Langsung ke konten utama

Merumahkan Pesantren


Woks

Sudah tiga bulan lebih kita rasakan betapa jenuhnya dunia tanpa hidup normal seperti biasanya. Semua hal yang dikerjakan terasa terbatas dan kerjaan seperti kehilangan maknanya. Akan tetapi bagi mereka yang haus akan keilmuan agama tidak usah khawatir sebab selama ramadhan lalu media kita bertebaran kajian keagamaan online. Bahkan saat ini ngaji pasan ala pesantren sudah bisa dinikmati di rumah sambil menunggu berbuka. Itu pun harus berbanding dengan akses internet yang memadai jika tidak memiliki akses internet yang baik, lebih baik anda dengarkan radio saja. Lebih praktis, ekonomis dan tak perlu khawatir ganti channel.

Bagi alumnus pesantren mungkin untuk sekedar bernostalgia selama nyantri bisa dicoba untuk menciptakan suasana pesantren di rumah. Kegiatan yang dilakukan bersama keluarga seperti halnya saat kehidupan di pesantren dilakukan agar menjadi sebuah habituasi bagi seluruh anggota keluarga sebut saja anak, istri atau suami. Misalnya mulai dari hal-hal yang sederhana seperti penugasan sang anak baik kakak atau adiknya untuk bergantian piket membersihkan rumah, halaman, dapur, kamar mandi atau minimal kamarnya sendiri.  Piket yang terjadwal dengan baik akan membentuk karakter anak agar terbiasa hidup bersih. Percis saat di pondok dulu para santri yang terlanjur terstigma negatif soal kebersihan selalu dijadwal untuk piket. Di sinilah pengurus selalu siap siaga ngopraki para santri petugas piket. Biasanya pengurus akan berkeliling ke setiap sudut pondok terutama yang rawan santri kabur seperti gerbang belakang dan jendela. Yang dibersihkan tentu selain kamar tidur ialah tempat wudhu, kamar mandi, tempat ngaji, langgar, halaman bahkan hingga ndalem kiai. Jika santri ketahuan tidak piket maka siap-siap saja kena hukumanya. Begitu pula di rumah jika anak tidak piket bisa diberi hukuman misal berupa pengurangan uang jajan atau tidak diajak liburan.

Selanjutnya perkara pendidikan dalam hal ini ngaji juga bisa diterapkan di rumah. Jika kebanyakan orang tua berharap pada lembaga pendidikan saat ini pandemi membawa hikmah agar orang tua lebih dekat dengan anak. Misalnya diajari kaifiyah ubudiyah dengan kitab Mabadi Fiqih zuz awal dan orang tua mempraktekanya lalu mintalah sang anak untuk mengikutinya. Jika ingin belajar al Qur'an bisa dengan kitab Syifaul Jinan atau Hidayatus Syibyan yang tentu pas sebagai syiiran bersama. Jika anak sudah beranjak remaja kitab yang dipilih tentu disesuaikan seperti jika perempuan kitabnya Risalatul Mahid, kitab Safinatun Naja, Fathul Qarib dan kitab yang tidak terlalu tebal lainya. Catatan sejak di pesantren bahwa kitab-kitab fikih tentang perempuan pun harus dipelajari oleh laki-laki tujuan agar mereka juga paham permasalahan perempuan saat mereka berumah tangga. 

Jika ingin belajar tentang tauhid bisa melalui kitab Aqidatul Awwam, Qathrul Ghais dan Sullam Taufiq. Bisa juga kajian tafsir sehari-hari melalui kitab tafsir surah al fatihah, surah yasin dan lain sebagainya. Jika dalam satu bulan bisa Istiqomah barang beberapa menit saja tentu rumah rasa pesantren akan begitu terasa. Yang tak kalah pentingnya adalah mengaji kitab akhlak seperti akhlak lil banin/banat, washoya, taishirul kholaq, ta'lim mutaalim, adabul alim wal muataalim dan masih hanyak lagi lainya.

Merumahkan pesantren atau membawa rasa pesantren di rumah merupakan salah satu cara agar anak tidak kecanduan gadget. Buat pengalihan kepada mereka untuk bersama-sama menghidupi rumah dengan mengaji. Pastinya mempraktekkan akan hal itu sangatlah sulit, namun bukan berarti mustahil semua pasti akan ada jalanya. Keilmuan pesantren di manapun akan tetap relevan dikaji lebih-lebih kepada anak supaya mereka tahu betapa pentingnya ilmu agama. Bahkan orang seperti Einstein pun berkata bahwa ilmu tanpa agama adalah buta. Maka pantaslah jika ilmu agama adalah penerang jalan-jalan yang esok akan semakin gelap gulita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...