Langsung ke konten utama

Belajar Kehilangan




Woks

Kehilangan barangkali merupakan kondisi yang tidak diinginkan setiap orang. Karena kehilangan bagaimanapun juga pasti meninggalkan luka. Jangankan kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan uang saja susahnya minta ampun. Demikianlah yang seminggu terakhir ini media dibuat sesak dengan pemberitaan hilangnya putra Gubernur Jawa barat, Emmeril Khan Mumtadz alias Eril.

Putra sulung Kang Emiel dan Bunda Atalia tersebut hilang sejak diketahui terseret arus deras sungai Aare di Bern Swiss. Hingga akhirnya di hari ke-7 pencarian Bunda Atalia mengaku ikhlas dan pasrah. Sejak awal mendengar kabar tersebut Kang Emiel sebagai ayah pun mencoba tegar. Ia berdiri kokoh untuk terus menyelesaikan tugasnya selama di Inggris. Di sinilah Kang Emiel menunjukan kapasitas sekaligus kematangan berpikir sebagai seorang negarawan.

Bagi Kang Emiel anak adalah titipan yang diamanahkan Tuhan kepada kita. Lantas tak perlu risau dengan segala hal dan kemungkinan terjadi. Nampaknya pemikiran Kang Emiel ini banyak yang tidak setuju. Maklum saja warga +62 selalu nyinyir tanda literasi mereka yang rendah. Akan tetapi bagi Kang Emiel tetap tenang menanggapi segala macam komentar netizen tersebut. Kang Emiel berpandangan bahwa jika pun ia bergegas dari Inggris ke Swiss toh tak akan merubah keadaan. Intinya semua dipasrahkan kepada Tuhan.

Selepas itu terutama jagat maya masih begitu berkabung dan haru ketika melihat banyak postingan tentang surat cinta dari Bunda Atalia. Ia mengaku telah pasrah dengan suratan takdir anaknya tersebut dan memang sudah ikhlas. Bunda Atalia menulis dengan nada sendu dan penuh linangan air mata bahwa putra yang dibanggakan dan dikasihi harus rela dilepas dari sungai Aare yang cantik itu. Tapi apa mau dikata semua sudah bagian dari catatan takdirNya. Ia bahkan yakin jika putranya itu akan lebih bahagia karena telah bersua pemilikNya yang asli. Inilah statement orang yang telah kuat mental spiritualnya.

Barangkali kehilangan seperti dirasakan keluarga Ridwan Kamil tersebut bukan kali pertama. Artinya di luaran sana pun ada perasaan yang sama-sama pernah merasakan. Saya pernah punya teman di mana ia harus rela bahwa putra pertamanya harus pergi begitu cepat karena kekurangan oksigen ketika proses persalinan. Ada juga teman saya harus rela ditinggal pergi si kecil dua kali berturut-turut karena permasalahan medis. Walau begitu ada juga yang lebih nelangsa dari itu kata Buya Syafi'i Ma'arif yaitu ketika beliau harus rela kehilangan dua putranya tepat di pangkuannya. Jauh sebelum itu Habib Umar bin Hafidz seorang ulama besar Yaman juga pernah merasakan momen sendu tersebut yaitu ketika putri yang dicintainya Syarifah Zahro pulang menghadap sang pencipta ketika tenggelam saat berenang di luar kota. Momen kehilangan juga dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW ketika putranya Ibrahim wafat ketika masih kecil.

Kata Nabi Muhammad SAW umumnya orang mata akan menangis ketika mendengar kehilangan akan tetapi hati bukan berarti menolak kenyataan tersebut. Kehilangan memang sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan. Oleh karena itu ketika kehilangan melanda seseorang hanya sabar dan tawakal lah yang dapat menjadi kuncinya. Dalam Risalah Qusyairiyah Imam Abu Qasim Al Qusyairi berkata bahwa tawakal itu mendatangkan ketenangan hati. Di sinilah saya melihat ketegaran seorang ayah, Ridwal Kamil kepada putranya Eril. Bahkan saya katakan bahwa Kang Emiel sudah berada di maqam kematangan spiritual ketika tahu takdir Tuhan menimpa putra kebanggaannya itu.

Menurut Jalaluddin Rumi, tawakal atau kepasrahan itu bersifat dinamis. Artinya setiap orang bisa memilih dan berikhtiar tidak pasrah secara total tanpa mempertimbangkan logika. Jika melihat Kang Emiel tentu apa yang dilakukan sudah lebih dari cukup. Ia menunjukkan sebagai seorang ayah sejati walaupun tanpa harus menangis dengan air mata, meninjau, mencari, menunggui di tepian sungai tersebut. Tapi dunia tak berbohong jika Kang Emiel sangat begitu kehilangan. Soal tawakal ini maka pantas jika Rumi mempertegas dalam syairnya.

Tidak ada pekerjaan yang lebih baik selain percaya kepada Tuhan. Tidak ada hal yang lebih karib selain pasrah kepada Tuhan.

Bila awan tidak menangis, mana mungkin taman bisa tersenyum. Sampai anda telah menemukan rasa sakit, anda tidak akan mencapai obatnya. Sampai hidup anda sudah menyerah, anda tidak akan bersatu dengan jiwa tertinggi.

Begitulah Rumi memberikan pemahaman akan arti kehilangan. Bagi Rumi kehilangan bukan sebuah tragedi tapi suatu keniscayaan untuk tetap teguh. Katanya, tak usah khawatir dalam teori evolusinya Rumi mengatakan, "Jangan berduka, apapun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud lain".

Tentang kehilangan ini kita juga mengingat pesan indah KH. Djamaluddin Ahmad dalam pengajian Hikam-nya. لكل شيء إذا فارقته عوض * وليس للّه إن فارقته من عوض Apa saja yang terpisah dari badanmu ia pasti akan ada gantinya. Sedangkan jika engkau kehilangan Allah maka tak ada gantinya.

Di sinilah kita belajar keteguhan dari tragedi kehilangan yang menimpa keluarga Ridwan Kamil. Kita hanya berdoa semoga Eril ditempatkan di tempat yang mulia dan mungkin ia telah kamil ila Allah. Al Fatihah.

the woks institute l rumah peradaban 9/6/22


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Pecinta Amatiran

Woko Utoro  Kiai M. Faizi pernah ditanya apa yang ingin beliau lakukan setelah memahami sastra. Kata beliau, "Saya ingin menjadi amatir". Bagi Kiai M. Faizi menjadi amatir berarti tidak akan disebut mahir. Orang amatir akan selalu dianggap masih belajar. Orang belajar bisa saja salah. Walaupun begitu salah dalam belajar akan disebut wajar. Berbeda lagi ketika orang disebut mampu alias mumpuni. Masyarakat menganggap jika orang ahli bahkan profesional haruslah perfect. Mereka selalu dianggap tak pernah salah. Dan memang sesuai dengan pikiran kebanyakan orang jika sempurna itu harus tanpa noda. Akibat stigma ahli dan profesional masyarakat berespektasi harus sempurna. Masyarakat lupa bahwa setiap orang tidak bisa menghindar dari celah. Dalam arti bahwa setiap orang bisa saja pernah salah. Soal ini tentu yang terbaru adalah kasus Gus Miftah. Kasus Gus Miftah dianggap menghina pedagang es teh karena umpatan gobloknya menjadi viral. Pertanyaan kita mengapa netizen selalu brutal dal...

Kebudayaan Agraris Padi Digantung di Rumah

Woks Kebudayaan kita memang kaya baik budaya yang lahir dari peradaban pesisir, sungai ataupun petani. Kebudayaan agraris utamanya di Jawa dan Bali pasti tidak akan melupakan sosok Dwi Sri sebagai jelmaan atau simbol kesuburan. Nama ini selalu menjadi tokoh utama apalagi ketika musim tanam dan panen tiba. Dalam berbagai sumber termasuk cerita yang berkembang, orang-orang Jawa khususnya sangat menghormati tokoh Dwi Sri sebagai aktor lahirnya padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari. Ia juga dipercaya sebagai penunggu daerah gunung dan bumi begitu juga dengan Nyai Roro Kidul penguasa lautan. Salah satunya tradisi yang sering kita jumpai yaitu budaya menggantungkan padi di atas dapur, depan pintu rumah dan lumbung padi. Tradisi ini tentu sudah berkembang sejak lama. Entah apa motifnya yang jelas orang-orang tua dulu begitu menghormati dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, padi dikenal dengan nama “paparelean’ karena kakek nenek sangat bingun...