Langsung ke konten utama

Haji Magis

Woko Utoro

Beberapa waktu lalu kami bisa sowan haji kepada beliau Prof Dr H Ngainun Naim. Walaupun momentumnya sudah lewat tapi perasaan itu masih begitu hangat. Terbukti saat kami tiba di sana saya bilang, "Prof, belum terlambat nggih". Beliau menjawab dengan senyuman, "Yo urung". Hingga singkat kisah saya melontarkan dua pertanyaan kepada beliau lebih berat mana dipanggil Prof atau Haji? dan bagaimana gambaran haji di era modern ini?

Kata beliau dipanggil Prof atau Haji sama-sama beratnya. Tapi tips nya sederhana agar tidak jadi beban abaikan saja titel itu. Anggap saja tidak terjadi apapun. Walaupun kita tidak bisa menghindar dari sebutan itu di masyarakat. Yang jelas berlaku baik dan lurus sebagaimana mestinya itu sudah cukup. Selanjutnya soal ibadah haji di era modern ini unik. Keunikannya setidaknya pada penggunaan teknologi dan kajian yang tiap tahun selalu ada saja yang baru. Hingga bagi beliau ibadah haji tahun ini termasuk penyelenggaraan terbaik daripada sebelumnya.

Prinsipnya jika kita sudah memiliki dana dan memang ingin haji segera saja daftar. Minimal daftar dulu urusan selanjutnya biarkan Allah yang mengaturnya. Bahwa haji itu panggilan. Tidak setiap orang bisa dipanggil. Bahkan yang menurut kita kaya sekalipun. Contoh ada kasus seorang muthowif di sebuah agen haji umrah justru tidak bisa berangkat hanya karena visa nya tidak turun. Padahal jika dilogika ia merupakan seorang pengelola. Ada lagi misalnya orang yang menunggu puluhan tahun ternyata bisa berangkat tahun ini. Orang yang tiap hari mulung sampah justru lebih dulu di sana. Serta banyak lagi kasus lainnya.

Haji itu seringnya merupakan pengajaran kita selama hidup. Misalnya jika selama di rumah orangnya ruwet insyaallah di sana juga akan diruwet. Bahwa Mekah itu tanah haram sangat jelas sekali. Sehingga orang bisa ditakdirkan haji itu spesial dan tidak sembarang. Inilah cara Allah menunjukkan kuasanya walaupun jaman dianggap sudah modern. Faktanya modernitas tidak berlaku jika sudah di sana. Bahkan seringkali ritual haji memutar logika umum. Dan memang jika di sana yang berlaku adalah logika ketuhanan. Jangankan tindakan yang berupa ucapan atau pikiran bisa langsung terjadi.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 II

Woko Utoro Dalam setiap perlombaan apapun itu pasti ada komentar atau catatan khusus dari dewan juri. Tak terkecuali dalam perlombaan menulis dan catatan tersebut dalam rangka merawat kembali motivasi, memberi support dan mendorong untuk belajar serta jangan berpuas diri.  Adapun catatan dalam perlombaan esai Milad Formasik 14 ini yaitu : Secara global tulisan mayoritas peserta itu sudah bagus. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Terutama soal ketentuan yang ditetapkan oleh panitia. Rerata peserta mungkin lupa atau saking exited nya sampai ada beberapa yang typo atau kurang memperhatikan tanda baca, paragraf yang gemuk, penggunaan rujukan yang kurang tepat dll. Ada yang menggunakan doble rujukan sama seperti ibid dan op. cit dll.  Ada juga yang setiap paragrafnya langsung berisi "dapat diambil kesimpulan". Kata-kata kesimpulan lebih baik dihindari kecuali menjadi bagian akhir tulisan. Selanjutnya ada juga yang antar paragraf nya kurang sinkron. Se...

Catatan Lomba Esai Milad Formasik ke-14 I

Woko Utoro Senang dan bahagia saya kembali diminta menjadi juri dalam perlombaan esai. Kebetulan lomba esai tersebut dalam rangka menyambut Milad Formasik ke-14 tahun. Waktu memang bergulir begitu cepat tapi inovasi, kreasi dan produktivitas harus juga dilestarikan. Maka lomba esai ini merupakan tradisi akademik yang perlu terus dijaga nyala apinya.  Perasaan senang saya tentu ada banyak hal yang melatarbelakangi. Setidaknya selain jumlah peserta yang makin meningkat juga tak kalah kerennya tulisan mereka begitu progresif. Saya tentu antusias untuk menilainya walaupun disergap kebingungan karena terlalu banyak tulisan yang bagus. Setidaknya hal tersebut membuat dahaga ekspektasi saya terobati. Karena dulu saat saya masih kuliah mencari esais itu tidak mudah. Dulu para esais mengikuti lomba masih terhitung jari bahkan membuat acara lomba esai saja belum bisa terlaksana. Baru di era ini kegiatan lomba esai terselenggara dengan baik.  Mungkin ke depannya lomba kepenul...