita telah banyak merekam sejarah apalagi jika membuka kembali Sirah Nabawiyah tentang Nabi Muhammad saw yang penuh uswah itu.

Semangat maulid Nabi itulah yang banyak mengilhami banyak sejarah di antaranya penaklukan Yerusalem oleh Shalahuddin al Ayyubi, penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad al Fatih dan lainya. Mereka semua adalah orang yang jiwanya selalu muda. Al Fatih konon berusia 21 tahun saat menaklukkan Konstantinopel pada 20 Jumadil Awal 857 H bertepatan dengan 29 Mei 1453 M. Serta banyak lagi orang dengan jiwa muda yang bisa kita teladani termasuk perjuangan dalam belajar. Ambil contoh para imam madzhab empat seperti Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi'i dan Imam Hambali yang semangat belajarnya gigih bahkan diusia anak-anak mereka sudah hafal Al-Qur'an. Mumpung di usia muda kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum diri ini kecewa di makan usia.

Semangat maulid Nabi memang benar-benar rahmat bagi semesta alam. Semua orang gembira dan bahkan membawa arah gerak juang. Termasuk sumpah pemuda di mana para pemuda kita berkumpul untuk bersatu memiliki komitmen bersama demi kesatuan, persatuan, dan kemerdekaan. Walaupun saya sendiri belum tahu sumpah pemuda dalam sejarah bangsa kita terilhami dari peristiwa apa? Yang jelas persatuan karena kesetiaan itu pernah terjadi di zaman Nabi yaitu dalam peristiwa Baiat Aqobah dan Baiatur Ridwan.

Dari pemaparan sederhana itu kita membuka kembali sejarah bahwa maulid Nabi telah membawa inspirasi besar bagi kita. Termasuk tidak ada istilah terlambat dalam belajar. Kita tahu bahwa usia 40 tahun Kanjeng Nabi Muhammad saw baru menerima wahyu dari Allah swt. Hal itu pertanda bahwa belajar tidak ada batas waktunya. Selama jiwa muda masih membara pembelajaran adalah sepanjang hayat (long life education). Selamat memperingati sumpah pemuda, teruslah menjadi muda dan jangan mau mati sia-sia.
#Sholualannabi Muhammad saw

the woks institute l 28/10/20

Komentar

  1. Mantap. Korelasi antara Sumpah Pemuda dan Maulid Nabi. Maaf sedikit koreksi, 'long life education' sepertinya lebih tepat🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...