Langsung ke konten utama

Hidup Adalah Bekerja Untuk Ibadah


Woko Utoro

Shubuh tadi ketika pertandingan seru piala dunia antara Belgia vs Senegal kami mengikuti ngaji Al Minahussaniyyah bersama Abah Sholeh. Sebenarnya saya sudah khatam ngaji kitab karya Sayyid Abdil Wahhab as Sya'rani ini beberapa tahun lalu. Akan tetapi ketika dikaji kembali selalu ada saja mutiara yang tertinggal. Kebetulan semalam kita diingatkan tentang tema bekerja. 

Orang Jawa mengistilahkan bekerja dengan "nyambut gawe". Sebuah istilah yang ternyata ketika diselami sangatlah unik. Dalam Kitab Minahussaniyyah yang merupakan syarah atas Washiyatul Musthafa tersebut menjelaskan hal menarik tentang bekerja. Kata Abah yang sekaligus menukil pendapat jumhur ulama bahwa bekerja itu wajib. Bekerja itu wasilah atau sarana atau syariat untuk mempertahankan kehidupan.

Orang tidak boleh tidak bekerja. Orang tidak boleh malas bekerja. Karena orang yang tidak bekerja lir ibarat mesin tapi tidak digunakan. Sebenarnya orang punya manfaat minimal atas dirinya tapi karena tidak digunakan akhirnya jadi tidak bermanfaat. Dalam kitab tersebut bahkan disentilمن لا كسب له فهو كالمراة لا حظ له فى الرجولة
Bahwa orang yang tidak memiliki sarana untuk mencari nafkah itu ibarat wanita; ia tidak memiliki bagian dalam kejantanan. Dalam bahasa sederhana "ra kerjo ra lanang, ra kerjo ra jantan".

Maksudnya seperti perempuan bukan berarti merendahkan. Melainkan fungsi bekerja antara perempuan dan laki-laki itu berbeda. Bahwa pekerja perempuan itu sangat terbatas misalnya adanya siklus haid, wiladah, nifas dll. Sedangkan laki-laki lebih luas langkahnya dan bekerja itu menjadi kewajibannya.

 ان الكسب واجب وجوبا مؤكدا ملحقا برتبة الايمان
Mencari nafkah merupakan kewajiban yang sangat mengikat, setara kedudukannya dengan iman itu sendiri.

Coba jika seseorang bekerja murni berniat karena Allah dan mencari nafkah untuk keluarga maka hal tersebut bagian dari iman. Jadi orang yang bekerja semata-mata karena niat yang baik sama dengan berjihad mempertahankan iman. Jangan dikira bekerja hanya soal urusan duniawi. Tapi bekerja itu berelasi dengan ukhrawi asalkan niat kita benar sejak awal.

 حكم الفقير الذى لا حرفة له حكم البومة الساكنة فى الخراب
Orang miskin yang tidak memiliki keahlian ibarat burung hantu yang tinggal di reruntuhan.

 من اكتسب و قام بفراىٔض ربه تعالى عليه فقد كملت مجاهداته
Siapa pun yang mencari nafkah dan menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya oleh Tuhannya—Maha Tinggi Dia—berarti telah menyempurnakan perjuangan spiritualnya.

Kata Syeikh Abil Hasan Syadzili dijelaskan bahwa bekerja itu adalah jalan spiritual. Jadi jika seseorang bekerja tulus ikhlas dan menikmati pekerjaan tersebut sebagai wasilah bukan ghoyah ia bagian dari perjalanan batin yang bisa menghantarkan ke hadratillah. Maka dari itu jangan main-main dengan bekerja. Dan bekerja itu tidak harus banyak. Bekerja itu poin pentingnya ada pada konsistensi. Dalam hal apapun Allah selalu memberi jalan bagi hambanya yang mau berikhtiar.

Coba bayangkan luar biasa maqola tersebut sehingga membuat kita termotivasi untuk bekerja. Dalam hal apapun pekerjaan selama itu halal, mashlahat maka perjuangkan. Problemnya hari ini kita gengsi dalam bekerja dan selalu pilah-pilih. Kita lebih memilih menganggur hanya karena gajinya kecil. Padahal jika kita renungkan maqola tersebut jelas bekerja itu banyak fadhilahnya.

Hal terpenting dari semua itu adalah bekerja semata-mata niat ingin dekat dengan Allah. Bekerja sebagai sarana penunjang ibadah. Bekerja agar tidak tamak kepada sesama. Dan bekerja agar tidak menyusahkan orang lain. Apapun pekerjaannya kata Pram selama tidak mencuri, merampok adalah terhormat.

Maka dari itu mumpung masih muda, kuat dan energik bekerja lah dengan sederhana. Bekerja sebagai bentuk bakti kita kepada Allah dan sesama. Karena pada dasarnya kita bekerja semata-mata ingin berstatus hamba, bukan raja. Karena raja diraja hanya Allah yang esa.[]

the woks institute l rumah peradaban 2/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...