Woko Utoro
Gelisah tidak selamanya negatif. Gelisah justru dibutuhkan dalam hidup, terutama berpikir. Kegelisahan adalah bagian dari disiplin filsafat. Sedangkan gagasan akan perasaan harus berakar pada tasawuf dan sastra. Gelisah tanda orang hidup dan tak mudah menerima kemapanan.
Ada ungkapan orang boleh hidup berpuluh tahun lamanya. Ia juga boleh menyaksikan segala macam perubahan. Asalkan satu yang tak boleh berubah yaitu, kegelisahan. Kegelisahan menjadi dasar setiap orang bergerak, berubah dan peduli. Dalam banyak karya sastra kegelisahan menjadi sumber utama. Dari kegelisahan lahir hal indah, menohok, satir, kritik, seni dll. Ahmad Tohari dan Acep Zamzam Noor gelisah mengapa kebudayaan dan rakyat kecil selalu jadi tumbal kekuasaan. Ebiet G Ade dan Iwan Fals melalui lagunya mereka gelisah bagaimana nasib alam di tengah keserakahan. Nasirun dan Gus Mus lewat kanvas selalu gelisah mengapa bisa nilai luhur agama dan spiritualitas mulai terkikis begitu cepat.
Mereka sekian contoh tokoh yang gelisah dengan kondisi sosial di masyarakat. Mungkin saja anda punya kegelisahan yang sama. Misalnya Cak Nun yang sudah gelisan sejak lama bagaimana masyarakat minder ratusan tahun dengan identitas kedirianya. Atau kegelisahan Mbah Sadiman dengan nasib hutan bukit Gendol yang kian hari gundul. Sepertinya kita memiliki keresahan yang sama. Hanya saja spektrum media yang kita sampaikan berbeda. Kita gelisah tapi sangat sulit bersuara. Kita gelisah tapi sukar membuat puisi. Kita gelisah tapi bagaimana cara membuat lagu. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan di tengah kegelisahan ini adalah berdo'a.
Hanya lewat do'a kita bisa menyampaikan kegelisahan dengan sederhana. Walaupun mungkin bermain di zona senyap. Semoga saja do'a kegelisahan itu mengalir deras. Mengajak diam-diam mereka yang gersang hatinya. Mengalirkan darah juang agar hati jadi peduli. Serta mendorong agar hidup berkesadaran untuk mengkoreksi. Jangan-jangan yang selama ini dianggap mapan justru menyimpan luka lama. Ada bopeng yang patut dicurigai bukan sebagai penghakiman. Tapi upaya kita untuk peduli bahwa sahabat yang baik adalah ketika kita tak berhenti peduli.[]
the woks institute l rumah peradaban 20/10/26
Apik-apik...
BalasHapus