Langsung ke konten utama

Sowan Bunda Abah dan Pamitan

Woko Utoro

Sore itu saya sowan ke ndalem Bunda Salamah dan Abah Zainal. Beliau pengasuh Pesantren Subulussalam Manggisan Tulungagung tempat di mana saya berproses. Tapi sore itu saya izin pamit undur diri karena akan pulang menetap ke rumah istri di Probolinggo. Akhirnya setelah menunggu lama saya bertemu dengan beliaunya.

Setiba di sana saya langsung disambut Abah Zainal. Kami pun langsung berbincang hangat. Tanpa berlama-lama saya mengutarakan maksud dan tujuan. Saya membuka dengan kata maaf karena pada saat itu Bunda dan Abah belum sempat dikabari jika saya menikah. Tapi akhirnya beliau paham sebab ada alasan khusus mengapa saya tidak undang beliau.

Kedua saya berterimakasih karena diberikan tempat dan ruang untuk berkhidmat di pondok. Kata beliau semoga jika itu ada kebaikan maka kelak jadi jariyah. Saya pun mengamini dawuh beliau. Lalu saya pun izin untuk pamit dari Tulungagung karena akan mukim di kampung istri. Termasuk izin untuk tidak mengajar di semester depan.

Dari semua itu beliau pun berkisah ketika masa muda dulu hingga sekarang. Kata beliau begitulah kehidupan dan kita tak pernah tahu kemana akan berlabuh. Sekarang tugas kita hanya perlu menyelami dan mengikuti jejak langkah itu. Pak Zainal berkisah jika banyak di antara temannya dulu kini sukses menjadi pengasuh pondok. Tapi yang terpenting dari itu adalah bermanfaat untuk masyarakat.

Di manapun tempatnya sama yaitu berkhidmat untuk masyarakat. Dengan posisi atau status apapun kebermanfaatan harus diperjuangkan. Bunda menyebut selama kita memiliki himmah yang kuat 2 akan terus bertahan. Orang itu harus optimis dan jangan mudah putus asa. Bahwa ujian itu selalu ada ya harus dijalani semampu kita. Pokoknya dengan tekad kuat dan bismillah insyaallah semua akan terbuka jalannya.

Bunda juga berkisah bahwa dulu ketika merintis pondok tidaklah mudah. Ada saja tantangan yang menghadang tapi karena kita gigih insyaallah semua dimudahkan. Beliau juga berkisah tentang santri kekinian yang sangat berbeda dengan era lampau. Santri saat ini banyak ngeluhnya. Padahal segala fasilitas sudah terpenuhi. Santri sekarang itu kurang memiliki adab sehingga jauh dari keberkahan. Apalagi jika bicara ilmu tentu sangat formalitas sekali.

Tapi itulah fakta yang terjadi di masyarakat dan tugas kita tetap ikhlas semangat untuk membimbing mereka. Akhirnya dari pesan dan kisah tersebut saya pun berpamitan karena hari sudah magrib. Semoga perjumpaan ini membawa berkah terutama buat saya yang fakir ini.[]

the woks institute l rumah peradaban 22/7/26


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...