Langsung ke konten utama

Menyiapkan Pesantren Berdamai dengan Covid-19

                (sumber gambar canva.com)

Woks

Beberapa waktu lalu saya mengikuti seminar yang membahas tentang masa depan pesantren di tengah pandemi. Pembahasan tersebut begitu menarik terutama dibahas oleh beberapa kalangan termasuk ulama dan kalangan medis. Perwakilan dunia medis menghadirkan Dr Kasil Rokhmad, MMRS, beliau merupakan wakil direktur RS dr Iskak Tulungagung dan dari kalangan ulama diwakili oleh KH Imam Mawardi Ridwan, beliau adalah Direktur LPI Al Azhaar Tulungagung.

Perbincangan kali ini masih seputar Covid-19 dan bagaimana penanggulanganya. Sebab semakin hari orang yang dinyatakan positif semakin banyak. Dari sanalah kekhawatiran semakin masif dirasakan semua pihak salah satunya dunia pesantren. Sebelum wacana instansi pendidikan akan masuk di era new normal pada tanggal 15 Juni mendatang dunia pesantren pun berbenah. Menurut RMI (rabithah mahadz islami) bahwa diperkirakan akan ada sekitar ribuan santri akan kembali ke pondok. Dengan jumlah yang banyak itulah kekhawatiran muncul sebab akan terjadi klaster baru.

Sebenarnya Covid-19 ini merupakan virus bersel 1 dan hanya memiliki RNA dan tidak mempunyai DNA ia juga hidup menumpang. Sehingga jika tidak ada inangnya maka sejatinya ia tidak bisa berkembang seperti halnya host dan vector ke manusia. Karena virus ini sesungguhnya merupakan penyakit influenza yang bermutasi. Sedangkan influenza setiap saat sering menjangkiti kita. Lantas dalam kondisi seperti ini herd immunity memang perlu dikuatkan kembali.

Dalam perkembanganya saat ini terlepas dari virus ini adalah konspirasi atau dari hewan atau pola hidup tidak sehat tentu semua telah digariskanNya. Kita tidak pernah tau kecuali semua pasti ada hikmahnya. Maka ada yang menganggap virus ini adalah peristiwa alam biasa dan ada juga yang ketakutan berlebihan. Maka dari itu berpikir positif adalah vaksin alami untuk kekebalan tubuh. Hal itu bertujuan untuk mengurangi laju selain harus tetap pakai masker, jaga jarak dan sering cuci tangan. Akan tetapi sampai saat ini tujuan untuk mengentikan penularan total selalu kalah dengan jumlah korban yang besar pula. Bahkan dibeberapa daerah sampai rumah sakit penuh untuk isolasi penyintas. Disinilah perlunya bekerja sama untuk cegah penularan, cegah kontak dan cegah secara maksimal.

Bagaimana memaknai berdamai dengan virus terutama di pondok pesantren yang notabene belum menerapkan sosial distancing? Maka atas dasar kesadaran mulai saat ini sebelum santri kembali sangat dianjurkan sekali untuk mengikuti saran sesuai dengan protokol kesehatan agar dapat memutus laju penularan virus ini. Sebab selama ini kita telah gagal memutus laju tersebut sehingga covid-19 ini bertahan lama bahkan bisa bermutasi untuk kedua. Selain itu sampai hari ini vaksin belum ada. Jika pun ada vaksin tersebut telah terjadi transmisi lokal dan sulit melakukan tracking termasuk untuk menentukan batas  dan tindakan isolasi. Lalu apakah tidak ada solusi untuk semua ini? tidak ada jalan lain kecuali membuat lingkungan baru. Lingkungan yang bisa mendeteksi virus serta memutus lajunya. Seperti saat awal baru satuan orang yang terinfeksi kita bisa dengan mudah memutus lajunya. Akan tetapi saat ada klaster besar menyebar luas dan kini kita sulit mengendalikannya.

Lantas bagaimana dengan ulama dan pesantren itu sendiri. Di mana kontribusinya dan apa yang akan dilakukan selama pandemi ini belum usai. Tentu uraian dari pernyataan tersebut membutuhkan jawaban tidak dari satu pihak. Semua perlu kerjasama antar pihak terutama kalangan medis dan pesantren. Sebab jika berjalan beriringan akan menemukan solusi terbaik untuk tetap waspada jangan sampai pesantren menjadi sarang stigmatisasi masyarakat karena adanya virus ini. Yang jelas pesantren mencontohkan untuk tetap menyerahkan kepada ahlinya supaya tidak kacau. Di sisi yang lain pesantren pun memberi teladan khususnya untuk penguatan dhohir dan batin melalui saran pemerintah (ulil amri) dan memperbanyak taubat. Sebab dalam masa seperti ini keimanan alias akidah bisa dengan mudah luntur. Di sinilah pentinganya sinergitas antara sisi ilmiah dan ilahiyah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...