Langsung ke konten utama

Semangat Untuk Dikenal?




Woks

Hairus Salim menuliskan kegundahanya di laman Jawa Pos tempo hari (29/1/22) bahwa tidak dikenal dan terlupakan itu menyakitkan. Bagaimana tidak orang telah membangun sejak lama agar dirinya dikenal orang tapi pada akhirnya harus rela dicampakan oleh peredaran sosialnya.

Hairus Salim mencontohkan seperti kisah Pater Parker dalam Spider Man: No Way Home atau kisah kalahnya para Pandawa dalam bermain dadu melawan Kurawa. Akibatnya para putra Pandawa itu harus dihukum buang selama 12 tahun di hutan dan setelah itu 1 tahun untuk tidak dikenal.

Barangkali dengan waktu 12 tahun pembuangan selama identitas mereka sebagai putra Pandu maka hidup akan sangat ringan sebab masyarakat akan mengenali dan menghormati. Sedangkan 1 tahun menghilangkan identitas diri akan sangat terasa berat. Bisa sangat mungkin tidak hanya orang lain bahkan orang terdekat pun akan melupakan. Lupa memang sangat dekat dengan pikiran manusia di tengah semangat bahwa dikenal dan diingat itu menjadi ikhtiar purbawi.

Apa yang menjadi kegundahan Hairus Salim tersebut tentu menjadi kegundahan kita sebagai manusia sadar. Lebih lagi di era kekinian di mana setiap orang tidak bisa menghindar dari media. Ya, media adalah alat agar hidup semakin menuai eksistensi selain sebagai komunikasi. Media sosial telah membuat hasrat untuk dikenal dan terkenal menjadi teknologis. Ditambah dengan budaya narsistik yang menjangkiti melanggengkan hasrat tersebut untuk hidup lebih abadi.

Adanya selfie, menitipkan foto tulisan di media sosial tentu upaya yang riil di era kekinian untuk terus dikenal. Sehingga kita akan menganggap bahwa cogito ergo sum adalah ketika berpikir tentang konten dan medsos. Hanya orang-orang yang mampu menghidupkan medsoslah yang ternilai keberadaannya. Lantas mereka yang tidak memiliki semangat untuk dikenal apakah salah dalam memilih jalan hidup. Memilih hidup khumul atau menjauh dari peredaran, menjauh dari hiruk-pikuk tidak sepenuhnya salah. Karena hidup tidak selamanya harus mengikuti arus. Ada beberapa orang yang sadar bahwa di tengah arus menstream harus ada pembeda. Barangkali tidak ingin dikenal adalah salah satu langkah mereka untuk berjarak dengan dunia.

Rene Descartes pernah berseloroh bahwa ia memiliki tujuan hidup untuk tidak ingin dikenal. Ironis memang orang sepopuler Descartes mustahil hidup tidak dikenali atas segala apa yang ia dapatkan. Tapi dari Descartes tersebut kita belajar ke dalam, menuju akar yang substansial bahwa ini hidup dan pilihannya. Hidup mengandung konsekuensinya tersendiri. Sehingga jangan pernah menghakimi kehidupan sekecil apapun.

Kita boleh saja tidak setuju dengan Hairus Salim atau Descartes akan tetapi demikianlah cara agar kita mengoreksi ulang apakah benar hidup harus dikenal. Atau kehidupan tanpa perkenalan adalah suatu yang ideal. Atau memang kehidupan adalah perkenalan itu sendiri dan memang hanya sekadar kenal. Entahlah, yang jelas pilihan untuk tidak dikenal adalah salah satu jalan yang dipilih oleh minoritas orang.

Umbu Landu Paranggi seorang penyair Malioboro yang dijuluki Presiden Malioboro selalu hidup misterius. Di tengah banyak orang mengenalinya sebagai guru mursyid Cak Nun ia justru menarik diri dari identitas orbit masyarakat lebih lagi di era medsos. Syeikh Abil Hasan Syadzily di tengah gemerlap kemewahan hidup justru beliau tak terpaut sedikit pun dengan harta benda itu. Beliau memilih hidup tidak dikenal dengan harta yang penuh tipuan itu. Uwais al-Qarni memilih jalan hidup tidak dikenali bumi akan tetapi mashur di langit karena rahmat Tuhan atas baktinya pada ibu. Nabi Khidir pun demikian, memilih hidup tidak dikenali masyarakatnya. Barulah ketika ia dikenali saat Nabi Musa datang berguru padanya. Masyarakat baru sadar bahwa Balyaa bin Malkan itu adalah Khidir Alaihissalam.

Jika sudah demikian apakah benar hidup harus semangat untuk dikenal?

the woks institute l rumah peradaban 13/3/22

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...