Langsung ke konten utama

Nikmat Keseharian

Woko Utoro

Gus Baha pernah menjelaskan dalam akhir Kitab Al Basith bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernh cemburu. Mengapa Nabi Sulaiman diberi mukjizat bicara dengan binatang, mengendalikan angin atau Nabi Musa membelah laut dengan tongkat dll. Lantas tanpa berlama-lama Allah SWT langsung menjawab kecemburuan Kanjeng Nabi tersebut.

Kata Allah, "Hai Muhammad tidakkah engkau ingat bahwa dulu kamu yatim. Kamu dibesarkan kakek dan pamanmu. Tidakkah ingat jika dulu engkau miskin sedangkan sekarang telah memiliki sesuatu. Bukankah dulu engkau tidak mengerti apa-apa dan sekarang jadi memahami akan al Qur'an". Dari itulah Kanjeng Nabi menjadi paham ternyata nikmat kesehatan sungguh luar biasa. Bahwa terkadang keyakinan kepada Allah SWT hanya membutuhkan nikmat keseharian yang nampak sederhana.

Gus Baha lalu mengajak kita refleksi. Memang jika kita bisa terbang, atau bisa membelah laut atau membuat burung dari tanah liat hendak apa. Apa dengan mukjizat itu umat akan terdidik. Apa dengan yang dianggap waw umat akan terpelajar, tentu tidak. Hanya karena nikmat keseharian yang diilmuilah umat akan menyadari betapa hebatnya Allah SWT. Bahkan karena nikmat keseharian itulah Allah SWT menyempurnakan Nabi Muhammad SAW agar tidak terpeleset sebagaimana umat Nasrani menuhankan Isa.

Dari nikmat keseharian itulah kita belajar bahwa di hadapan Allah tak ada bedanya. Bahwa kita semua sama bahkan dengan seorang raja darah biru. Yang membedakan hanya ketakwaan. Orang yang mempelajari ilmu lalu berpikir mendalam tentang nikmat keseharian justru lebih utama dari memikirkan hal-hal besar tapi sebatas angan-angan. Justru kuatnya imam seringkali hadir dengan hal-hal sepele misalnya, "iya ya bagaimana Allah menciptakan sapi yang menghasilkan susu padahal di dalamnya ada darah dan kotoran". []

the woks institute l rumah peradaban 29/7/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...