Langsung ke konten utama

Mbah Marfiatun Yang Santun

Woko Utoro

Alhamdulillah saya dan Ang Irfan bisa hurmat ta'jiyah ke rumahnya Mbah Marfiatun di Kebonagung Udanawu Wonodadi Blitar. Walaupun informasinya telat tapi kami sampai di sana tepat di peringatan ke tujuh harinya. Tepat di malam Jum'at setelah magrib kami langsung meluncur ke sana. Walaupun sebenarnya tidak tahu kapan acara tahlilan dilangsungkan. Kami berangkat dengan bergegas dan percaya diri. Singkat kisah ternyata kami bisa mengikuti acara dari awal hingga akhir termasuk tahlil dan khatmil qur'an.

Tentang siapa sosok Mbah Marfiatun tentu menarik untuk dicatat di sini. Sebab sosok beliau memang luar biasa. Sosok yang langka tentunya ketika melihat jaman sekarang yang penuh tipu daya. Mbah Marfiatun adalah garwanipun Mbah Kyai Imam Ahmad atau ibu dari KH Hafidz Baehaqi, Pak Huda dan putra-putri lainnya yang belum saya kenal. Beliau dipanggil oleh orang-orang sekitar dengan panggilan Yu Tun atau Mbah Tun.

Foto : Siswa-siswi MI Syafi'iyah Kebonagung sedang ta'jiyah di ndalem Mbah Marfiatun.

Kata Mba Nurul Arofah (Mba Uyung) Mbah Marfiatun adalah sosok yang bersahaja terutama dalam menghormati tamu. Jika sudah ada tamu baik itu berbagai kalangan dan latar belakang beliau pasti langsung suguh, lungguh, gupuh. Di mata Mbah semua tamu sama dan harus dihormati. Bahkan jika di rumah tidak ada apa-apa beliau mengusahakan ada sesuatu yang disuguhkan untuk tamu.

Saya kenal Mbah sejak tahun 2015 tepat ketika menginjakkan kaki di Tulungagung untuk kuliah. Kata Pak Dede kenal keluarga Mbah sangat penting dan memang harus terhubung. Sebab ada jejaring keilmuan yang titik temunya kepada para guru di Nurul Hikmah. Tapi berjumpaan awal saya dan Mbah baru terjadi setahun kemudian sekitar 2016. Saya ingat kami beserta rombongan silaturahmi ke Gandhekan Setinggil rumah Mba Uyung-Mas Didin. Setelah itu barulah kami menuju rumahnya Mbah Marfiatun dengan menggowes sepeda. Saya ingat angkatan Mas Amir, Mas Edi, Mba Nailil, Ang Kasim, Agus, Hendi, Yayu Sa'adah, Anggun, Ti'ah, Mar'i, Agung, Eva, Yatul, Afroh, Amalia dll masih begitu imut-imut tapi penuh semangat.

Ketika sampai di rumah Mbah kami disambut hangat dan berbincang tipis-tipis. Sayangnya di sana kami lebih banyak diam sambil nyruput kopi dan makan gorengan hangat. Karena di antara kami masih belum ada yang bisa boso kromo. Akhirnya perjumpaan itu sangat terbatas dan sederhana. Tidak ada pesan khusus buat kami tapi yang jelas Mbah memberi motivasi agar dalam menimba ilmu harus semangat.

Semangat itulah barangkali warisan para alumni dari Haurgeulis yang pada saat itu nyantri di Pondok Pesantren Abul Faidl asuhan KH Ihsan Abdul Mu'ti. Bahkan KH Usfuri Anshor pengasuh PP Al Ishlah Jatireja Compreg juga alumni pondok Abul Faidl. Jadi ketersambungan sanad tersebut menjadi penting ketika terus dan hingga saat ini dirawat.

Yang unik dari Mbah saya ingat kalau tidak salah tahun 2017. Pada saat itu teman kami Nikmah Sa'adah, Hammam dan Atiq mencoba mewawancarai beliau. Pada saat itu wawancara tersebut dalam acara tugas mapel metpen kualitatif. Kebetulan saya dengar jika Mbah adalah Mursyidah atau imam khususi perempuan Thariqah Naqsyabandiyah jalur Mbah Yai Ghofur Mantenan.

Saat ditanya oleh teman saya tentang thariqah dan peran beliau sebagai imam khususi. Mbah hanya bicara pelan dan singkat. Kata Mbah thariqah itu ilmu sirr, maka jika ingin dijelaskan teman-teman mahasiswa harus baiat dulu. Mendengar jawaban tersebut akhirnya teman-teman tersebut ingah-ingih. Singkat cerita akhirnya penelitian tersebut urung dilakukan. Bagi saya ini bentuk ketegasan dari beliau. Karena ruang privat memang benar-benar ada dan harus dihormati.

Dari secuil kisah tersebut tentu saya mengenang beliau sebagai sosok teduh dan luar biasa. Saat memandang wajah beliau ada ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Dan akhirnya sosok luar biasa itu kini telah berpulang meninggalkan banyak teladan. Semoga berjumpaan yang singkat ini dapat terjalin erat kini dan nanti. Sugeng kundur Mbah, swargi langgeng. Lahal fatihah.[]

the woks institute l rumah peradaban 3/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...