Langsung ke konten utama

Menulislah Selagi Lapang

Woko Utoro

Awalnya judul tulisan ini adalah, "Menulislah Selagi Jomblo" tapi ketika saya pikir ulang menjadi tidak tepat. Karena kejombloan bicara status sedangkan lapang adalah waktu. Waktu seperti kita tahu sesuatu yang melekat kepada siapapun tanpa perlu tahu status sosialnya.

Bicara soal waktu tentu kita ingat Surah Al Asr, demi masa atau dalam bentuk lagu yang dilantunkan Raihan (2001). Demi masa menjadi pengingat kita tentang salah satunya lapang sebelum sempit. Dalam konteks menulis saya tentu merasakan hal itu. Saya merasa hari-hari ini dengan status sebagai suami rasanya hidup seperti diburu waktu. Saking sibuk atau padat atau apa saya tidak paham rasanya untuk menulis begitu sulit. Padahal waktu 24 jam terbilang sangat banyak.

Saya tidak membayangkan jika nanti sudah memiliki momongan. Pasti akan lebih repot lagi bukan sekadar waktu tapi kesempatan untuk tetap konsisten. Semoga saja aktivitas menulis masih terus dijalankan walaupun mungkin sedikit tertatih. Tapi hal itulah yang saya rasakan hari ini. Atau mungkin kebanyakan orang yang memulai hidup sibuk terutama jika dihadapkan urusan dapur.

Saya ingat dulu ketika tahun 2018-2019 barangkali menjadi fase paling produktif dalam hidup. Dalam hal menulis saya hampir tidak pernah putus bahkan sampai bisa mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Tapi saat ini untuk menulis satu artikel saja rasanya sulit bukan main. Entah faktor apa yang jelas saya masih berusaha sekuat mungkin untuk tetap menulis. Walaupun hanya seminggu sekali rasanya hal itu masih baik daripada tidak sama sekali.

Akhirnya saya berpesan pada diri sendiri dan orang yang akan berstatus sama dengan saya. Berkaryalah selagi masih memiliki banyak waktu. Berkarya dalam bentuk apapun. Terutama di waktu luang yang dapat menunjang aktivitas menulis. Karena esok atas segala kesibukan atau atas nama kebutuhan kita pasti mudah berkilah. Kita mudah mengkambinghitamkan vakum menulis hanya karena sesuatu misalnya sibuk, tak punya waktu, tidak ada uangnya, disorientasi hingga merasa buang-buang waktu. Padahal dalam keadaan apapun selama tekad kuat tradisi menulis pasti akan berjalan.

Orang yang punya tekad dan semangat pasti akan mengupayakan bagaimana pun caranya. Karena menulis jika sudah jadi tradisi pasti akan ada saja cara yang dilakukan. Selama tidak berbuat curang menulis akan selalu jadi camilan harian atau minimal mingguan. Menulis jika sudah jadi passion pasti selalu ada jalan yang memudahkan untuk merawatnya.

Terakhir setelah saya renungkan ternyata menulis dan waktu padat bukan sebuah alasan. Karena para bijak bestari sudah mencontohkan banyak orang yang justru semakin produktif di sela-sela kesibukannya. Waktu dan menulis harus diciptakan bukan ditunggu. Itulah yang menjadi kunci mengapa para kesepuhan bisa tetap produktif menulis sekalipun di usia senja.

Sebaliknya nganggur adalah pangkal menyangkal alias banyak alasan. Pengangguran pikiran itulah sesungguhnya yang membuat kita sulit maju. Bahwa kekalahan produktivitas justru sering terjadi karena kita membiarkan nafsu membesar. Di sanalah letak utama mengapa seseorang tidak menulis bukan soal ketidakpastian waktu. Waktu itu pasti dan yang sering sulaya adalah lisan kita.[]

the woks institute l rumah peradaban Islam 5/8/26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bocil FF Belajar Ziarah

Woko Utoro Beberapa hari lalu saya berkesempatan kembali untuk mengunjungi Maqbarah Tebuireng. Dari banyak pertemuan saya ziarah ke sana ada pemandangan berbeda kali ini. Saya melihat rombongan peziarah yang tak biasa yaitu anak-anak TK atau RA. Pemandangan indah itu membuat saya bergumam dalam hati, "Kalau ini mah bukan bocil kematian tapi bocil luar biasa, sholeh sholehah". Sebagai seorang sarjana kuburan (sarkub) dan pengamat ziarah tentu saya merasa senang dengan pemandangan tersebut. Entah bagaimana yang jelas para bocil berziarah adalah sesuatu yang unik. Jika selama ini dominasi peziarah adalah orang dewasa maka zairin bocil FF adalah angin segar khususnya bagi keberagamaan. Lebih lagi bagi jamiyyah NU yang selama ini setia dengan tradisi ziarah kubur. Saya melihat seperti ada trend baru terkhusus bagi peziarah di kalangan siswa sekolah. Jika santri di pesantren ziarah itu hal biasa. Tapi kini siswa sekolah pun turut andil dalam tradisi kirim doa dan ingat mati itu. Wa...

Hierarki Rasa Menerbitkan Buku Perspektif Psikologi

Woks Bagaimana rasanya menulis, bagaimana rasanya jika tulisan tersebut dibukukan, terbit, beredar ke muka umum hingga tiba di hati pembaca. Tentu segala rasa itu sangat subjektif tapi sedikitnya bisa dijabarkan walaupun setiap orang punya pengalaman tersendiri. Saya punya 3 pendapat bagaimana rasanya punya buku dan sampai dibaca oleh orang lain. Secara psikologis hal itu dapat kita jabarkan secara singkat. Secara hierarkis 3 tingkatan rasa tersebut bisa kita lihat dari sejak kehadiran buku pertama hingga buku ke sekian. Pertama, akan muncul rasa bangga, senang, haru, campur aduk bahkan agak sedikit pamer atau semi-semi riya. Akan tetapi di fase ini penulis masih belum hilang rasa mindernya karena kepercayaan diri belum terbangun seutuhnya. Rasa percaya diri hanya terbangun untuk menerbitkan saja sehingga godaan untuk konsisten menulis bisa dilihat di sini. Fase ini biasanya terjadi pada buku pertama, bahkan buku antologi alias buku keroyokan pun jika lahir pertama begitu nampak berha...

Tuan Krabb, Uang dan Ajaran Zuhud

             ( Sumber gambar canva.com) Woks Jika anda penikmat serial kartun Spongebob Squarepants tentu tak asing dengan tokoh Eugene H. Krabs atau biasa disapa tuan Krab. Ia adalah tokoh kartun dengan jenis kepiting. Ia merupakan majikan dari Spongebob dan Squidward, pemilik restoran cepat saji paling terkenal selautan yaitu Krusty Krabs. Restoran yang menyajikan Krabby Patty alias Burger itu selalu berseteru dengan saingan utamanya yaitu Seldon Plankton. Tapi bukan itu yang dibahas, melainkan perilaku dari sang pemilik restoran yaitu tuan Krabs. Tuan Krab seperti judul tulisan ini ialah sosok yang digambarkan sebagai pecinta uang. Bahkan kecintaan kepada uang melebihi sayangnya pada anak semata wayangnya yaitu Pearl. Stephen Hillenburg sebagai pencipta tokoh kartun tersebut begitu ciamik dalam menyajikan karakter pada tokoh tuan Krab tersebut. Ia bahkan berhasil menciptakan penonton yang membuat gemas saat tuan Krab kikir terhadap karya...